
“Shazia bisakah kau mendengar penjelasanku tanpa menyela sedikit pun.”
Shazia terdiam lalu membuang muka, “Ya, ya, lanjutkan.”
“Memang awalnya akulah yang meminta kerja sama agar ia ingin menjadi Brand ambasador di perusahaan. Melihat kepopularitasannya sebagai artis tentu saja itu menguntungkan bagi perusahaan.”
“Tapi entah apa yang membuatnya begitu tergila-gila padaku, sejak penjualan produk meningkat, ia sering kali mendekati dan menggodaku,”
“Obsesinya yang berlebihan kadang banyak membuatnya melakukan hal nekat. Dan hingga kini dia terus saja mencari gara-gara agar cintanya diakui.”
“Lalu jika kau kesal padanya, kenapa kau bisa memeluknya dengan mesra?”
“Apakah saat itu kau langsung pergi tanpa melihat sampai akhir?”
Shazia teridam mendapatkan Taran balik bertanya padanya.
“Pantas saja kau bisa menyimpulkan semuanya sendiri.”
“Dengar, saat itu dialah yang memelukku lebih dulu, aku berusaha melepaskan pelukannya tapi ia memelukku dengan sangat erat.”
“Mungkin karena dia mendengar percakapan lewat telepon bahwa kau ingin datang ke ruangan, dia sengaja memelukku agar kau salah paham.”
“Oh, pantas saja saat itu dia menatapku dengan wajah angkuh, rupanya dia sengaja ingin membuatku salah paham!”
"Awas saja jika aku bertemu dengannya, akan kubalas perbuatannya itu!" gerutu Shazia.
“Sekarang sudah jelas kan?” tanya Taran.
Shazia tetap tak menjawab, walau ia tahu kebenarannya ia masih saja merasa kesal.
“Dengar Shazia, lain kali jangan menyimpulkan semuanya sendiri, jika kau butuh penjelasan tanyakan langsung padaku, aku akan menjawabnya dengan jujur.”
“Bagiku pernikahan bukanlah permainan, aku tidak akan melanggar apa yang menjadi sumpahku Shazia.”
“Jika aku adalah pria bajing*an seperti yang kau pikirkan, aku tidak akan memakai cincin ini di jariku, dan aku pun tak akan membiarkan malam pertamaku lewat begitu saja,”
“Bahkan mungkin sekarang dari pada bersamamu, aku tidak akan pulang dan lebih memilih menghabiskan malamku dengan wanita lain di luaran sana.”
__ADS_1
Melihat Shazia masih membuang muka darinya, Taran memegang dagu Shazia dan mengarahkan padangan istrinya itu ke arahnya.
“Shazia kau mendengarku kan?” tanya Taran dengan mata yang menatap intens Shazia.
Melihat wajah Taran yang seperti itu dari dekat membuat jantung Shazia berdegup kencang. Ia segera menepis tangan Taran.
“Ya, aku mendengar,” balas Shazia sembari beranjak dari sofa.
“Kau ingin ke mana?” tanya Taran yang melihat sang istri mengambil bantal.
“Tentu saja ingin tidur.”
“Kau ingin tidur di mana?”
“Aku ingin tidur bersama Zihan saja, aku masih kesal melihat wajahmu!” sahut Shazia sembari menjulurkan lidahnya.
“Ya, terserah kau saja, dasar Zihan kedua.”
“Biarkan saja, aku kan ibunya walaupun dia bukan anak kandungku, aku ini tetap ibunya,” tegas Shazia.
Wanita itu kemudian pergi ke kamar putranya, ia langsung tidur di samping putranya yang lebih dulu terlelap.
Saat sang fajar kembali datang, Shazia yang di bangunkan oleh Zihan terlihat kembali ke kamarnya, di sana ia tak mendapati sang suami.
“Eh, apa dia sudah pergi ke kantor?”
“Ah, sudahlah apa peduliku,” celoteh wanita itu sembari menguap.
Shazia mengembalikan bantal di tempatnya dan merapikan tempat tidur. Ya, walaupun semua pekerjaan akan dilakukan oleh pelayan, setidaknya Shazia dapat membantu mereka sedikit dengan apa yang dilakukannya.
Saking seriusnya merapikan tempat tidur, Shazia tak menyadari Taran yang masuk ke kamar dan berhenti di belakangnya, wanita itu pun terkejut kala ia berbalik.
“Tuan kenapa kau selalu muncul seperti hantu? Kau selalu saja mengejutkanku.”
“Siapa suruh kau mudah terkejut.”
Shazia yang mulai kesal akan jawaban Taran menghela nafas panjang. “Huh, tenanglah Shazia jangan mudah marah.”
__ADS_1
Shazia lalu menatap suaminya sembari tersenyum, “Baiklah Tuan apa yang kau inginkan?”
“Bagaimana kau bisa tahu jika aku ingin berbicara padamu?”
“Tentu saja aku tahu, karena jika membutuhkan sesuatu, kau selalu berada di dekatku dengan wajah datar itu, contohnya seperti sekarang.”
“Baiklah, jadi apa yang ingin Tuan, maksudku ayahnya Zihan bicarakan?”
Taran mengambil sebuah kartu dari dompetnya dan memberikan ke lengan Shazia.
“Black card, untuk apa?” tanya Shazia sembari memperhatikan kartu yang ada di lengannya itu.
“Tentu saja untukmu, sebenarnya aku ingin memberikan ini di awal pernikahan, tapi kartu ini baru jadi beberapa hari yang lalu.”
“Untukku,” Shazia tertawa.
“Tidak perlu memberikan ini, Tuan. Karena aku juga bekerja, uang yang kudapat sudah sangat cukup untuk keperluanku,” balas Shazia yang kembali memberikan ke tangan Taran.
“Aku tahu kau memang bekerja, tapi ini memang berhak kau dapatkan, bukankah sudah kewajiban bagi seseorang suami untuk menafkahi istrinya. Sampai kapan kau akan terus bergantung pada dirimu sendiri, setidaknya terimalah ini.”
Shazia tak dapat mengelak perkataan Taran, apa yang dikatakannya benar adanya.
“Tuan, maksudku ayahnya Zihan, aku sudah sangat bersyukur kau dapat mengizinkan aku untuk bekerja, karena di luaran sana banyak wanita yang setelah menikah tak mendapatkan izin dari suaminya untuk bekerja.”
“Dengan itu saja aku sudah sangat bersyukur, Tuan. Kau mau mengerti aku, kau mau mengerti tentang sifatku yang terkadang kekanakan, jadi itu saja sudah cukup untukku.”
“Jika kau benar-benar bersyukur maka terimalah, aku tidak menerima penolakan,” balas Taran yang kembali memberikan kartu tersebut ke tangan Shazia.
“Baiklah aku akan menerimanya. Sekarang kau puas? Jika aku menggunakan ini untuk memberikan gaji pada karyawanku, bisakah?”
Taran mengangguk.
“Lalu jika aku memberikan bonus untuk mereka dengan kartu ini bisakah?”
“Ya, tentu bisa.”
“Jika aku mentraktir mereka dengan kartu ini apa bisa?”
__ADS_1
“Shazia, terserah kau ingin menggunakan uangnya bagaimana, karena itu sudah menjadi hakmu, dan kau tak perlu persetujuanku.”
“Benarkah kalau begitu terima kasih,” balas Shazia yang kemudian melanjutkan pekerjaannya.