
“Kak apa benar ini panti asuhannya?” tanya Aslan memastikan.
“Ya, ayahku mengatakan jika dia mengantarnya di sini.”
“Tapi pengurus panti ini bilang, jika tidak ada anak bayi yang dibawa kemari di tanggal tersebut.”
“Jika kakak tak percaya, kakak bisa menanyakan langsung pada pengurusnya,” ucap Aslan sembari menunjuk seorang wanita yang datang menghampiri keduanya.
“Selamat siang, Nyonya. Apa ada sesuatu yang bisa kami bantu?”
“Oh, maaf. Aku ingin tahu adakah sepuluh tahun yang lalu di tanggal 15 Februari seseorang membawa anak bayi ke sini.”
“Kami sudah mencari datanya tidak ada anak bayi yang di bawa pada tanggal tersebut, bahkan kami sudah mengecek hari-hari setelahnya juga tidak ada.”
“Benarkah, kalau begitu terima kasih untuk informasi yang kau berikan.”
Wanita tersebut mengangguk.
Shazia dan Aslan pun memutuskan untuk pergi dari panti asuhan.
“Kak selanjutnya kita akan ke mana?”
“Kita akan datang menemui Ayahku,” balas Shazia.
Ya, seperti yang diperintahkan Taran, Aslan ikut membatu Shazia mencari anak kandungnya.
Di rumah sang Ayah, Shazia langsung menemui Erhan.
“Ayah aku sudah pergi ke panti yang kau maksud. Tapi anakku tidak ada di sana sejak awal.”
“Tapi ayah benar-benar mengantarkan anakmu ke sana.”
“Ayah benar-benar memberikannya pada pengurus panti, atau meninggalkannya begitu saja?”
“Ah, ayah memang tidak mengantarnya sampai masuk, Sahabatmu yang mengantarkannya ke panti itu.”
“Sahabatku? Apa maksud ayah Hazan?”
“Tidak Shazia, bukan Hazan. Dia seorang wanita paruh baya dan mengaku sebagai sahabatmu ketika kau ada di rumah sakit.”
“Aku tidak punya sahabat selain Hazan, apa lagi dia wanita paruh baya. Kenapa ayah bisa percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan wanita itu.”
“Bagaimana ayah tidak percaya, dialah yang ikut mengantarkanmu ke rumah sakit saat kecelakaan dan menunggumu bersama ayah.”
“Dia juga terlihat khawatir saat tahu keadaanmu yang parah.”
Shazia terdiam, ia coba mengingat-ingat kembali pernahkah ia menemui orang seperti yang dikatakan sang Ayah, tapi nihil dia tetap tidak tahu siapa orang itu.
__ADS_1
“Tapi tahun lalu, Ayah bertemu dengan sahabatmu itu dan dia memberikan alamatnya.”
“Apa ayah masih menyimpan alamat itu?”
Erhan mengangguk, ia membuka dompetnya dan mengambil kertas kecil yang terlipat-lipat dan memberikannya pada Shazia.
Shazia membuka kertas, ia dapat mengetahui alamat dan siapa nama dari wanita tersebut.
“Dilara Safye Yadgar? Aku tidak pernah mendengar nama itu.”
Setelah terdiam beberapa saat melihat alamat itu Shazia memutuskan untuk pergi.
“Baiklah ayah terima kasih untuk ini, aku akan pergi sekarang.”
“Ya, putriku, hati-hati. Semoga kau mendapatkan kembali anakmu, maaf karna ayah kau harus berpisah dengannya.”
Shazia menatap wajah bersalah sang Ayah, ia kemudian memeluk Erhan. “Ayah, aku tidak pernah marah atas apa yang ayah lakukan. Jika aku ada di posisi ayah mungkin aku akan melakukan hal yang sama, dari pada melihatnya menderita lebih baik dia bahagia dengan orang lain.”
Shazia kemudian pergi dari rumah sang ayah dan menemui Aslan yang menunggu di mobil.
“Bagaimana, Kak. Apa hasilnya?”
“Aku menemukan alamat dari orang seseorang yang membawa anakku. Bisa kita pergi ke alamat ini?” Shazia memberikan secarik kertas tersebut pada Aslan.
“Ya, tentu bisa. Ayo, kak, pasang sabuk pengamanmu, kita akan pergi ke sana!” balas Aslan penuh semangat.
Pria tersebut membuka gerbang pagar dan menanyai maksud kedatangan mereka.
“Apa benar ini rumah dari Dilara Safye Yadgar?”
“Benar Nyonya.”
“Bisa aku menemuinya?”
“Maaf sekali Nyonya, tapi Nyonya Dilara sudah pergi ke kota A sejak bulan lalu, dan menetap di sana untuk beberapa saat.”
Seketika wajah Shazia berubah kecewa, apa ia benar-benar bisa menemukan kembali anaknya yang hilang.
“Tapi jika Anda benar-benar ingin menemui Nyonya Dilara, saya bisa memberikan alamatnya yang ada di kota A untuk Anda.”
“Benarkah, ya, tolong berikan aku alamatnya.”
Penjaga itu mengangguk, lalu mencatat alamat tuannya di secarik kertas.
“Ini Nyonya, entah apa yang membuat Anda benar-benar ingin bertemu dengannya, tapi saya harap semoga perjalanan Anda lancar.”
“Ya, terima kasih,” balas Shazia tersenyum senang.
__ADS_1
“Jadi Kak, kau akan pergi ke kota A?”
“Ya, Aslan sebenarnya aku ingin pergi hari ini, tapi sayangnya sudah sangat sore, aku akan berangkat besok pagi.”
“Baiklah, besok aku akan menjemput kakak di rumah Savas.”
“Eh, kau juga ikut?”
“Tentu saja, Taran memintaku untuk membantu kakak. Jadi sudah pasti ke mana pun kakak mencarinya aku akan ikut.”
Senyum Shazia kembali muncul, “Terima kasih Aslan.”
...****************...
Pada malam harinya, Shazia yang selesai menyiapkan barang-barang untuk keberangkatannya terlihat duduk termangu di balkon, di saat bersamaan Taran memasuki kamar, ia baru kembali setelah lama berada di ruang kerja.
Melihat Shazia yang melamun membuat Taran datang menghampirinya. Pria itu kemudian menepuk pundak sang istri yang tampaknya tak menyadari kedatangan dirinya.
“Shazia.”
“Eh, ya, ada apa Taran, apa pekerjaanmu sudah selesai?” balas Shazia sembari menghapus air matanya.
“Apa yang terjadi denganmu?”
“Tidak papa Tuan, aku hanya merasa takut saja, jika aku berhasil menemukannya apa ia mau menerimaku yang tiba-tiba muncul sebagai ibu kandungnya.”
“Aku merasa tidak pantas bertemu dengannya setelah sekian lama.”
“Sekarang aku sadar, apa seperti ini rasanya berada di posisi ibu kandung Zihan.”
“Yang hingga kini tak pernah muncul dan sangat dibenci oleh putranya sendiri.”
“Taran jika suatu saat nanti ibu kandung Zihan muncul di keluarga ini apa yang akan kau lakukan?”
“Entahlah, sekarang aku tidak berharap dia akan muncul.”
“Besok aku akan pergi ke kota A, Aslan bilang jika semua yang terjadi padamu juga di kota A, apakah boleh aku mencari tahu siapa ibu kandung Zihan, di sana kota kelahiranku siapa tahu aku bisa menemukannya.”
“Meskipun kau dan Zihan tidak ingin tahu lagi tentangnya, aku penasaran siapa dia dan kenapa tak pernah muncul.”
“Dulu aku berpikir, jika Ibu kandung Zihan orang yang jahat. Tapi setelah apa yang kualami, rasanya tidak adil jika dia dibenci begitu saja.”
“Terserah kau saja,” balas Taran yang kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang.
Aku harus mencari tahu siapa ibu kandung Zihan sekaligus keberadaan putraku. Shazia.
“Ya, Allah. Semoga anakku tidak membenciku yang baru mencarinya sekarang.”
__ADS_1