
Di kamar sang Anak, terlihat Shazia tengah membacakan dongeng untuk putranya itu. Zihan yang mendengar dengan serius akhirnya terlelap mendengar cerita sang ibu.
Shazia tersenyum kala melihat wajah putranya yang tertidur, ia menyelimuti Zihan dan mengecup keningnya.
“Semoga mimpi indah, putraku.”
Setelah mematikan lampu, wanita itu pun pergi dari kamar putranya dan kembali ke kamar miliknya. Di sana Shazia mengambil buku berwarna coklat dari lemari dan duduk di sofa sembari mencatat pengeluaran restoran.
“Wah ternyata bulan ini pendapatan bersih lebih banyak dari bulan-bulan sebelumnya, kalau begitu aku harus memberikan bonus untuk mereka.”
“Oh, iya besok restoran buka lebih siang, aku akan membuat bekal yang enak untuk Zihan”
"Ya, walaupun sayang jika dia tidak memakan menu di kantinnya, tapi aku tetap ingin memasakannya bekal.”
Di sisi lain di Savas Company, Taran masih berkutat dengan pekerjaannya, walaupun semua karyawan telah pulang, pria itu masih tetap bekerja.
“Taran kau tak pulang?” tanya Aslan yang telah bersiap pergi.
“Pekerjaanku tinggal sedikit, pulanglah lebih dulu,” sahut Taran yang tak sedikit pun mengalihkan pandangannya.
Aslan yang mendengar itu melangkah mendekati meja Taran, ia duduk di kursi memandangi wajah saudara sepupunya yang sibuk bekerja itu.
“Bagaimana pernikahanmu dengan Kak Shazia, apa baik-baik saja?”
“Seperti yang kau lihat sekarang,” balas Taran singkat.
“Sayangnya saat pernikahan kalian aku tak bisa datang karna harus mengurus bisnis menggantikanmu di luar negeri. Aku tak menyangka bahwa pada akhirnya kau menikah dengan kak Shazia,”
Taran hanya balas mengangguk perkataan Aslan, membuat pria itu sedikit kesal dan akhirnya memilih pergi.
“Baiklah aku pergi saja, sampai nanti Taran.”
Taran kembali mengangguk.
Ketika waktu telah menunjukkan pukul 23.00 malam, barulah Taran beranjak dari kursinya. Ia pulang ke rumah, sama seperti biasa semua orang sudah terlelap dan hanya suara derap langkah kakinya yang terdengar menaiki anak tangga.
Saat pria itu membuka pintu kamarnya, Taran dapat melihat sang istri yang tertidur pulas di atas sofa dengan buku di dadanya. Ia tanpa pikir panjang langsung menggendong Shazia dan memindahkan istrinya itu ke ranjang.
...****************...
Pagi-pagi sekali Shazia terbangun, ia tak sadar akan tempat tidurnya yang telah berubah, sehingga dengan santainya pergi begitu saja ke lantai bawah.
Di dapur bersama Banou dan beberapa pelayan lainnya Shazia memasak menu sarapan untuk semua orang, ia begitu antusias memasak dan merasa puas kala para pelayan menyukai masakannya.
“Baiklah Banou susun ini di meja makan, ya. “ pinta Shazia.
Banou mengangguk, ia mengambil troli dan membawa masakan Shazia ke meja makan.
Sementara Banou melakukan perkerjaannya, Shazia membawa masakan lainnya itu ke meja makan para pelayan yang ruangannya ada di belakang dapur. Di ruangan yang langsung menghadap ke taman itu terdapat meja makan yang cukup panjang dan tak kalah mewahnya seperti meja makan untuk keluarga Savas.
Saat masih baru di rumah Savas, Shazia takjub akan hal itu, betapa keluarga Savas memperlakukan para pelayannya dengan baik dan memperhatikan masalah makanan dan kesehatan mereka.
“Nyonya apa ini tidak terlalu banyak?” tanya seorang pelayan.
“Kalian kan juga banyak, tentu saja makanannya harus banyak, dan lagi pula masakanku bisa dibilang sederhana dari pada masakan yang biasa dibuat Banou untuk kalian.”
“Tidak papa Nyonya, meski sederhana masakan sangat enak, dan terima kasih mau memasakan kami.”
“Terima kasih kembali karna mau memakannya,” balas Shazia.
__ADS_1
Saat kembali ke meja makan keluarga Savas, Shazia dikejutkan akan kehadiran sang suami di meja makan, selama pernikahan baru kali ini ia melihat Taran ikut duduk untuk sarapan.
“Wah, tumben sekali ayahnya Zihan ikut sarapan bersama.”
“Memangnya tidak boleh?” tanya Taran dengan ekspresi datarnya itu.
“Tentu saja boleh, aku kan hanya bertanya, karna biasanya kau selalu sibuk dan melewatkan sarapan bersama,”
“Hari ini pekerjaan kantor tak terlalu banyak,” balas pria itu sembari menyendok masakan yang disajikan.
“Oh, iya, apa ayah dan ibu mertua masih tidur? Biasanya di jam begini mereka sudah ada di meja makan.”
“Mungkin,” sahut Taran singkat.
Kenapa aku selalu kesal dengan semua jawabannya? Ingin sekali aku memukulinya! Shazia
“Baiklah, kau lanjutkan saja makanmu, aku ingin memanggil Zihan, juga ayah dan ibu mertua.”
“Kau tak perlu memanggil kami, Shazia. Kami sudah datang sekarang,” balas Derya.
Sepasang suami istri itu pun duduk bersebelahan.
“Baguslah, sekarang makanlah ayah mertua, ibu mertua, aku akan memanggil Zihan terlebih dahulu.”
Defne mengangguk. Wajahnya menampakkan kepuasan akan Shazia, ia merasa senang bahwa menantunya itu sangat memperhatikan mereka.
Saat Shazia tengah pergi ke lantai atas, hanya suasana heninglah yang ada di meja makan, tapi saat Derya yang melihat wajah istrinya itu tersenyum senang mulai membuka pembicaraan.
“Kenapa wajahmu terlihat senang seperti itu Defne,” tanya Derya.
“Kau tahu, melihat menantu baru yang memperhatikan kita membuat perasaan risauku selama ini hilang begitu saja, kau benar Derya, dia membawa kebahagiaan bagi keluarga kita,” Jawab Defne.
“Taran menurutmu bagaimana istrimu itu?” tanya Derya kemudian kala melihat Taran hanya fokus pada ritual makannya.
“Ya, jika menurut kalian dia baik, begitu juga menurutku,” balas Taran.
Tak lama kemudian Shazia turun sembari menggandeng lengan putranya.
“Selamat pagi Papa, selamat pagi kakek dan selamat pagi nenek!” sapa Zihan pada ketiganya.
“Selamat pagi cucuku tersayang ayo duduklah di dekat kakek.”
“Tidak kakek, aku ingin duduk di dekat mama.” Zihan langsung mengambil kursi di dekat sang ibu.
Seluruh anggota keluarga Savas pun memulai ritual makannya masing-masing. Shazia menatap satu-persatu anggota keluarga tersebut dengan wajah penuh tanya.
“Bagaimana apa masakannya enak?”
“Ya, seperti biasa makanannya enak,” jawab Defne.
“Yang dikatakan Nenek benar, masakan mama selalu yang terbaik,” puji Zihan.
Shazia tersenyum, “Syukurlah kalau begitu, aku takut jika makanannya terlalu asin, karna saat memasaknya aku tak sengaja membuat garam lebih banyak.”
“Tapi makananmu baik-baik saja tidak asin sama sekali,” timpal Derya.
“Ya, Ayah Mertua, aku senang mendengarnya, dan ayahnya Zihan bagaimana masakannya?” tanya Shazia yang menatap lekat ke arah Taran.
“Lumayan.”
__ADS_1
Lagi-lagi dan lagi, kata-kata singkat yang selalu berhasil membuatku kesal, lihat saja aku akan membalasmu nanti. Shazia.
“Ha, ha, baguslah kalau begitu.”
Setelahnya seluruh anggota keluarga Savas pergi dengan urusan masing-masing.
“Mama hari ini tak perlu repot mengantarku ke sekolah, papa yang akan mengantarkanku hari ini,” ucap Zihan.
“Ya, sayang, nanti saat pulang mama yang akan menjemputmu, ya. Dan mama memasakan bekal untukmu,” balas Shazia sembari menyodorkan tas bekal.
Zihan menerimanya, “Terima kasih mama, aku pasti akan memakannya.”
“Ayo Zihan kita pergi,” ajak Taran yang datang menghampiri keduanya.
“Ya, papa.”
Shazia dan Taran saling pandang, “Aku dan Zihan pergi, jaga dirimu baik-baik,”
Shazia mengangguk, “Ya, berhati-hatilah di jalan.”
Ayah dan sang anak itu pun masuk ke mobil hitam yang kemudian keluar dari kediaman Savas, Shazia yang masih berdiri di ambang pintu menghela nafas panjang.
“Sekarang aku hanya sendiri di rumah besar ini, apa yang harus kulakukan?”
“Oh, iya aku kan belum mandi, nanti setelah itu aku ingin melihat-lihat bunga di taman ini saja, pasti menyenangkan melihatnya sembari meminum teh.”
...****************...
Selesai mandi Shazia yang telah siap untuk pergi ke restoran, terlebih dahulu menyempatkan waktunya berjalan mengitari Taman sembari menyeruput teh.
“Sungguh sangat menyenangkan,”
“Kehidupan orang kaya sangat menyenangkan, ya.”
Di tengah asyiknya menikmati suasana, Shazia dikejutkan dengan kedatangan Berkant yang memberikan teleponnya.
“Nyonya, telepon Anda tertinggal di dapur, dan tampaknya tuan Taran menelepon Anda.”
“Oh, benarkah, terima kasih paman Berkant kau sudah repot-repot membawakan teleponku kemari.”
“Tidak papa Nyonya.”
Shazia segera mengangkat telepon dari Taran.
“Ada apa ayahnya Zihan menelepon? Apa? Baiklah, tidak usah biar aku yang mengantarkan berkasnya. Tidak sama sekali, karna aku juga ingin berangkat ke restoran, ya baiklah aku akan segera berangkat.”
“Ada apa Nyonya, kenapa Tuan menelepon?” tanya Berkant.
“Berkasnya tertinggal di ruang kerja.”
“Kalau begitu biar saya menyuruh sopir untuk mengantarkannya ke dapur.”
“Tidak usah Berkant, biar aku yang mengantarkannya, karna aku juga ingin pergi ke restoran. Aku titipkan rumah padamu, ya, Paman.”
“Ya, Nyonya.”
Shazia berlalu pergi mengambil tas dan berkas di meja kerja Taran, tak lupa ia juga membawa bekal untuk sang suami.
“Sayang jika masakannya tersisa, aku harus mengancamnya untuk menghabiskan ini.”
__ADS_1