Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 38 - Terluka


__ADS_3

Di sana Taran yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana trainning tengah melakukan push-up. Untuk sesaat wanita itu tertegun melihat dada bidang dan perut kotak sang suami.


Dia hebat juga ya, bisa melatih tubuhnya di sela-sela waktu super sibuknya itu, dan ya, tubuhnya juga bagus. Shazia


Tapi Shazia cepat menepis pikirannya, ia berjalan mendekat ke arah Taran.


“Ayahnya Zihan ini tehmu.”


Mengetahui Shazia datang, Taran menghentikan aktivitasnya, dan berdiri menghadap Shazia. Keduanya yang berhadapan itu pun saling menatap.


Kenapa setiap melihat wajahnya, aku selalu mengingatnya dengan wanita itu. Shazia.


“Letakan saja itu di atas meja.” Balas Taran sembari menunjuk meja di ujung ruangan.


“Baiklah,” balas Shazia yang langsung meletakan teh dan camilan itu di meja satu persatu.


Saat Shazia ingin meletakan teh panas, tanpa sengaja Shazia menjatuhkan patung keramik di atas meja tersebut, membuat benda itu jatuh menimpa kakinya.


Pecahan dari patung keramik tentu saja membuat kaki wanita itu berdarah. Melihat banyak darah yang mulai keluar dari kakinya, Shazia segera mengumpulkan pecahan keramik ke nampan kosong, ia berniat mengobati lukanya setelah itu.


Taran yang menyaksikan kejadian tersebut, segera menghampiri Shazia. “Sudah biarkan saja kekacauan itu, aku akan menyuruh pelayan untuk membersihkannya, kau obati saja lukamu” perintah Taran.


Mendapati perintahnya tak di gubris, membuat Taran langsung memegang lengan Shazia dan memaksanya untuk segera berdiri.


Tetapi Shazia segera menepis tangan Taran yang memeganginya, “Aku bisa mengurusnya sendiri, jangan pedulikan aku, Tuan. Aku sudah terbiasa dengan luka seperti ini, lagi pula ini hanya luka kecil!”


“Luka kecil kau bilang? Luka yang menganga itu kau sebut luka kecil Shazia? Jika aku membawamu ke dokter, dapat dipastikan lukamu itu akan mendapat jahitan,” balas Taran.


“Jika kau masih tidak ingin berdiri, sekarang juga aku akan langsung menggendong dan membawamu ke dokter.”


Mendengar perkataan Taran, akhirnya Shazia berdiri, ia sadar akan luka di kakinya, tapi ia kesal akan kata-kata dari suaminya itu. Dengan lengkah pelan Shazia menyeret kakinya yang terluka.


Jika aku berjalan cepat, rasa sakitnya akan semakin bertambah, tapi di rumah yang sebesar ini dengan langkah siput itu pasti membuat kakiku semakin berlumur darah. Shazia


Tanpa meminta persetujuan dan tanpa pikir panjang, Taran yang geram melihat Shazia berjalan seperti siput langsung menggendongnya.


“Hei, aku tidak pincang sampai kau harus menggendongku, aku masih bisa berjalan sendiri!”


Taran tak membalas, dengan muka datarnya ia berjalan cepat menuju kamar, tak peduli Shazia yang merengek di gendongannya.


Taran meletakkan Shazia di sofa. “Jangan bergerak dari situ, aku akan mengobatimu.”


“Aku bisa mengobatinya sendiri, tidak usah menyusahkan dirimu sendiri,” Sahut Shazia


Taran mengambil kotak obat dari almari, ia tak memedulikan perkataan Shazia, ia berjongkok dan membersihkan luka istrinya itu.


“Sudahlah, aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Shazia sembari menarik kakinya.


“Jangan keras kepala Shazia,” balas Taran yang memegang erat pergelangan kaki sang istri.


Pada akhirnya Shazia pasrah dan membiarkan Taran mengobati lukanya. Mata Shazia lekat memandang wajah suami yang serius mengobati lukanya itu.

__ADS_1


“Kenapa perhatianmu itu begitu berlebihan, Tuan? Untuk kita yang menikah tanpa cinta ini, bukankah itu berlebihan?”


Taran menatap Shazia, “Karena kau istriku, kau telah menjadi bagian dari keluarga ini, dan aku akan melakukan apa pun agar keluarga ini tetap utuh.”


Shazia terdiam sesaat, “Jika suatu saat aku mengajukan perceraian, apa Tuan akan menyetujuinya?”


“Pernikahan ini baru berjalan sebulan, dan kau sudah memikirkan sampai sana?”


“Tidak, aku hanya berpikir, jika suatu saat kau menemukan orang yang kau cintai, apa kau akan tetap mempertahankan pernikahan ini?”


“Kau pikir aku pria seperti apa, aku sudah mengikat janji denganmu, dan tak mungkin aku bisa mencintai wanita lain di luaran sana.”


Kau berbohong, nyatanya kau berpelukan mesra dengan kekasihmu itu. Kenapa sekarang aku jadi merasa kesal lagi melihat wajahnya? Shazia.


“Dan sampai kapan pun aku akan tetap mempertahankan pernikahan ini,” ucap Taran lagi.


Shazia terdiam, bukankah itu jawabannya? Tak peduli apa pun, dan tak peduli ia ingin mengajukan perceraian, Taran akan selalu berusaha untuk mempertahankan pernikahan.


Jadi maksudnya dia tidak ingin bercerai denganku, dan membuatku terjerat dengan pernikahan ini sementara dia bermain dengan wanita lain di luaran sana? Shazia.


“Mama!”


“Mama!


“Mama!” panggil Zihan yang langsung masuk ke kamar yang terbuka lebar itu.


“Mama aku menu—“


“Mama apa yang terjadi denganmu, kau terluka kenapa?”


“Jangan khawatir sayang, ini hanya luka kecil. Ayo, kemarilah duduk bersama mama.”


Zihan mengikuti perkataan Shazia, ia duduk di samping sang ibu. “Aku pikir mama lupa, aku sudah lama menunggu mama di taman ternyata mama terluka.”


“Sayang, tidak papa ini hanya luka kecil.”


Taran yang selesai mengobati luka Shazia segera meletakan kotak obat ke tempatnya semula. “Sekarang kau jangan banyak bergerak, istirahat saja,” tegur Taran.


“Tuan, maksudku ayahnya Zihan, ini hanya luka kecil kau tidak berhak melarangku melakukan apa pun yang kuinginkan.”


“Terserah jika kau tak ingin mendengar,” balas Taran


“Benar yang dikatakan Papa, Mama istirahat saja rencana jalan-jalannya kita lakukan lain kali.”


“Eits, tidak bisa begitu, Mama sudah berjanji padamu, dan lagi pula ini hanya luka kecil, kita akan tetap sesuai rencana.”


“Tapi Mama tidak papa?”


“Ya, tidak papa, sayang. Jangan khawatir,” balas Shazia sembari mengelus rambut putranya itu.


“Kalian ingin pergi ke mana?” tanya Tara

__ADS_1


“Kami ingin pergi ke taman bermain dan membeli jajanan juga tentunya,” sahut Shazia.


“Aku akan ikut kalau begitu.”


“Apa! Tapi kau kan banyak perkerjaan, dan ini han—“


“Yes, jalan-jalan bersama mama dan papa itu pasti sangat menyenangkan, aku jadi tak sabar!” Zihan berjingkrak senang.


“Aku tidak sibuk, dan pekerjaan kantor juga tidak banyak,” balas Taran.


Shazia menghela nafas panjang, rencananya untuk menghabiskan waktu bersama putranya buyar.


Jika dia ikut bukankah itu akan jadi canggung satu sama lain, lagi pula untuk apa dia harus ikut, kenapa dia tidak pergi bersama selingkuhannya itu saja! Shazia


“Baiklah, jika Ayahnya Zihan memang ingin ikut.”


Setelahnya Shazia dan Zihan pun turun ke lantai bawah, ia memilih untuk menonton televisi bersama putranya itu.


“Shazia apa yang terjadi dengan kakimu,” tanya Defne yang ikut duduk bersama keduanya.


“Saat mengantarkan teh untuk ayahnya Zihan, aku tak sengaja menjatuhkan patung keramik dan pecahannya mengenai kakiku.”


“Lain kali lebih hati-hati dengan dirimu sendiri, Shazia.”


“Ya, ibu mertua lain kali aku akan berhati-hati.”


“Nenek jangan khawatir, papa sudah mengobati luka mama, jadi pasti sekarang tidak akan apa-apa,” balas sang cucu menimpali.


Alis Defne terangkat mendengar balasan sang cucu, “Taran yang mengobati lukamu Shazia?”


Shazia mengangguk, “Ya, dialah yang membersihkan dan mengobati lukaku ibu mertua.”


Defne tersenyum mendengar hak tersebut.


Apakah secara perlahan dia mulai berubah, selama ini dia tidak pernah memberikan perhatiannya pada siapa pun, kuharap putraku bisa berubah seperti dulu. Defne.


“Nenek kenapa diam?” tanya Zihan.


“Oh, tidak papa. Nenek hanya berpikir menu makan malam apa yang cocok di makan hari ini.”


“Nenek ingat ya, tidak boleh terlalu banyak makan yang berminyak dan berlemak.”


“Ya, Nenek tahu, kau juga tidak boleh menyisakan sayur di piringmu, kau harus memakannya sampai habis.”


“Tidak mau, sayur itu kan pahit, sangat pahit sepahit perkataan nenek Aergul!”


Defne dan Shazia tertawa mendengarnya, Zihan pun tahu bahwa Aergul adalah seorang wanita yang menyebalkan.


“Heh, kau tidak boleh berkata seperti itu tentang nenek Aergul, dia itu kan juga nenekmu” tegur Defne.


“Aku tahu, tapi kata-katanya itu selalu saja membuatku kesal,” balas Zihan sembari menyilangkan lengannya

__ADS_1


__ADS_2