
“Apa! Restoran ayah bangkrut?”
Dengan berat hati Erhan mengangguk.
“Ba, bagaimana itu bisa terjadi, Ayah? Bukankah selama ini usaha kuliner ayah tak ada masalah.”
“Kau tahu sejak ada berita buruk tentang kebersihan di tempat usaha ayah, tak ada satu pun pengunjung yang datang, usaha kuliner ayah benar-benar sepi karna berita bohong itu.”
“Kalau keadaannya terus begini ayah tak tahu bagaimana caranya membayar gaji para karyawan, dan lagi setelah berita itu banyak yang mencemooh usahanya, ayah.”
“Siapa yang menyebar berita miring seperti itu?” tanya Shazia dengan wajah khawatir menatap sang Ayah.
“Ayah juga tidak tahu, beritanya banyak menyebar.”
“Ayah tidak papa, sebisa mungkin aku akan coba membantumu, untuk gaji para karyawan ayah biar aku yang membayarnya.”
“Kita coba untuk menutup berita tersebut, lalu kita buat pernyataan dan kebenaran, aku tak rela usaha ayah bangkrut hanya karna berita tak benar itu,” lanjut Shazia.
“Ayah sudah mencobanya tak ada yang mau mendengar.”
“Ayah, aku tak rela usaha yang selama ini ayah dan ibu impikan hancur sekejap mata.”
“Ayah tahu Shazia, tapi jika terus seperti ini, tidak ada cara lain selain menutupnya.”
Shazia menatap sendu sang Ayah, ia turut merasakan apa yang dirasakan Erhan, ia tak rela usaha yang selama ini dibangun dengan susah payah hancur sekejap mata karna berita miring.
Cukup lama keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. “Baiklah Shazia ini sudah malam, ayah harus pergi.”
Shazia pun berdiri dari tempatnya dan mengiringi kepergian sang ayah sampai ke ambang pintu. “Ayah, aku berharap semoga semuanya baik-baik saja.”
“Ya, putriku ayah juga berharap begitu. Sekarang ayah pergi, jaga dirimu baik-baik.”
“Ya, ayah,” balas Shazia sembari mencium tangan sang Ayah.
Setelah kepergian sang Ayah, Shazia menatap jam yang menunjukkan pukul 23.25 malam. Ia mendengus kesal kini ia tak dapat tidur karna berita dari sang ayah, betapa perasaannya begitu khawatir di tengah kehampaan.
“Ya, Allah. Semoga usaha ayah baik-baik saja.”
...****************...
Pagi yang cerah menyambut keluarga Savas, kali ini semua anggota keluarga tampak lengkap di meja makan, ya, momen yang cukup langka dan hanya terjadi beberapa kali, karna kesibukan masing-masing sering kali membuat mereka melewatkan sarapan.
“Taran bagaimana pekerjaanmu?” tanya Derya membuka pembicaraan.
“Semua baik-baik saja,” balas Taran sembari menyuap makanannya.
“Taran ada yang ingin ayah bicarakan denganmu.”
“Tentang apa?” Pria itu menatap sang Ayah.
__ADS_1
“Begini, ayah telah mendapatkan orang yang cocok dijodohkan untukmu, dan ayah ingin kau bertemu dengannya,”
“Berapa kali aku mengatakannya padamu, Ayah. Aku tidak ingin dijodohkan, dan aku bisa mengatur hidupku sendiri,” ucap Taran menegaskan.
“Ayah hanya ingin kau bertemu dengannya, jika kau merasa tak cocok dengannya maka ayah tak akan memaksamu untuk menikah.”
“Tidak, sudah cukup ayah mencampuri kehidupanku, sudah cukup hanya Zihan, kutegaskan hanya Zihan dan aku tidak ingin ayah membicarakan lagi tentang perjodohan,” balas Taran yang kemudian berdiri dari tempatnya.
“Sekarang aku harus pergi jaga diri kalian baik-baik.”
Setelah kepergian Taran, Zihan yang melihat pertengkaran kakek dan ayahnya hanya diam membisu, ia lebih memilih fokus pada makanannya sendiri. Karna anak itu pun tak rela jika sang ayah menikah dengan orang yang tak dikenalnya.
“Susah sekali berbicara dengannya, sungguh sangat keras kepala,” gerutu Derya.
“Sudahlah Derya, jangan memaksanya, sekarang lihatlah cucumu itu dia memperhatikan kita sejak tadi.”
“Kakek, bisakah kita membicarakan hal lain? Aku ingin mendengar cerita tentang kalian, dulu bagaimana kalian bisa bertemu?”
“Aku penasaran seperti apa kisahnya, apakah sama seperti kakek Olive dan nenek Esme (ibu Shazia)?”
Derya dan Defne saling pandang.
“Siapa itu kakek Olive dan nenek Esme?” tanya Defne.
“Mereka ayah dan ibunya mama Shazia, kalau aku pergi ke restoran dan bertemu kakek Olive, dia pasti banyak bercerita, aku suka mendengar kisahnya.” balas Zihan.
“Apakah mereka orang yang baik?” tanya Defne lagi.
Zihan terdiam sesaat, binar matanya perlahan meredup, “Dia seperti ibu kandungku,” Zihan melanjutkan kata-katanya dengan senyum hampa.
“Cucuku kau tadi ingin mendengar kisah kami kan, ayo dengarlah kakekmu akan bercerita,” ujar Defne yang segera mengalihkan pembicaraan.
“Nah, benar kakek akan menceritakannya padamu, dulu kakek dan nenekmu ini berkuliah di kampus yang sama.”
Ya, Defne sedikit terkejut akan perubahan cucunya, sosok yang selalu mengurung diri dan tak pernah ingin tahu apa pun yang ada di sekitarnya kini malah bertanya tentang masa lalu keduanya.
“Defne aku jadi semakin yakin bahwa dia benar-benar cocok untuk keluarga kita,” bisik Derya.
...****************...
‘Tok, tok, tok!’
“Ya, tunggu sebentar,” balas sang pemilik rumah.
“Kira-kira siapa yang berkunjung pagi-pagi begini?”
Erhan segera membuka pintu rumahnya, dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Derya melempar senyum kala Erhan membuka pintu.
“Selamat pagi, Erhan!” sapa Derya.
__ADS_1
“Ah, Tuan Derya Savas, lama tak berjumpa, ayo silakan masuk,” balas Erhan sembari membuka lebar pintu rumahnya.
Saat Derya telah duduk di ruang tamu rumah yang sederhana itu Erhan segera menghidangkan teh dan kue untuknya.
“Ayo silakan diminum, Tuan.”
Derya mengangguk, diikuti dengan Erhan yang mulai duduk di sofa.
“Bagaimana kabarmu selama ini Erhan, apakah baik-baik saja?” tanya Derya membuka pembicaraan.
“Ya, semua baik-baik saja Tuan, lalu bagaimana kabar Anda?”
“Seperti yang kau lihat sekarang. Tapi mendengar kabar tentang usahamu, apakah itu benar?”
“Em, tampaknya Anda sudah tahu berita yang beredar sekarang, ya ada orang yang menyebar berita bohong dan itu membuat usaha yang selama ini dibangun hampir bangkrut.”
“Maaf, jika saya lancang pada Anda, tapi apa yang membuat Anda datang menemui saya?” tanya Erhan langsung pada intinya.
“Ya, aku kemari untuk menagih janjimu.”
Alis Erhan berkerut, bingung dengan kata-kata Derya, “Janji? Janji apa Tuan?”
“Kau tidak ingat? Kau pernah berjanji padaku jika usahamu itu bangkrut kau akan menjodohkan putrimu dengan anakku.”
Erhan terperanjat, bukankah itu hanya bercanda, dan lagi ia juga sudah membayar semua hutangnya. “T-tapi saya sudah membayar semua hutang saya pada Anda, dan selama membayar saya tak pernah ada masalah, jadi bagaimana semua itu masih bisa berlaku.”
“Janji tetaplah janji Erhan, dalam surat perjanjian yang kau tanda tangani, kau tak pernah menyebut hanya selama membayar hutang, tapi kau menyebut jika usahamu bangkrut kau akan menjodohkan putrimu.
Erhan tak dapat berkata-kata, bukankah ia tahu itu hanya candaan lantas mengapa ia menganggap serius ucapannya, dan lagi hutangnya pun telah lama lunas.
Aku tahu kau caraku salah, tapi demi keluargaku akan berusaha bagaimana pun caranya. Derya.
“Dengar Erhan jika kau mau menikahkan putrimu, aku akan membantu usahamu itu berdiri seperti sedia kala, aku berani jamin tidak akan ada lagi berita miring tentang usahamu itu.”
“Aku tahu tapi—“
“Erhan kau selalu menempati janjimu bukan? Kau sudah membuat putrimu menjadi jaminan kau harus menempatinya.”
Melihat Erhan masih diam, Derya memberikan berkas lama tentang perjanjian mereka pada Erhan.
“Lihatlah, bahkan kau menandatangani surat perjanjian ini.”
Dengan surat tersebut, Erhan merasa kepalanya semakin berdenyut, sangat berbeda dengan Derya yang terlihat santai sembari menyeruput teh yang telah disediakan.
Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini? Erhan.
“Erhan kuharap kau menempati janji, karna jika kau tetap menolak, kau bisa melihat bagaimana usahamu itu akan kubuat semakin hancur.” Derya segera berdiri dari tempatnya, begitu pula dengan Erhan yang ikut berdiri.
“Untuk selanjutnya aku akan mengabarkan kapan putrimu bisa bertemu dengan putraku, jadi sebelum itu kau harus memberitahunya tentang perjodohan ini.”
__ADS_1
Setelahnya Derya pun berpamitan pergi, menyisakan Erhan seorang diri.
“Sekarang bagaimana aku menyelesaikan semua ini?”