Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 50 - Pesta (3)


__ADS_3

“Taran, apa kabar?”


Melihat Kadriye menyapa dan orang-orang yang menatap ke meja mereka, membuat Taran terpaksa membalas.


“Baik,” Taran singkat.


Kadriye tertawa kecil, “Kau tak pernah berubah, ya, sejak dulu bersamamu kau selalu seperti itu,” balas Kadriye dengan suara nyaring.


Tentu saja hal itu membuat para tamu yang mendengarkannya mulai kembali bergosip.


“Aku yakin, sebelum menikah tuan Taran memiliki hubungan dengan Kadriye, pasti yang menjadi istrinya sekarang orang ketiga dalam hubungan mereka,” bisik seorang tamu pada tamu lainnya.


“Dan apa wanita ini istrimu?” tanya Kadriye seolah tak mengetahui apa pun.


Taran mengangguk, “Ya, hanya dialah satu-satunya istriku,” balas Taran seolah menegaskan bahwa hanya Shazia dan tak akan ada wanita lainnya.


“Dia sangat cantik, ya.”


Kadriye berjalan mendekati Shazia dan mengangkat tangannya untuk berkenalan, “Salam kenal nyonya Cantik, aku Kadriye.”


Shazia menerima jabatan tangan Kadriye, “Ya, aku Shazia, salam kenal untukmu.”


“Melihat mereka bersalaman jadi terlihat jelas siapa wanita biasa dan siapa wanita cantik, ya.”


“Shht, jangan terlalu keras bicara, mereka bisa mendengar pembicaraan kita.”


“Kau sangat beruntung, ya, mendapatkan suami seperti Taran, bisakah aku tahu bagaimana kalian saling mengenal?”


Perkataan Kadriye seolah menyiratkan bagaimana cara Shazia mendapatkan Taran atau lebih tepatnya ‘Cara seperti apa kau menjebak Taran’.


“Ya, tapi pertanyaanmu itu tidak sopan untuk seseorang yang baru berkenalan, Kadriye, jadi maaf aku tidak bisa menjawabnya.”


“Oho, kalau begitu aku minta maaf, Shazia.”


“Maaf telah mengganggu waktu kalian, aku permisi.” Ucap Kadriye kemudian dengan wajah sedikit gusar.


Shazia mengangguk dan kembali melanjutkan ritual makannya tanpa peduli orang-orang sekitar yang membicarakannya.


“Bibi, aku dan Zihan pergi bermain ke taman, ya.”


“Kalian ingin ke taman, baiklah pergilah,” balas Shazia yang melihat makanan di piring keduanya telah habis.


Ece tersenyum senang dan menarik lengan Zihan ke luar gedung. Kini hanya Taran dan Shazia lah yang tersisa di meja.


Saat melihat Taran yang memakan makanannya dengan wajah kesal, membuat Shazia menyendok dessert miliknya dan menyodorkannya pada Taran.


Melihat Shazia menyodorkan sesendok dessert ke arah mulutnya membuat Taran menatap Shazia.


“Kau terlihat kesal, coba makanlah ini, siapa tahu rasa kesalmu sedikit berkurang.”

__ADS_1


“Aku tidak suka makanan manis,”


“Cobalah sekali.”


Dengan wajah terpaksa, Taran menerima suapan Shazia, ia mengunyah pelan dessert tersebut.


“Bagaimana Enak?”


Taran mengangguk pelan dan kembali memakan makanan di piringnya.


Shazia tersenyum senang dan tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Taran.


“Sifatmu yang dingin itu tolong mencairkan sedikit, sehingga aku bisa berteman dekat denganmu.”


“Hanya teman?” tanya Taran.


“Ya, memangnya kita dapat mengharapkan apa?”


“Kita ini suami istri Shazia, hubungan kita lebih dari kata teman.”


Wajah Shazia bersemu merah mendengar perkataan Taran, ia segera kembali pada posisi tegapnya.


“A-ayahnya Zihan, apa kita bisa menaiki lantai atas gedung ini, a-aku ingin melihat bagaimana pemandangan pesta dari lantai dua.”


“Ya, seperti bisa, karena ada beberapa orang di lantai atas.”


Shazia segera berdiri dari tempatnya, “Kalau begitu, sayang. Aku pergi.”


Aih, menjauh darinya benar-benar ampuh membuat detak jantungku kembali normal. Shazia.


Di tengah keasyikannya, Shazia dikejutkan dengan Kadriye yang datang menyapa.


“Wah, ternyata ada Nyonya Savas di sini.”


Mendengar itu Shazia pun berbalik dan tersenyum ke arah Kadriye. Sedangkan wanita itu menatap sinis sembari menyilangkan lengannya.


“Aku heran, bagaimana gadis rendahan sepertimu mendapatkan seorang terhormat seperti Taran."


"Dilihat dari mana pun kau itu tak juga cantik, entah cara seperti apa kau menjebak Taran, bisakah kau memberi tahuku? Mungkin dengan itu aku bisa mengikuti caramu,” ucap Kadriye dengan senyum licik.


Shazia tertawa "Tidak ada trik atau pun cara, Kadriye. Semua itu sudah ditakdirkan.”


Kadriye ikut tertawa, “Ditakdirkan? Apa aku tidak salah dengar?”


“Tentu saja tidak. Karena jika itu bukan takdir, mana mungkin wanita yang kau sebut rendahan ini bisa mendapatkan seorang pria tampan dan terhormat seperti itu,”


“Dengar Shazia aku akan berkata jujur padamu, lebih baik kau tinggalkan Taran dari pada kau merasa sakit, lihatlah dirimu status sosial saja sudah sangat berbeda dengan Taran, bahkan wajahmu tidak lebih cantik dariku, mana mungkin Taran mencintai orang sepertimu.”


“Jika dia tidak mencintaiku, untuk apa dia menikahiku? Aku akui kau memang cantik Kadriye, tapi tetap saja akulah wanita yang telah berhasil mendapatkan cinta dari seorang pria yang kau kejar selama ini.”

__ADS_1


"Oh, tidak, bukan saja cintanya, tapi kehormatan, harta, juga kekuasaan. Aku mendapatkan semuanya, lantas kau?”


Kadriye yang dipenuhi amarah kala mendengar perkataan Shazia langsung menampar wanita itu.


“Lebih baik kau sadar diri Shazia! Kau harus tahu di mana posisimu itu, kau hannyalah wanita rendahan.”


Shazia yang mendapat tamparan secara mendadak itu memegangi pipinya lalu kembali menatap tajam ke arah Kadriye.


Wanita itu tanpa pikir panjang langsung balas menampar Kadriye, mendapat balasan dari Shazia membuat Kadriye terkejut, ia ingin kembali menampar Shazia, tapi dengan sigap Shazia langsung memegang erat tangan Kadriye yang hampir mengenai wajahnya itu.


“Kenapa? Kau marah melihat wanita rendahan ini membalas?”


“Lepaskan tanganku!”


Shazia semakin memegang erat lengan Kadriye, “Dengar Kadriye, aku bukan wanita yang hanya akan diam saja jika ada orang yang menindasku, kau pikir kau bisa merendahkanku sesuka hati?”


“Kau salah memilih lawan Kadriye, aku tak peduli seberapa terkenal dan populernya dirimu, selama aku tak bersalah aku akan membalas apa yang orang itu lakukan padaku.”


Shazia melepas kasar tangan Kadriye setelahnya, tapi bukannya menyerah Kadriye malah kembali menyerang Shazia, pada akhirnya kedua wanita itu terlibat perkelahian.


Beruntungnya keduanya berada di sudut ruangan yang gelap, sehingga tak ada yang menyadari pertengkaran kedua.


Tapi tak lama, sebuah tangan menarik Shazia menjauh, pria itu lalu berdiri di tengah-tengah agar menghalangi pertengkaran.


“Shazia berhentilah bertengkar,” tegur Taran yang kemudian memegang kedua siku Shazia.


“Dialah yang lebih dulu memulai pertengkaran.”


Kadriye tiba-tiba berupa-pura menangis, “Taran dia berbohong, aku hanya lewat lalu dia menyerangku, hiks, hiks.”


“Hei, berani-beraninya kau membuat-buat cerita seperti itu!”


“Sudahlah, Shazia, tenangkan dirimu,” ucap Taran yang melihat Shazia penuh amarah.


“Bagaimana aku bisa tenang, bisa-bisanya dia memutar balikkan fakta seperti itu.”


“Shazia jangan memedulikannya dan lihatlah dirimu sekarang,”


Barulah kemudian Shazia menyadari gaun bagian atas miliknya robek. Ya, penampilan Shazia jadi sangat berantakan setelah pertengkaran, rambutnya acak-acak kan, bahkan gaun bagian atas dadanya pun robek.


Taran kemudian melepas jasnya dan memasangkannya pada Shazia, dan tanpa aba-aba pria itu langsung mendekap Shazia dalam pelukannya.


“Sekarang tenanglah, ada aku di sini.”


*


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2