
Malam yang dingin kembali datang, sudah tiga jam berlalu sejak pertengkarannya dengan Aergul terjadi, Shazia duduk bersandar di ranjangnya sembari diam menatap foto sang ibu dari layar ponsel.
“Ibu, maaf jika Zia tidak bisa mengikuti perkataanmu.”
“Maaf, jika Zia tidak bisa menjadi anak yang baik dan jadi anak nakal.”
Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan sosok dingin Taran seperti biasa.
Shazia buru-buru mematikan telepon pintarnya dan menatap tajam setiap pergerakan sang suami.
Taran yang menyadari tatapan Shazia pun balik menatapnya, “Ada apa Shazia?” tanya Taran sembari melepas jas dan dasinya.
“Tidak ada apa-apa, hanya ingin melihat Tuan saja,” balas Shazia.
“Kau berbohong, ibu memberi tahuku jika kau bertengkar dengan bibi hari ini, apa kau takut karena itu?”
“Tidak, aku hanya ingin melihat siapa yang akan Tuan bela, Aku atau bibi Aergul. Jika memang tuan membela bibi, maka aku akan bersiap melawan Tuan juga.”
Dengan santai Taran membalas, “Aku tidak akan membela siapa pun, karna aku tahu sifat bibi Aergul seperti apa.”
“Syukurlah jika Tuan tidak membelanya, aku kesal karna dia membesarkan masalah kecil.”
“Sekarang aku tanya padamu Tuan, salahkah jika aku membawa kue yang masih tersisa banyak dari restoran?”
“Tidak ada yang salah dengan itu. Bibi Aergul, dia orang yang terbiasa dengan kemewahan,” balas Taran.
“Tapi tidak seharusnya dia bersikap seperti itu, merendahkan orang dengan sesuka hatinya saja, apa dia pikir semua orang akan diam saja diperlakukan seperti itu.”
“Setiap manusia punya sifat yang berbeda, kita hanya bisa memakluminya,” balas Taran sembari pergi ke kamar mandi.
Shazia mendengus kesal, “Kenapa dia selalu dengan sifat dinginnya itu, aku mengajaknya bicara tapi selalu saja menjawab singkat.”
Pada akhirnya Shazia memilih tidur, ia tak peduli lagi dengan suaminya itu.
...****************...
Di pagi hari, ketika Fajar menyingsing. Terlihat Taran tengah bersiap untuk pergi ke kantor dengan setelan jas abunya, sedangkan Shazia ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kemeja putih dan celana panjang.
Wanita itu kemudian duduk di meja rias sembari mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Sementara Taran ia berdiri di belakang sang istri sembari terus menatapnya.
Menyadari Taran memperhatikannya Shazia pun bertanya, “Ada apa Tuan apa kau butuh sesuatu?”
“Selesaikan dulu kegiatanmu itu,”
Shazia menghela nafas panjang, ia mematikan hair dryer dan berdiri menghadap Taran.
__ADS_1
“Jika Tuan menatapku terus seperti itu, aku tidak bisa fokus. Sekarang katakan padaku apa yang Tuan inginkan?”
“Berikan lenganmu,”
Alis Shazia mengerut kala mendengar permintaan Taran, tapi ia tetap menurutinya.
“Lenganku?” Shazia pun menyodorkan lengannya.
Taran menyambut lengan istrinya, pria itu mengambil cincin dari sakunya dan memasangkannya di jari manis Shazia. Hal tersebut tentu saja membuat jantung Shazia berdegup kencang, ia jadi mengingat kembali saat Taran memasang cincin berlian itu di hari pernikahan keduanya.
“Lain kali jangan melepasnya di sembarang tempat. Aku tahu kita memang menikah tanpa cinta, tapi tolong jangan lepaskan cincin pernikahan ini dari jarimu.”
“Maaf, Tuan. Aku melepasnya karna takut terjatuh saat mandi, tapi ternyata aku lupa memasangnya kembali kemarin.”
Saat mata yang tajam itu menatap lekat ke arahnya, Shazia merasa degup jantungnya semakin kencang, rasanya ia tak sanggup untuk balas menatap Taran.
“Dan bisakah kau tak memanggilku dengan sebutan Tuan? Aku merasa aneh jika kau terus-menerus memanggilku dengan sebutan itu.”
“Itu sangat sulit, karna sebutan Tuan adalah hal yang sangat cocok untuk dirimu, jika aku hanya memanggil dengan nama, rasanya kau jadi lebih muda dari usiamu, Tuan.”
“Kalau begitu begini saja, jika kau tidak ingin dipanggil Tuan lagi maka mulai sekarang aku akan memanggilmu Ayahnya Zihan, bagaimana?”
“Terserah kau saja,”
“Baiklah kuanggap ayahnya Zihan setuju. Sekarang aku yang ingin bertanya, kenapa kau tak lagi menyebutku Nona Shazia.”
Tangan Taran bergerak memegangi dagu Shazia, sehingga wanita itu mendongak menatap Taran.
“Karna kau sudah menjadi istriku, Shazia. Kau bukan lagi seorang Nona melainkan seorang Nyonya, ingat itu baik-baik.”
Taran kemudian berjalan pergi dari kamar, menyisakan Shazia yang masih diam membatu di tempatnya.
“Pandai sekali dia mempermainkan perasaan orang lain dengan sikapnya itu."
“Tidak tahukah dia sikapnya membuat jantung seseorang jadi berdebar?” gerutu Shazia sembari memegangi jantungnya yang berdegup kencang.
...****************
...
Hari terus berlalu, hingga tepat sebulan sudah Shazia menjadi istri di keluarga Savas, ia mulai terbiasa akan rumah dan keluarga barunya itu. Tak banyak yang berubah dari hubungan Shazia dan Taran. Tapi dengan putranya Shazia semakin dekat.
Begitu pula dengan usah Erhan, setelah keluarga Savas membantunya menghilangkan berita miring, usahnya kembali ramai bahkan semakin dikenal banyak orang.
"Bagaimana usah ayah apakah berjalan baik," tanya Shazia sembari menyodorkan teh untuk sang ayah.
__ADS_1
"Ya, setelah ayah mertuamu membantu ayah, semuanya kembali seperti semula, semoga tak ada lagi masalah, sehingga ayah bisa mengumpulkan uang untuk mewujudkan keinginan ibumu."
"Aku akan membantu ayah mewujudkan keinginan ibu, nanti jika uang yang dikumpulkan sudah cukup, kita pergi datangi Hazan.”
Erhan mengangguk. "Lalu Shazia bagaimana pernikahanmu dengan Taran? Maaf, jika sejak kau menikah ayah belum pernah mengunjungimu ke sana."
"Semuanya baik-baik saja Ayah, seperti perkiraan, Ayahnya Zihan orang yang baik, selama pernikahan ini dia tidak pernah marah atau bicara kasar padaku."
"Syukurlah, lalu bagaimana dengan Zihan? Dan orang-orang di sana, apa mereka memperlakukanmu dengan baik?"
"Untuk Zihan aku merasa bahwa aku semakin dekat dengannya, Ayah, hari-hari yang kami lalui bersama sungguh membuatku merasa ia benar-benar putraku kandungku."
Mendengar Shazia membicarakan tentang Zihan, membuat raut wajah Erhan berubah sendu, sorot matanya seolah menyimpan banyak rahasia.
"Ada apa ayah, kenapa kau terlihat sedih?"
"Tidak, Shazia, ayah senang jika pernikahanmu baik-baik saja dan Zihan bisa menganggapmu seperti ibunya sendiri."
Shazia tersenyum , "Ya, begitulah, Ayah. Dan untuk orang-orang di sana semuanya juga begitu baik, itu tidak seperti yang kupikirkan sebelumnya bahwa mereka mungkin tidak akan menerima keberadaanku.”
“Selamat sore Mama, dan selamat sore Kakek Olive.” Sapa Zihan yang baru saja pulang sekolah.
“Wah cucu kakek ternyata sudah pulang, bagaimana harimu di sekolah apakah menyenangkan?” tanya Erhan.
“Menyenangkan, hari ini aku mendapatkan nilai sempurna untuk semua pelajaran,” balas Zihan.
“Wah, putra mama memang hebat. Sekarang apa putra mama lapar?”
“Tidak mama, aku masih kenyang, aku ingin duduk di sini saja bersama kakek,” Zihan menarik kursi di dekat Erhan.
“Ya, sudah kalau begitu mama pergi ke dapur, ya, kau bermainlah bersama kakek,” balas Shazia.
Zihan mengangguk.
“Kakek, kenapa kakek lama tak kemari?”
“Kakek sibuk, jadi baru sekarang bisa mengunjungi cucu kakek ini.”
“Kakek ceritakanlah padaku kisah yang menarik, sudah lama kakek tidak bercerita padaku.”
“Baiklah kisah apa yang ingin kau dengar?”
“Sewaktu kecil mama seperti apa?”
“Kau ingin tahu tentangnya, Mamamu itu orang yang keras kepala, ia tidak ingin mendengarkan siapa pun dan selalu bersikap semaunya.”
__ADS_1
“Dia selalu banyak bicara, penuh rasa ingin tahu, dan ya, sedikit nakal. Dulu kakek ingat ketika ia dan teman-temannya mencuri buah dari pohon milik tetangga,”
Zihan tertawa mendengar cerita Derya, “Ternyata mama seperti itu ya sewaktu kecil.”