
Shazia yang kembali ke kamarnya segera melepas jas dari sang suami dan berjalan menuju meja rias. Di sana ia dapat melihat dirinya dari pantulan cermin.
“Penampilanku benar-benar berantakan.”
“Dan gaun ini jadi rusak begitu saja.”
“Ya, sudahlah aku akan membawa ini ke butik, di kota ini kan ada butik yang menerima rental gaun.”
Shazia pun berusaha melepaskan kancing gaun miliknya.
“Aih, susah sekali, aku harus butuh batuan. Aku lupa saat memasang gaun ini aku juga membutuhkan bantun dua pembantu itu.”
Shazia melihat ke sekitar kamar, ia mencari di mana Taran berada. Dan di saat bersamaan Taran keluar dari kamar mandi.
“Akhirnya yang dibutuhkan muncul sendiri.” Celetuk Shazia.
“Hei, Tuan bisa kau kemari? Tolong aku melepaskan kancing gaun ini.”
Taran pun pergi menghampiri Shazia, kala melihat Taran dari pantulan cermin Shazia agak terkejut, karena suaminya itu bertelanjang dada.
“Tuan kau tak memakai baju?”
“Udaranya cukup panas,” balas Taran singkat sembari tangannya mulai melepas kancing gaun Shazia satu persatu.
“Shazia apa kau makan dengan benar?”
“Ya, aku makan dengan benar, memangnya ada apa?”
“Kenapa tubuhmu kecil sekali.”
“Kecil? Tidak, aku masih sama, bahkan berat badanku pun tetap sama, yang berbeda itu Tuan, kenapa memiliki tangan yang besar seperti itu.”
“Tanganku? Perasaanku sama saja.”
Saat Taran selesai membuka kancing, Shazia pun berbalik menghadap sang suami.
“Coba angkat tangan Anda seperti orang melambai.”
Taran yang agak bingung itu pun mengikuti saja perintah Shazia. Setelahnya wanita itu melakukan hal yang sama dan menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan Taran.
“Lihat, tangan Tuan lebih besar dari milikku.”
__ADS_1
Shazia kemudian menatap Taran sembari tersenyum. “Baiklah Tuan sekarang aku ingin mandi, terima kasih atas bantuanmu.”
Saat Shazia melangkah melewati Taran, pria itu dengan cepat memegang lengan sang istri, sehingga langkah Shazia pun terhenti.
Shazia pun menoleh ke arah Taran. “Ada apa Tuan? Apa ada yang ingin kau bicarakan?”
Taran kembali melangkah mendekati Shazia, ia memutar tubuh sang istri sehingga menghadap ke arahnya.
“Kau belum membalas pertanyaanku saat di pesta, bisa kau memberikan jawabannya?”
Shazia mengernyit, bingung dengan apa yang dikatakan Taran.
“Kau tidak ingat, baiklah biar aku mengulang pertanyaanku.”
“Bagaimana jika salah satu di antara kita ada yang mencintai pasangannya.”
Untuk sesaat Shazia terdiam sembari menatap lekat wajah Taran. Ia lalu tersenyum kecil
“Cinta adalah sesuatu yang tidak dapat di paksa, dia tumbuh dengan sendirinya tanpa di minta, bagaimana bisa kita mengaturnya?”
“Tuan jujur saja aku sendiri bingung, bagaimana jika aku terlalu mencintaimu dan tak ingin melepaskanmu untuk orang lain?”
“Kau tahu, Tuan. Saat menikah kita tidak mengenal satu sama lain lebih dalam, selama pernikahan ini rasanya sangat senang kita bisa mengenal satu sama lain, mencoba mengerti sifat satu sama lain rasanya sangat menyenangkan.”
“Aku tidak tahu apakah pernikahan ini akan terus bertahan atau berhenti di tengah jalan nantinya, tapi aku berharap bahwa kita bertiga bisa menjalani kehidupan bersama.”
Shazia kemudian memeluk Taran, “Jadi jika kita saling tertarik, maka tinggal menjalaninya saja Tuan.”
Shazia kemudian melepas pelukannya dan tersenyum lebar sebagai penutup obrolan.
“Shazia, bisakah kau tak memanggilku dengan sebutan Tuan? Waktu itu kau setuju memanggilku dengan sebutan ayahnya Zihan, lalu kenapa aku lebih sering mendengar kau memanggil Tuan?”
“Oh, iya, apa yang kau katakan benar, mungkin karena aku belum terbiasa, kadang sebutan ayahnya Zihan terlalu panjang, dan tanpa sadar aku selalu saja memanggilmu dengan sebutan Tuan.”
“Baiklah, walau pun aku tak rela hanya memanggilmu dengan nama, aku akan mencoba.”
“Kau tak ingin memanggilku dengan sebutan Sayang?”
Sontak Shazia tertawa, “Tolong jangan bercanda, Kau tahu aku merasa aneh jika memanggil dengan sebutan semacam itu.”
...****************...
__ADS_1
Mentari pagi kembali datang, Shazia terbangun dari tidur nyenyaknya, wanita itu turun dari ranjang dan merapikan rambutnya.
“Baiklah ayo mulai rutinitas pagi seperti biasa!” seru Shazia menyemangati diri sendiri.
Setelah menyibak gorden, Shazia pergi dari kamarnya menuju kamar Zihan dan Ece. Wanita itu membantu dua anak kurcacinya untuk bersiap sekolah, baru setelahnya Shazia turun ke lantai bawah untuk memasak sarapan.
Saat semua menu telah masak, Shazia mulai menata masakan di atas meja.
“Ya, semuanya sudah lengkap saatnya, menunggu mereka datang.”
Beberapa saat menunggu datanglah ayah dan ibu mertua Shazia, sementara Derya duduk di meja makan, Defne malah berdiri di ambang pintu, dari raut wajahnya Shazia dapat menyimpulkan jika Defne tengah menunggu seseorang.
Belum sempat Shazia bertanya, penjaga keamanan datang membawa amplop coklat dan tiga paket besar.
“Tolong letakan saja di ruang tengah,” pinta Defne pada penjaga keamanan.
“Baik Nyonya.”
Setelah penjaga keamanan menyenderkan tiga paket tersebut di samping sofa, Defne langsung memanggil Shazia.
“Shazia kemarilah,” panggil Defne sembari membuka paket.
Shazia yang penasaran itu pun segera datang menghampiri ibu mertuanya.
“Shazia bantu aku membuka tiga paket ini,” ucap Defne lagi.
Tanpa pikir panjang Shazia langsung merobek kertas yang membungkus benda dalam paket. Setelah semuanya terbuka barulah Shazia tahu bahwa itu adalah foto pigura yang dicetak besar.
Foto kala pernikahan Shazia dan Taran, satu foto menampilkan Shazia memegang bunga dan Taran di sampingnya, foto kedua menampilkan Shazia dan Taran bersama Zihan di tengah keduanya, dan foto ketiga menampilkan seluruh keluarga baik Shazia dan ayahnya juga Taran bersama putra dan kedua orang tuanya.
“Shazia menurutmu mana yang paling bagus untuk digantung di ruang utama?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu tentang saja Shazia memilih foto ketiga, foto yang sangat menarik perhatiannya, apalagi di dalam foto terdapat seluruh keluarga dari mempelai masing-masing.
“Pilihanmu benar-benar tepat, aku akan menyuruh seseorang untuk menggantungnya.”
“Oh, iya, Shazia, kenapa saat pernikahan yang hadir dari pihakmu hanya ayah dan para karyawan saja, ke mana keluarga yang lain?”
“Aku tidak punya keluarga selain ayah dan para karyawanku ibu mertua. Ibu adalah anak yatim piatu dari panti asuhan dan ayah seorang anak tunggal jadi yang tersisa hanya ayah.”
Defne mengangguk seolah mengerti akan penjelasan Shazia, “Baiklah-baiklah kalau begitu ayo kita sarapan saja sekarang.”
__ADS_1