
Di restorannya, Shazia tampak sama sekali tak bersemangat, beberapa kali ia menghela nafas panjang, masalah tentang ibu kandung Zihan telah memenuhi isi kepalanya.
“Shazia.”
“Shazia.”
“Shaziaaaaaa!” teriak Aynur kala Shazia tak menggubris.
“Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi padamu?”
Shazia menoleh, “Kenapa kau bisa tahu jika aku sedang ada masalah?”
“Tentu aku tahu, wajah dan sikapmu itu sudah memberitahuku lebih dulu.”
“Ya, sepertinya aku memang tidak pandai menyembunyikan masalah.”
“Ayo sekarang ceritakan apa yang terjadi?” pinta Aynur.
Shazia pun menceritakan apa yang terjadi dari awal hingga akhir, tampak raut kekesalan di wajah Aynur setelahnya.
“Shazia, kenapa kau malah merisaukan sesuatu yang tidak penting seperti itu? Suamimu kan sudah mengatakan untuk tenang, sudah beberapa kali ada orang yang mengaku sebagai ibu kandung Zihan, aku yakin wanita itu berbohong.”
“Dan wanita itu tidak mungkin mengambil Zihan darimu, kau itu ibunya.”
“Aku yakin kebusukan wanita itu akan terkuak.”
“Jadi Shazia tenang, ya, kau itu tidak boleh goyah hanya karena itu.”
Shazia tersenyum, “Terima kasih Aynur.”
“Sudah ayo kita kembali bekerja, kita kumpulkan uang bersama.”
Kala Shazia ingin melanjutkan pekerjaannya, seseorang tiba-tiba datang membuka pintu restoran. Pandangnya pun teralih memandang sosok tersebut.
“Fulya.”
Shazia kembali terpaku menatap sosok yang kembali datang, ia tak menyangka Fulya akan datang secepat itu.
Fulya mendekati Shazia, ia tersenyum sembari memberi salam pada Shazia.
“Nyonya Shazia, bisakah hari ini aku mengajak Zihan jalan-jalan?”
“Nyonya Shazia?”
Raut wajah Shazia berubah kesal, “Maaf, tapi sekarang Zihan belum pulang.”
“Kalau begitu aku akan menunggunya, tidak papa kan jika aku menunggu di restoranmu Nyonya?”
Aynur yang masih berada di samping Shazia menatap Fulya terus -menerus, ia langsung mengerti jika wanita itu adalah orang yang mengaku-ngaku sebagai ibu kandung Zihan.
“Ya, kau bisa menunggu di sini, tapi kau harus memesan makanan, karna restoran ini tidak menampung orang yang hanya duduk diam,” balas Aynur.
“Ya, aku akan memesan makanan, katanya restoran milik nyonya Shazia terkenal dengan Kofte-nya, bisa aku memesan Kofte dan teh?”
Aynur mengangguk, “Ya, silakan duduk di meja mana saja yang kau inginkan.”
Fulya tersenyum lalu berjalan ke arah meja kosong.
“Shazia,” panggil Aynur.
“Shazia.”
“Hoi, Shazia,” panggil Aynur lagi sembari mengguncang tubuh Shazia.
__ADS_1
“Ya, ya, Aynur.”
“Shazia kau ini kenapa? Ayo kita lanjutkan pekerjaan jangan terpaku hanya karna masalah kecil,” tegur Aynur.
“Maafkan aku Aynur,” balas Shazia yang kemudian kembali mengenakan celemek dan memegang kertas dan pulpen.
Sedangkan Fulya yang melihat Shazia dari mejanya tersenyum kecil.
“Wanita yang mudah sekali di pengaruhi.”
...****************...
Fulya dengan sabar menunggu kedatangan Zihan di restoran Shazia, ia memperhatikan sekitar dan sangat menyadari akan Shazia yang diam-diam memperhatikannya.
Waktu terus bergulir, dan setelah menunggu lebih dari tiga jam lamanya Zihan dan Ece datang bersama ke restoran.
Wajah Zihan berubah kesal kala melihat Fulya ada di restoran.
“Apa yang bibi lakukan di sini?” tanya Zihan dengan wajah penuh amarah.
Fulya tertawa kecil, “Tentu saja putra ibu, Zihan maafkan ibu yang selama ini meninggalkanmu, apa bisa ibu memperbaiki hubungan denganmu?” tanya Fulya yang kemudian datang menghampiri Zihan.
Zihan yang berdiri diam di ambang pintu sontak ingin menghindar dari Fulya, tapi wanita itu lebih dulu memegang erat lengannya.
“Maafkan ibu Zihan.”
“Pergi kau bukan ibuku!”
Wanita itu sama sekali tak menggubris perkataan Zihan, ia malah semakin mendekat dan berbisik di kuping Zihan.
Setelah Fulya membisikan sesuatu di telinga, perlahan amarah Zihan mereda, ia menatap Fulya penuh curiga tapi tetap setuju akan apa yang dikatakan Fulya padanya.
“Bagaimana, kau mau berjalan-jalan bersama Ibu?”
“Ya, aku mau.”
“Nyonya bisa kan aku membawanya jalan-jalannya?”
“Aku berjanji akan membawa kembali Zihan dengan selamat.”
“Jika Nyonya tidak percaya aku akan meninggalkan telepon genggamku di sini.”
“Tidak perlu jika memang Zihan menyetujuinya apa yang bisa aku lakukan?”
“Terima kasih Nyonya.”
“Tapi ingat Fulya ini belum berakhir, kita akan melakukan tes DNA ulang.”
Fulya mengangguk, “Ya, aku tak masalah sama sekali, kita lakukan itu di hari minggu,” balas Fulya dengan wajah pasti.
Tanpa berganti baju Zihan akhirnya pergi bersama Fulya. Keduanya pergi berjalan-jalan ke taman yang letaknya cukup jauh dari restoran.
“Ayo, sekarang ceritakan padaku yang sebenarnya.”
Fulya tersenyum, “Kau itu anak yang benar-benar mirip seperti ayahmu, ya.”
“Bagaimana bibi bisa tahu tentang ayahku?”
“Tentu saja aku, ayahmu itu kan orang terkenal di negeri ini, Ceo tampan dingin berkarisma, siapa yang tak mengenalnya?”
“Sekarang bukan itu yang penting, sekarang bibi jelaskan padaku semuanya!”
“Kau ini anak yang keras kepala, ya. Nikmati saja dulu jalan-jalannya nanti bibi akan menjelaskannya padamu,” balas Fulya sembari menggandeng lengan Zihan.
__ADS_1
Tapi anak laki-laki itu dengan cepat menepis lengan Fulya, “Tidak perlu memegangku, aku tidak akan hilang, bibi!”
“Ya, ya, baiklah jika kau tidak ingin dipegang.”
Zihan lebih dulu berjalan di depan Fulya, sembari matanya menatap jajanan di pinggir Taman.
“Kau ingin makan sesuatu Zihan?”
“Tidak!”
“Ya, sudah.”
Setelah membaca pesan dari teleponnya, Fulya mulai menatap ke sekitarnya untuk mencari seseorang. Ia tersenyum kala melihat seorang wanita melambai padanya.
Fulya segera menghampiri wanita tersebut, di mana Zihan mengikuti dari belakang.
“Kau sudah dapat pekerjaan baru kakak?”
“Ya, kau lihat, aku mendapat pekerjaan sebagai pengasuh anak laki-laki ini,” balas Fulya.
“Wah, dia anak manis yang tampan, jika mereka berempat ikut pasti sangat senang melihat anak ini.”
“Bagaimana dengan kuliahmu Fulya, apa pembayaran biayanya bisa di undur?”
Dengan wajah muram wanita itu menggeleng, “Sayangnya tidak, tapi kakak tenang saja, aku akan berhenti dan mencari pekerjaan.”
“Apa yang kau katakan, kau harus tetap kuliah, jangan mengikuti jejakku, bagaimana pun caranya kalian harus mendapatkan pendidikan yang tinggi, cukup aku yang berjuang untuk kalian dan jangan sampai kau juga ikut, tugasnya hannyalah belajar itulah yang kakak inginkan darimu,” balas Fulya sembari mengelus rambut sang adik.
“Tapi kakak sudah sangat berjuang untuk kami, kau harus menyekolahkan empat adik dan memberikan mereka kehidupan yang layak dari jerih payahmu, kau juga mengorbankan mimpimu hanya untuk mewujudkan mimpi kami,” balas sang adik dengan mata berkaca-kaca.
Fulya malah tersenyum kecil, “Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku setelah kematian ayah dan ibu, jadi kau tak perlu merasa bersalah.”
Wanita itu kemudian mengeluarkan amplop coklat dari tasnya dan memberikannya pada sang adik.
“Ini kau gunakan untuk membayar biaya kuliahmu dan biaya adik-adik kita yang lainnya, sebelum pulang dari sini belilah makanan enak mereka pasti akan senang.”
“Kakak mendapatkan uang ini dari mana?”
“Kan aku menjadi pengasuh di keluarga kaya, mereka memberi banyak bonus untukku.”
“Benarkah?”
“Ya, tentu saja.”
Adik Fulya itu pun tersenyum kecil ke arah Zihan, “Terima kasih adik kecil, kau sudah menyelamatkan keluarga kami.”
Zihan yang terus memperhatikan pembicaraan Fulya dan adiknya itu hanya mengangguk, ia bingung harus menjawab apa pada adik Fulya.
“Sekarang pulanglah, mereka pasti sudah menunggumu di rumah.”
“Ya, Kak, dan kapan kakak akan pulang ke rumah?”
“Mungkin besok atau lusa aku akan kembali.”
“Baiklah kak sekarang aku pergi.”
Setelah kepergian adik Fulya, Zihan mulai bertanya pada wanita itu.
“Bibi, apa kau anak pertama? Dan apakah kau membesarkan lima adikmu sendiri?”
“Ya, aku anak pertama dan aku harus membesarkan lima adikku sendiri,” balas Fulya tersenyum kecil.
“Maaf demi keluarga, bibi malah membuat keluargamu sedikit terkena masalah.”
__ADS_1
“Lalu bibi mendapatkan uang itu dari mana? Apa ada seseorang yang menyuruh bibi?”
“Ya, orang yang menyuruh bibi memberikan uang itu. Tapi bibi berjanji di hari minggu nanti bibi akan pergi dan tidak akan mengganggu kalian lagi.”