Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 74 - Kilas balik #2


__ADS_3

"Shazia?"


"Shazia, apa yang terjadi denganmu Nak, kenapa kau menangis?"


Shazia tak mengidahkan sang ayah yang berada di depan kamar, ia terduduk lemas di balik pintu menyesali segalanya.


Bisa-bisanya aku mengecewakan ayah, kenapa aku harus mengecewakan seorang yang sangat menyayangiku. Shazia.


"Shazia, jika semua ini karna ayah, maafkan ayah sayang, ayah tak sengaja menamparmu, maafkan ayah," ucap Erhan dari depan kamar sang putri.


Aku telah mengecewakanmu, pa, maafkan aku, aku anak yang tidak berguna, maafkan aku. Shazia.


"Ya, mungkin kau butuh waktu untuk memaafkan ayah, ayah akan meninggalkanmu sendiri,”


“Tapi jangan terus mengurung dirimu di kamar, jika nanti kau lapar keluar dan makanlah, ya.”


Ketika langkah sang ayah terdengar menuruni tangga, Shazia tak dapat menahan isak tangisnya, kata-kata lembut sang ayah berhasil meluluhkan hatinya.


Sejak hari itu Shazia selalu mengurung dikamar, ia selalu menolak jika di ajak pergi oleh sahabatnya, dan hanya akan keluar di saat sang ayah memanggilnya makan, lalu setelah itu kembali ke kamarnya.


Erhan sadar akan perubahan putrinya, tapi setiap kali ditanya, Shazia akan menghindar atau menjawab dirinya baik-baik saja. Sebagai seorang Ayah tentu saja Erhan khawatir, tapi ia tidak ingin memaksa putrinya bercerita.


Di kamarnya Shazia selalu merenung, ia takut dan merasa kecewa pada dirinya sendiri. Dan akibatnya Shazia semakin kurus, dan kuyu.


Andai saat itu aku tidak minum, atau saat itu aku langsung pergi ke kamar saja dari pada harus pergi dari rumah, sehingga hal seperti ini tidak terjadi padaku. Shazia.


Sebulan kemudian Shazia mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan, awalnya ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, wanita itu pikir ia hanya sakit biasa.


“Biasanya di tanggal begini tamu bulananku akan datang.”


“Tapi ini sudah lewat dari dua minggu, lalu di setiap pagi aku selalu saja muntah-mutah.”


Shazia terdiam sesaat, wajahnya berubah khawatir, “A-apa jangan-jangan.”


“Kuharap ini hanya pikiranku saja.”


Pada akhirnya Shazia memutuskan untuk memeriksa keraguannya, apa dia benar-benar hamil atau tidak, ia diam-diam membeli tes pack.


Dan apa yang terjadi adalah hal yang tidak diinginkan oleh wanita tersebut, dua garis biru yang terlihat di tes pack, benar-benar membuat Shazia merasa hancur.

__ADS_1


Ia merasa gagal menjadi seorang wanita yang bisa melindungi dirinya sendiri, dan Shazia merasa semuanya seolah tak nyata, ia telah mengecewakan ayah dan mendiang ibunya sekaligus.


“Apa pada akhirnya harus begini?”


Shazia menangis sejadi-jadinya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


Sang ayah yang mendengar tangis putrinya segera berlari ke lantai atas, di sana ia dapat menemukan Shazia yang menangis di lantai.


“Shazia apa yang terjadi denganmu, Nak?”


“"Ayah, maaf.”


"Maafkan, Shazia, Ayah"


"Apa, apa yang terjadi Shazia?"


"Kenapa kau meminta maaf, dan ada apa, ha?"


Melihat tes pack yang berada di dekat Shazia, membuat sang ayah menatap penuh tanya pada putrinya.


"Ayo, sekarang kita bicarakan semua ini di ruang tengah, ceritakan apa sebenarnya yang terjadi dari awal hingga akhir, dan bagaimana kau bisa hamil?"


Erhan yang mendengar semuanya dari mulut Shazia, merasa hampa. Ia telah gagal memenuhi tugasnya sebagai seorang ayah. Ia ingin merah, tapi kesalahan ini juga terjadi karnanya.


"Maaf, Ayah."


"Maafkan, Shazia."


"Itu semua tak sepenuhnya kesalahanmu, ayah salah karna ayah tak memperhatikanmu, sayang.”


“Kini yang sudah terjadi biarlah terjadi. Sekarang adalah bagaimana keputusanmu untuk ke depannya.”


"Keputusan ada ditanganmu, kau ingin mempertahankan janinmu atau menggugurkannya?”


Shazia terdiam, ia merunduk. Benar jika ia tidak berharap untuk mengandung seorang anak yang ayahnya sendiri pun tidak diketahui identitasnya, tapi ia tidak sampai hati untuk menggugurkannya, bayi itu juga darah dagingnya.


"Anak ini tak salah, Papa. Aku tak ingin membuat kesalahan untuk kedua kalinya."


"Aku akan membesarkannya, meski ia harus lahir tanpa sosok ayah, aku akan selalu berusaha untuknya.”

__ADS_1


Erhan terdiam sesaat, ia melihat wajah putrinya, lalu mengangguk setuju.


Dengan keputusan tersebut, keduanya memulai lembar baru, sang ayah mengalihkan pekerjaan dan pindah keluar kota bersama putrinya.


Di kota dan rumah yang baru ditempati, Shazia memulai segalanya, tentang lembaran baru dalam hidupnya.


“Ayah, terima kasih telah banyak berkorban untuk anak yang tidak tahu diri ini.”


“Kenapa kau bicara begitu, setiap ayah pasti akan melakukan yang terbaik untuk anaknya, begitu juga dengan ayah.”


“Tapi aku adalah putri yang tidak tahu diuntung. Aku banyak menyusahkan ayah.”


“Tidak, kau tidak menyusahkan ayah, jadi jangan berbicara seperti itu.”


...****************...


Taran, pria tampan yang banyak disukai oleh para wanita, tapi tak dapat disentuh oleh mereka, sosoknya yang selalu menjaga perilaku dan jarak dari lawan jenis membuatnya semakin disukai oleh banyak orang.


‘Pengusaha muda tampan yang menggemparkan negeri’ itulah headline berita ketika ia terjun ke dunia bisnis, dan melanjutkan usaha sang ayah yang hampir bangkrut.


Berkat ketampanannya dan kemahirannya dalam berbisnis, hanya dalam kurun waktu tiga tahun, Taran dengan mudah membuat perusahaan Savas kembali berdiri dan dikenal oleh banyak orang.


Tentu saja semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpanya, dibalik kesuksesannya itu ada saja orang yang iri dan membencinya.


Meski tahu ada banyak orang membencinya, Taran sama sekali tak mempermasalahkan hal itu, ia merasa meski seseorang membencinya tidak mungkin hal jahat atau nekat padanya.


Tapi pandangan Taran tampaknya terpatahkah begitu saja setelah hari itu. Hari yang mengubah Taran jadi sosok yang lebih dingin dari sebelumnya.


“Terima kasih Taran, kau sudah ingin bekerja sama dengan kami,” ucap pria yang usianya tak jauh beda dari Taran.


“Benar Tuan, untuk merayakan mari kita minum,” ucap salah satu pria sembari menuangkan minuman beralkohol ke gelas Taran.


Taran menggeleng, “Aku tidak minum minuman seperti itu, aku akan memesan jus saja,” balas Taran sopan.


“Oh, ha, ha, aku lupa kau kan pria yang sangat menjauhi hal seperti ini.”


“Tenang, aku yang akan memesankannya untukmu, tunggulah di sini,” balas salah satu pria sembari beranjak dari duduknya.


“Taran kau itu tampan, kaya dan disukai banyak wanita, kenapa kau tidak memanfaatkan itu untuk bersenang-senang sedikit dengan para wanita yang menyukaimu?”

__ADS_1


Taran kembali menggeleng. “Itu berarti mereka mencintai uangku bukan diriku.”


__ADS_2