
“Tapi kau tahu apa yang dilakukan Shazia, dia langsung menampar tuan Taran dan melemparkan uang yang diberikan tuan Taran padanya.”
“Benarkah!”
“Tentu saja,”
“Andai saat itu aku ada sana, aku pasti akan tertawa paling kencang,” balas Aslan.
“Aku tidak tahu jika pertemuan pertama mereka semenarik itu, aku memang mengakui kak Shazia itu memang benar-benar wanita yang berani, dia bahkan bisa mengalahkan pria dingin dengan ego tinggi itu.”
“Oh, jadi kalian membicarakanku,”
Taran yang tiba-tiba berdiri di belakang keduanya, sontak membuat Aslan dan Aynur terkejut. Keduanya membalas tatapan dingin Taran dengan senyum.
Aslan kemudian segera berdiri. “Apa yang membuatmu kembali Taran, apa ada sesuatu yang tertinggal?”
Taran berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil kunci mobil yang tertinggal.
“Aslan kau lanjutan pekerjaan ini, aku akan kembali nanti,”
Aslan mengangguk, “Ya, aku akan mengerjakannya.”
Taran melirik ke arah Aynur. “Dan untukmu Aynur, kau bantu Aslan mengerjakannya.”
“Apa! Tapi aku tidak ahli dalam hal bisnis seperti ini, Tuan.”
“Jika kau bisa membantu Aslan aku akan memberikanmu imbalan.”
“Benarkah, baiklah aku akan membantu Aslan.”
Setelahnya Taran pun pergi meninggalkan dua makhluk tak kasat mata itu di ruangannya.
“Aslan memangnya apa yang harus kita kerjakan.”
“Sebenarnya pekerjaannya sudah selesai,”
“Eh, lalu untuk apa aku membantumu jika pekerjaannya sudah selesai?”
“Memang masih ada satu yang tersisa, memilih desain logo baru untuk perusahaan, dan dia menyerahkan ini untuk kita berdua.”
Di sisi lain, Shazia yang telah sampai di kediaman Kadriye langsung mengetuk pintu rumah dengan keras.
“Kadriye!”
“Kadriye, buka pintunya!”
“Kadriye aku tahu kau ada di dalam, buka pintunya!”
Tak lama kemudian Kadriye membuka pintu dengan wajah kesal.
__ADS_1
“Ada apa kau kemari?”
“Kadriye kau, berani-beraninya kau melakukan itu!”
“Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak mengganggu keluargaku bukan? Apa yang kau lakukan itu benar-benar keterlaluan.”
“Apa yang aku lakukan? Aku tidak mengganggu keluargamu, aku hanya mengganggumu sedikit, bagaimana kau suka?”
“Kau adalah wanita paling bodoh yang pernah aku kenal. Hanya karena keinginanmu tak terwujud kau mengganggu kebahagiaan orang lain.”
“Dengar aku hanya bermain-main, aku hanya ingin kau ingat posisimu, gadis rendahan dan status sosial tak sepadan malah ingin menjadi nyonya rumah di keluarga Savas.”
“Kau sama dengan anak har*am itu tidak pantas ada di dekat Taran.”
Mendengar ucapannya tentu saja membuat Shazia melayangkan sebuah tamparan ke wajah Kadriye, dan di saat bersamaan Taran datang, ia segera menghampiri Shazia.
Taran menarik istrinya jauh dari Kadriye.
“Apa yang kau lakukan Taran? Kau membelanya!”
“Shazia aku tidak membelanya, aku kemari untuk memastikan dirimu.”
“Lihatlah Taran, istrimu menamparku,” ucap Kadriye sembari memegangi pipinya.
“Aku tidak akan menamparmu jika kau tidak menghina Zihan, aku tidak masalah jika kau menghinaku, tapi kau menghina putraku juga.”
“Aku hanya bicara kenyataan, kenapa kau marah?”
“Sudah cukup kau mengganggu keluargaku, Kadriye.”
“Apa kau tidak pernah menganggap serius perkataanku, hanya karena aku membiarkan kesalahanmu.”
“Untuk paling terakhir kalinya, jangan pernah lagi kau muncul di dekatku, apa lagi mengganggu keluargaku.”
Untuk pertama kalinya Kadriye merasa takut dengan Taran, suara yang dingin dan wajah penuh amarah itu baru kali ini dilihatnya dari sosok Taran, padahal ia sudah sering berbuat ulah tapi pria itu hanya menanggapinya biasa.
Taran kembali menghampiri Shazia, “Ayo kita pulang.”
Shazia terdiam kala ia melihat Kadriye yang terduduk di lantai seperti menangis, sungguh ia merasa kasihan dengan sosok Kadriye kali ini, wanita itu terlihat begitu menyedihkan.
“Shazia ayo kita pulang.”
Shazia kembali menatap Taran, “Kau pulanglah lebih dulu, aku ingin berbicara dengan Kadriye.”
“Kau tenang saja aku tidak akan memukul orang, aku merasa harus menyelesaikan ini dengan Kadriye, aku ingin berbicara dengannya.”
Taran menghela nafas, “Baiklah, terserah kau saja.”
Setelahnya pria itu pun kembali masuk ke mobil dan pergi dari kediaman Kadriye. Sedangkan Shazia, ia secara perlahan menghampiri Kadriye yang menangis.
__ADS_1
“Untuk apa kau masih di sini, pergilah Shazia.”
Shazia tak mendengarkan, ia memegang kedua siku Kadriye dan membuatnya berdiri.
“Kau sudah melihat kekalahanku, kau puas?”
Shazia tak membalas, ia malah memeluk Kadriye. Pelukan hangat Shazia tentu membuat tangis Kadriye semakin pecah.
“Maafkan aku Shazia, maafkan aku.”
“Tidak papa Kadriye, tenangkan saja dirimu.”
Setelahnya Kadriye membawa Shazia masuk ke rumah dan mempersilahkan Shazia untuk duduk. Dengan wajah sembab Kadriye mulai berbicara.
“Maaf jika aku tak pernah mengakui kesalahanku.”
“Aku tahu aku sangat egois, maafkan aku.”
“Sejak kecil aku selalu hidup dengan kemewahan dan semua keinginanku harus dituruti, tapi walau pun begitu aku sangat kesepian, aku hanya memiliki ayah yang terus saja fokus pada pekerjaannya. Tidak ada yang ingin dan benar-benar berteman denganku.”
“Hingga sekarang ketika aku mencapai keinginanku sebagai artis besar dan populer, tetap saja aku kesepian.”
“Orang-orang tidak benar-benar menganggapku, mereka hanya mengagumi kecantikan ini. Baik di luar maupun di dalam semuanya tentang kecantikan,”
“Tidak ada yang memuji tentang prestasiku, atau pun kerja kerasku, Shazia.”
“Semua itu berkat kecantikanmu, kau mudah menjalani semuanya karna kecantikan, kecantikan, dan kecantikan.”
“Setiap apa pun yang berhasil kuraih, semuanya hanya selalu memuji kecantikan. Begitu juga dengan banyak pria yang mendekatiku semuanya hanya mengagumi kecantikan ini.”
“Seolah aku hannyalah wanita tak berguna tanpa kecantikan yang terpahat di wajah ini, lalu bagaimana jika aku bertambah tua dengan banyak keriput, masihkah mereka mengagumiku?”
“Tapi berbeda dengan Taran, aku pikir dia akan sama seperti yang lainnya, setiap apa yang berhasil kuraih untuk sebuah perusahaan, para pemimpinnya hanya memuji bahwa semua itu karna kecantikanku. Tapi Taran dia sangat berbeda, saat aku berhasil membuat perusahaan mendapatkan keuntungan besar, dia tidak memuji kecantikan tapi kecerdasanku dalam merangkai kata dan menawarkan produk.
“Itulah kata-kata yang membuatku sangat senang, bahwa di dunia ini ada menganggapku ada Shazia.”
“Itulah yang membuat aku sangat menyayanginya, aku tidak ingin dia menjadi milik siapa pun, aku hanya ingin dia untukku bagaimana pun caranya.”
“Tapi hari ini aku disadarkan bahwa aku tidak bisa memaksakan cinta pada orang lain.”
Shazia terenyuh mendengar cerita Kadriye, betapa wanita itu sangat kesepian dan hanya ingin ada seseorang yang benar-benar-benar tulus untuknya.
Shazia kembali memeluk Kadriye.
“Kadriye, aku yakin kau akan mendapatkan orang yang tulus dan sangat menghargaimu.”
“Yang sangat mencintaimu tanpa memandang fisik.”
“Sekali lagi terima kasih Shazia,”
__ADS_1
“Sekarang aku mengerti kenapa Zihan bisa begitu menyayangimu, kau benar-benar sosok ibu yang baik.”
“Maaf telah mengusik pernikahanmu, kuharap kau bahagia Shazia.”