
Bersama Banou, Shazia membuat menu sarapan, wanita itu juga begitu antusias menyiapkan bekal untuk putranya.
“Nyonya bekal itu untuk siapa?” tanya Banou.
“Tentu saja untuk Zihan.”
“Tapi kan di sekolah Tuan muda kantin sudah menyiapkan makanan untuk mereka, kenapa Nyonya susah-susah?”
“Dengan begini kan Zihan bisa mengirit uang tanpa harus membeli makanan di kantin,” balas Shazia sembari memasukkan kotak bekal ke tas kecil.
“Tapi Nyonya makanan di kantin sekolah Tuan muda itu semuanya gratis, mereka bisa memilih makan apa saja tanpa harus bayar.”
“Eh memangnya ada sekolah yang seperti itu?”
“Tentu saja ada, itulah mengapa sekolah Tuan Muda termasuk sekolah swasta terbaik, semakin berkualitas pendidikannya, semakin banyak pula uang yang harus dikeluarkan, sungguh biaya pendidikan tuan muda itu membuat jiwa misqueenku ini meronta-ronta,” balas Banou.
“Memangnya biaya sekolah Zihan berapa? Yang kutahu saat masih bersekolah sepertinya dulu, biaya yang dikeluarkan kurang dari dua digit bahkan bisa dibilang gratis.”
“Anda salah Nyonya dua sampai tiga digit hanya untuk satu semesternya.”
“Apa! Aku tidak salah dengarkan, jumlah itu bahkan melebihi pendapatan satu bulan restoran, pantas saja makanan di kantinnya gratis, benar-benar kehidupan orang kaya sungguh berbeda, ya, Banou.”
“Makanan enak, sekolah dengan fasilitas lengkap, gedung sekolahnya pun seperti kastil, pasti menyenangkan jika kita bisa bersekolah di tempat seperti itu juga Banou,” celoteh Shazia sembari menatap kosong tas bekalnya.
Banou menepuk punggung Shazia, “Sudahlah, Nyonya. Walaupun kehidupan orang kaya membuat kita insecure, kita tetap tidak boleh iri pada nasib orang lain, Nyonya.”
Shazia mengangguk, “Sia-sia aku membuat bekal, kalau tahu akhirnya jadi begini.”
Tiba-tiba Banou terdiam, “Tunggu dulu, Nyonya. Anda kan sudah menikah dengan tuan Taran, otomatis Anda juga istri orang kaya sekarang.”
“Oh, iya, ya, Banou. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menggunakan harta orang lain sembarangan, semua itu kan milik tuan Taran bukan milikku.”
“Wow, tampaknya tuan Taran tak salah memilih istri. Jika itu orang lain dan bukan Nyonya, mereka pasti tak ingin repot-repot menyibukkan dirinya di dapur dan lebih memilih sibuk menghamburkan uang.”
Shazia tertawa, “Jika aku punya banyak uang, mungkin aku bisa jadi wanita yang seperti kau katakan itu.”
“Oh, jadi begitu. Jadi Anda memasak hanya untuk mengambil simpati keluarga Savas?”
Shazia semakin tertawa, “Tentu saja tidak, Banou. Aku hanya bercanda,” balas Shazia sembari membawa mangkuk makanan ke meja makan.
“Oh, iya, Banou tolong bawa sisanya, ya. Aku ingin pergi membangunkan Zihan,”
“Ya, Nyonya,” balas Banou sigap yang langsung menuruti perintah Shazia.
Shazia pun segera pergi ke lantai atas, ia pergi menuju kamar Zihan.
“Zihan!” panggil wanita itu sembari mengetuk pintu.
“Zihan!”
“Ya, masuklah Mama. Pintunya tidak di kunci.”
Saat Shazia membuka pintu, ia dapat melihat Zihan yang telah berpakaian rapi sendang membereskan tempat tidurnya. Senyum Shazia pun merekah kala melihat momen tersebut.
Akan tetapi pandangan Shazia dengan cepat teralih saat melihat potret besar yang tergantung di dinding, potret dirinya bersama Zihan dan Taran saat acara kenaikan kelas.
Shazia ternganga saat melihat potret besar tersebut, “Wow, Zihan kapan potret ini bisa ada di sini?”
“Sehari setelah acara, Ma,” balas Zihan sembari menyisir rambutnya.
Itu berarti foto ini sampai sebelum aku menikah dengan tuan Taran, astaga kenapa sekarang aku merasa malu. Shazia.
__ADS_1
“Mama tidak papa?” tanya Zihan yang melihat Shazia terdiam.
“Oh, tidak papa, sayang,” balas Shazia cepat.
“Zihan, kenapa kau tidak menggunakan seragam? Hari ini kan kau sekolah.”
“Mama lupa, sekolah masih libur, kami baru kembali bersekolah kan satu minggu lagi.”
“Astaga, Mama lupa, sungguh akhir-akhir ini mama semakin pikun.”
Zihan tertawa, “Ya, sudah, Ma. Ayo kita ke lantai bawah, mama kemari pasti untuk memanggilku sarapan kan?”
Shazia tersenyum lantas mengangguk, ia menggandeng lengan Zihan dan pergi bersama ke lantai bawah. Di sana Derya dan Defne telah menunggu.
“Selamat pagi, Kakek, Nenek!” sapa Zihan sembari duduk di sebelah sang Ibu.
“Pagi cucuku tersayang,” balas Defne.
“Shazia hari ini kau yang menyiapkan makanan?” tanya Derya.
Shazia menangguk, “Kan aku sudah mengatakanya pada kalian, aku akan membantu Banou memasak sarapan pagi untuk kita.”
“Seharusnya kau tak perlu merepotkan dirimu sendiri, Shazia, di rumah ini kita sama sekali tak kekurangan pembantu, kau bisa menyuruh mereka untuk melakukan pekerjaan.” timpal Defne.
Shazia tersenyum “Tapi tidak semua pekerjaan harus memerlukan pembantu, Ibu mertua. Lagi pula memasak adalah hal dasar yang harus dikuasai setiap manusia, aku sama sekali tak merasa repot.”
“Ibu ini tas bekal siapa?” tanya Zihan yang melihat tas bekal ada di atas meja.
Pandangan Shazia pun teralih ke kotak bekal. “Ya, sebenarnya mama menyiapkan bekal untukmu, tapi mama lupa jika kau masih libur.”
“Kalau begitu boleh aku sarapan dengan bekal ini?”
Shazia mengangguk.
Keempat anggota keluarga itu pun makan dengan nikmat sembari berbincang, keseruan itu sampai membuat mereka tak menyadari akan kepergian Taran.
...****************...
Di restoran, Zihan membantu Shazia membersihkan meja, anak itu begitu semangat membantu sang ibu.
“Ma, piring-piring kotor ini aku yang mencucinya, ya,” pinta Zihan.
“Ya, sayang, tapi hati-hati dalam mencuci,” balas Shazia yang tengah menyapu.
Zihan mengangguk.
“Selamat pagi, Bibi!” sapa Ece yang datang bersama sang ibu.
“Oh, halo selamat pagi Ece,” balas Shazia.
“Bibi hari ini aku ikut ibu membantu di restoran, bolehkan?” tanya Ece.
“Tentu saja boleh, memangnya siapa yang akan menolak bantuan gratis,” balas Shazia dengan nada bercanda.
“Bibi ini tidak gratis, harus bayar dengan kue buatanmu,” balas Ece.
“Ya, ya, baiklah nanti bibi berikan kue,”
Ece pun berjingkrak senang, “Terima kasih, bibi.”
“Baiklah, sekarang pergilah ke dapur, di sana ada Zihan kau bantulah dia mencuci piring, ya, Ece.” Perintah Shazia.
__ADS_1
Mendengar kata Zihan, mata anak itu pun semakin berbinar dengan senyum yang merekah di bibirnya. “Ada Zihan, benarkah bibi?”
“Ya, kau bisa meliatnya sendiri di dapur.”
Tanpa banyak bicara, Ece langsung berlari ke dapur dan datang menghampiri teman dekatnya itu.
“Uh, dia memang sedikit nakal, maaf dia menyusahkanmu Shazia,” ucap Ceyda.
“Tidak papa, bibi, dia tidak menyusahkan sama sekali,” balas Shazia.
Setelahnya semua orang kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, ada yang memasak, mencuci, dan membersihkan restoran.
Tak lama kemudian, pintu restoran terbuka dan seorang wanita masuk bersamaan dengan bel pintu yang berbunyi, membuat seluruh pasang mata menatap ke arah pintu.
Shazia yang merasa tak asing dengan wanita itu pun segera datang menghampiri.
“Oh, nyonya Manorya.”
...****************...
Manorya duduk di salah satu meja, ia mengajak Shazia untuk berbicara sembari minum teh bersama.
“Saya tak menyangka kalau Anda akan datang secepat ini.”
Manorya tersenyum, “Lebih cepat lebih baik bukan?”
“Jadi Nyonya apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?”
“Aku belum tahu, biarkan aku memikirkannya lebih dulu,” balas Manorya sembari menyeruput tehnya.
Wanita ini aneh padahal waktu itu dia yang meminta ingin bertemu dan mengatakan ingin membicarakan sesuatu, tapi nyatanya dia hanya mempermainkanku. Shazia
“Kalau begitu bisakah saya menanyakan sesuatu pada Anda?”
“Ya, silakan.”
“Begini, suamiku mengatakan bahwa kaulah yang dulu mengantarkan Zihan ke kediaman Savas, apakah itu benar?”
Wanita tua itu pun mengangguk.
“Berarti Anda tahu tentang ibunya Zihan? Bagaimana kabarnya sekarang?”
Manorya menatap santai Shazia, “Kenapa kau malah ingin mencari tahu tentangnya? Bukankah kau sudah bahagia bersama suami dan putramu.”
“Aku hanya ingin tahu siapa dia,” balas Shazia.
“Kalau begitu tak perlu tahu, tak ada gunanya kau tahu tentang wanita itu.” Manorya kembali menyeruput tehnya.
“Tapi kan Anda mengenalnya.”
“Ya, itu dulu, tapi sekarang aku tak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Terakhir kali aku bertemu mungkin setelah wanita itu melahirkan Zihan dan aku membawa putranya itu ke kediaman Savas.”
“Jadi maksudnya Anda yang memisahkan Zihan dengan ibu kandungnya?”
Manorya tertawa, “Tentu saja tidak, wanita itu tidak bisa merawat putranya meski dia ingin, itu sebabnya aku membawa Zihan pada ayahnya.”
“Aku tidak tahu apa sekarang dia masih hidup atau mati, tidak ada yang tahu kabarnya seperti apa.”
Shazia pun terdiam dengan wajah kecewa akibat jawaban yang kurang memuaskan baginya.
“Dari pada kau mencari wanita itu, lebih baik kau atur hidupmu bersama suami dan putramu, Shazia. Karna di luaran sana banyak wanita yang mengincar posisimu itu.”
__ADS_1
“Ya, Nyonya,” balas Shazia tak bersemangat.
Asalkan Zihan denganku, tak masalah jika mereka ingin mengambil atau mengincar tuan Taran, itu malah lebih baik bagiku. Shazia.