
Pagi hari, setelah mereka mengantar kepergian Taran, Shazia langsung pergi mengatar Ece dan Zihan ke sekolah, barulah setelahnya ia akan pergi ke restoran.
Saat itu ketika ia melewati jalan perkotaan seperti biasa dan harus berhenti karena lampu merah, Shazia malah merasa pusing kala menatap sekitarnya, padahal ia sudah sering melewati jalan tersebut.
“Mama, mama tidak papa?” tanya Zihan yang melihat raut wajah Shazia berubah.
“Tidak papa sayang, entah mengapa sejak mama jatuh dari tangga, rasanya kepala mama mudah sekali terasa pusing.”
Wajah Zihan berubah khawatir, “Mama, tidakkah seharusnya mama pergi ke dokter, aku takut akibat terjatuh dari tangga ada yang luka di tubuh mama.”
“Tidak papa sayang, mungkin karna mama merasa lelah saja, makanya mudah merasa pusing,” balas Shazia yang kembali melajukan motornya.
“Bibi benar-benar tidak papa?”
“Ya, bibi baik-baik saja, jangan khawatir Ece.”
“Sekarang yang kalian berdua fokuskan itu bukanlah mama atau bibi, tapi kalian harus fokus pada sekolah dan bagaimana kalian menjalaninya hari ini.”
...****************...
Pada malam hari Shazia yang sendirian di kamarnya itu duduk di sofa, ia terdiam memikirkan sebab dari sakit kepalanya itu.
“Kenapa sejak terjatuh dari tangga kepalaku sering kali merasa pusing?”
“Apakah aku gagar otak karna itu?”
Lamunan Shazia langsung buyar kala dering teleponnya berbunyi, ia segera mengangkat telepon dari sang ayah.
“Ya, ada apa Ayah?”
“Aku baik-baik saja, lalu ayah?”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Ya, sudah lama aku tak ke rumah ayah, aku akan berkunjung sekaligus membereskan beberapa barangku di sana.”
“Tentu jika Ece dan Zihan tak bersekolah aku akan membawa mereka ke sana.”
“Baiklah Ayah, selamat malam.”
Shazia mematikan teleponnya, kini ia merasa hampa di ruangan yang sunyi itu, tak seperti biasanya yang selalu ada Taran di kamar.
“Kira-kira apa yang dilakukan Taran sekarang? Apa dia tidur dengan nyenyak?”
“Ah, sudahlah kenapa aku harus repot-repot memikirkan dia, dia pasti sudah tidur nyenyak sekarang.”
“Dari pada aku terus diam di kamar ini, lebih baik aku pergi ke kamar Zihan.”
Shazia beranjak dari sofa, ia lalu mengambil bantal dan selimut dan pergi meninggalkan kamarnya menuju kamar Zihan, ia berniat untuk tidur bersama putranya saja selama beberapa hari.
Saat ia tiba di kamar putranya, Shazia dapat melihat Zihan dan Ece yang bermain di lantai beralaskan selimut.
“Hei, Zihan, Ece kalian berdua belum tidur?”
Keduanya menggeleng secara bersamaan.
“Kenapa?”
“Karna kami masih ingin bermain dan Ece juga tidur bersamaku di kamar.”
“Kau tidur bersama Zihan, Ece?”
__ADS_1
“Ya, aku takut tidur sendirian jadi aku tidur di kamar Zihan saja.”
“Dan kau tidur di lantai Ece?” Kala melihat bantal di atas selimut.
Ece mengangguk.
“Astaga kenapa kau tak memberitahukannya pada bibi, bibi kan bisa mengambilkanmu selimut tebal dari pada selimut tipis itu.”
“Tidak papa Bibi. aku tidak merasa pegal tidur di lantai, entah jika bibi, mungkin bisa sakit seluruh badan karnanya.”
“Eh kau ini, namanya juga bibi sudah bertambah tua, tentu saja tubuh bibi juga ikut menua. Kalian berdua juga akan merasakan hal yang sama nanti jika sudah dewasa.”
Zihan dan Ece langsung tertawa mendengar jawaban Shazia.
Sedangkan wanita itu kemudian pergi sesaat dan kembali dengan membawa selimut tebal.
“Mama, kenapa mama membawa dua selimut tebal?”
“Ya, karna mama akan tidur di kamar Zihan juga.”
“Wah, jadi bibi akan tidur di sampingku nanti?” tanya Ece.
“Tentu saja bibi akan tidur di sampingmu, malam ini bibi akan menceritakan dongeng juga untuk kalian.”
“Itu tidak adil, kalau begitu aku juga ikut tidur di bawah bersama mama,” timpal Zihan dengan mulut mengerut dan bersilang dada.
Shazia tertawa, “Ya, hari ini kita bertiga akan tidur di bawah. Mama akan menceritakan kalian kisah sampai kalian tertidur.”
Dan benar saja, ketiganya tidur di lantai beralaskan selimut tebal, Shazia tidur di tengah antara Zihan dan Ece yang berada di sisi kiri dan kanannya.
“Jadi ini adalah kisah dari sebuah negeri antah-berantah, di mana negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana, rakyat-rakyatnya hidup sejahtera di bawah kepemimpinan sang raja.”
Sementara itu di sisi lain, Taran yang telah selesai dengan pekerjaannya dan berniat ingin kembali ke kamar hotel tampak di cegat oleh dua wanita cantik saat ia ingin keluar dari ruangan.
“Apa yang kalian inginkan?”
Dua wanita itu tak menjawab, keduanya malah bergelayut di tangan Taran sembari menyentuh wajah pria itu.
“Tuan Anda ingin ke mana? Kenapa buru-buru sekali? Habiskanlah malam bersama kami.”
“Ayo kita minum-minum bersama tuan tampan, masa pria seperti Anda tidak ingin menghabiskan waktu bersama kami?”
Taran mendengus kesal, itulah yang ia benci jika harus menemui seseorang menyangkut pekerjaan yang membuat janji di Klub malam.
Tanpa membalas, Taran langsung melepaskan tangan dari dua wanita itu, ia kemudian mengeluarkan semua uang dari dompetnya dan membagikannya sama rata pada dua wanita tersebut.
“Ambillah uang ini, ini kan yang kalian inginkan?”
Terlihat ekspresi senang di wajah keduanya setelah menerima uang dari Taran.
Pria itu pun lalu pergi meninggalkan dua wanita tersebut dan kembali ke kamar hotelnya. Di sana ia langsung melepaskan jas dan dasinya.
Sama halnya seperti Shazia, ia juga merasa hampa di kamar hotel yang luas tersebut.
Kenapa tiba-tiba aku merindukan Zihan dan Shazia? Taran.
Taran berjalan mendekat ke arah jendela, melihat pemandangan malam dan angin yang berembus menerpanya, membuat Taran kembali mengingat masa lalunya.
Bohong jika ia telah melupakan apa yang terjadi dengannya dan ibu kandung Zihan. Meskipun Taran sama sekali tak ingat wajahnya, tapi sampai saat ini ia masih penasaran seperti apa orang itu.
Setiap Taran mencoba mencari tahu, hanya jalan buntulah akhir yang ia temui, dulu setiap cara Taran lakukan untuk mencarinya tapi hasilnya selalu nihil. Seolah ia tak ingin Taran mengetahui siapa dirinya.
__ADS_1
“Dulu aku berharap kau akan muncul suatu saat nanti, tapi kini aku berharap kau tidak akan pernah datang ke keluargaku.”
...****************...
“Ayah rumah ini sudah banyak berubah, ya,”
“Tentu saja, kita sudah pindah ke sini sepuluh tahun, bagaimana dia bisa tetap sama?”
Shazia yang memperhatikan setiap sudut rumah, tampak mengingat-ingat kembali kenangannya dulu saat masih tinggal di rumah tersebut.
“Ayah apakah ayah menyesal menjual rumah yang dulu demi pengobatanku? Dari rumah yang besar sekarang hanya tinggal di rumah kecil.”
Erhan yang sibuk menyeduh teh itu pun menatap putrinya, “Shazia, setiap ayah pasti akan melakukan yang terbaik demi membahagiakan anak-anaknya. Kesehatanmu adalah yang terpenting bagi Ayah, lagi pula dari pada rumah besar itu ayah lebih suka rumah yang sekarang.”
“Meski kecil, rumah ini lebih nyaman dan tenang dari pada rumah besar itu.”
“Maaf telah menjadi anak yang nakal bagimu, Ayah.”
“Kenapa kau tiba-tiba begitu putriku? Ayo sekarang duduklah, kita minum teh bersama.”
Shazia tersenyum senang, ia duduk bersama sang Ayah sambil membicarakan tentang usaha keduanya.
“Kenapa kau tidak membawa Zihan dan Ece kemari, jika mereka ada di sini ayah kan bisa menceritakan banyak kisah untuk mereka.”
Shazia tertawa kecil, “Kau tahu Ayah, karnamu, Zihan selalu saja ingin tahu tentang cerita orang lain, ia juga sampai menanyai bagaimana masa lalu ibu dan ayah mertua,”
“Ayah aku merasa anak itu sudah banyak berubah sekarang, dia lebih aktif dan terbuka dari pada saat pertama kali aku bertemu dengannya.”
Mendengar Shazia yang begitu antusias menceritakan Zihan pada sang ayah, membuat binar mata Erhan meredup, wajah itu menatap Shazia dengan penuh rasa bersalah.
“Ayah, ada apa?”
“Kenapa wajahmu tampak sedih begitu?”
Erhan menggeleng, “Tidak papa, ayah hanya tak percaya kau yang dulu masih kecil kini telah dewasa dan memiliki keluarga.”
“Ayah senang kau bisa dekat dan menyesuaikan dirimu dengan orang-orang, jadinya ayah tak khawatir lagi tentangmu.”
“Ayah, kau jangan membuatku ingin menangis, mendengar kata-katamu itu membuatku jadi ikut sedih.”
Erhan terkekeh, “Ya, ya, maafkan Ayah. Sekarang ayo kau kumpulkan barang-barang yang ingin kau bawa, kita akan menghabiskan banyak waktu jika terus bersantai seperti ini.”
Shazia mengangguk, wanita itu melangkah pergi menuju kamarnya. Saat pintu kayu itu terbuka, Shazia dapat melihat kamar kecilnya yang nyaman.
“Setelah pindah ke restoran, aku sudah sangat jarang menempati kamar ini lagi.”
“Oh, Ayah, semua furniturnya yang tetap berada di tempat yang sama, membuatku mengingat masa perjuanganku membangun restoran.”
“Kamar ini benar-benar penuh dengan kenangan.”
Shazia berjalan memasuki kamarnya, ia lebih dulu menyibak tirai jendela agar sinar matahari dapat masuk. Akan tetapi lagi-lagi Shazia merasa pusing, otaknya seolah memutar kembali potong-potongan masa lalu yang tidak pernah ia tahu.
“Kenapa lagi-lagi kepalaku jadi pusing begini?” gerutu Shazia sembari memijit-mijit kepalanya dengan satu tangan.
“Ada apa Shazia?”
“Ayah, aku tidak tahu kenapa sejak jatuh dari tangga aku mudah sekali sakit kepala.”
“Shazia jika kau sakit istirahat saja, kau bisa mengambil barang-barangmu di lain hari, putriku."
“Tidak papa, aku sudah ada di sini, dan barang-barang yang kuambil juga tidak seberapa jadi tidak akan sakit.”
__ADS_1