Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 36 - Kekasih Taran?


__ADS_3

Sesampai di kantor Taran, Shazia dibuat takjub akan besarnya kantor tersebut. Dulu ia hanya bisa melihat dari luar, dan kini ia akan masuk ke sana.


“Setelah semua ini, aku masih belum percaya telah menikah.”


Shazia menghela nafas panjang dan dengan percaya diri masuk ke kantor.


“Selamat datang Nona, apa yang bisa saya bantu untuk Anda?” tanya sang resepsionis.


“Hmm, saya ingin menemui Taran Savas, katakan bahwa Shazia Altair mencarinya.”


“Baiklah, Nona, saya akan menelepon Tuan terlebih dahulu.”


Di sisi lain, di ruangannya Taran kedatangan seorang tamu tak diundang. Seorang wanita yang banyak menjelekkan keluarga Savas dan nama baiknya di media.


“Apa lagi yang kau lakukan di sini Kadriye?” tanya Taran yang masih memasang wajah tenang.


“A-aku merindukanmu Taran, semakin aku mencoba semakin aku tak bisa melupakanmu.”


“Apa kau tidak waras Kadriye, aku sudah menikah.”


“Menikah? Menikah dengan seorang yang tak kau cintai itu?”


“Dibanding wanita itu aku lebih baik, Taran!”


“Tidak bisakah kau melihat cintaku, aku sangat-sangat mencintaimu.”


Taran menghela nafas panjang, Ia berdiri dari kursinya dan menghampiri Kadriye.


“Cintamu itu sebuah obsesi yang berlebihan. Berapa kali aku mengatakannya padamu Kadriye, aku sama sekali tidak mencintaimu. Apa perlu aku memperjelasnya lagi?”


Wajah sedih Kadriye semakin bertambah kala mendengar perkataan Taran.


“Aku tak peduli kau mengatakan apa tentangmu aku akan selalu mencintaimu, jauh dari pada anak har*am itu!”


“Kadriye jaga ucapan itu, jangan sampai aku menghancurkan kariermu sebagai artis, pergilah dari sini,” balas Taran penuh penekanan.


Tiba-tiba dering telepon Taran berbunyi, ia dengan segera mengambil telepon dari meja kerjanya.


“Baik, suruh dia menemuiku di ruangan.”


Taran lalu berjalan ke arah pintu, ia membuka lebar pintu ruangannya, dan berjalan mendekati Kadriye.


“Sebelum aku memanggil keamanan, baiknya kau pergi dengan inisiatifmu sendiri Kadriye.”


Kadriye yang mendengar percakapan dalam telepon berusaha tetap berada di ruangan Taran. “Taran aku benar-benar tak bisa hidup tanpa dirimu, Kumohon terima cintaku,” pinta Kadriye dengan wajah memelas.


Taran tak bergeming, ia masih memasang wajah datar dengan tatapan tajamnya menatap Kadriye.


“Pergi,”


“Selagi aku masih berbicara baik padamu, maka pergilah sekarang.”


Kadriye yang sadar akan Shazia yang segera datang ke ruangan, langsung memeluk Taran dengan erat. Shazia yang melihat itu seketika menghentikan langkahnya, senyum puas terukir di wajah Kadriye kala melihat ekspresi Shazia.


Shazia segera bersembunyi di balik dinding, ia mengurungkan niatnya untuk masuk, dan mencoba menenangkan jantungnya yang terasa sesak tiba-tiba.


Uh, hampir saja aku mengganggu tuan Taran dengan kekasihnya, sungguh kau ini tak berguna Shazia! Shazia.


“Aku sangat mencintaimu Taran, aku sangat mencintaimu lebih dari wanita yang kau jadikan istri itu!” ucap Kadriye dengan suara nyaring.

__ADS_1


“Tak peduli apa pun itu aku akan selalu mencintaimu dan aku rela memberikan apa saja untukmu.”


“Aku bahkan lebih cantik dari pada istrimu itu, kenapa kau malah menikahi wanita seperti itu?”


Shazia yang mendengar kata-kata Kadriye merasakan dadanya semakin sesak.


Padahal aku tak mencintai tuan Taran, tapi kenapa rasanya sesesak ini mendengar kata-kata dari kekasih tuan Taran? Kenapa rasanya aku tak rela melihatnya memeluk wanita lain? Shazia


Oh Shazia bodohnya kau! Memangnya kau berharap apa dari pernikahan yang tanpa cinta ini ha? Jika memang tuan Taran punya kekasih yang ia cintai kenapa kau harus merasa sakit? Shazia


Baiklah Shazia dari pada kau mengganggu tuan Taran dan kekasih nya lebih baik kita pergi dari sini. Shazia.


Shazia akhirnya mengurungkan niat untuk memberikan langsung berkas tersebut, dan memilih pergi dengan langkah pelan agar tak menimbulkan suara.


“Betapa tak sopannya tindakanmu ini Kadriye.” Taran melepas kasar pelukan Kadriye.


“Sekarang pergilah, tindakan kurang ajarmu masih bisa aku maafkan kali ini. Aku masih sangat sopan untuk memintamu pergi Kadriye.”


“Dan ingat jangan pernah lagi kau merendahkan istri dan keluargaku dengan mulutmu itu, karna aku tak akan segan-segan menghancurkan kariermu sebagai artis.”


“Untuk apa kau membela wanita biasa seperti itu? Dari segi mana pun aku lebih baik darinya, aku bahkan lebih cantik dari wanita rendahan itu.”


“Tapi bagiku, dialah yang paling baik dari siapa pun dan kau tak berhak merendahkannya, kau tak ada apa-apanya dibandingkan dia”


Wajah Kadriye berubah kesal mendengar jawaban Taran, ia langsung pergi dari ruangan Taran.


“Sekarang kenapa aku menyesal pernah mengajaknya bekerja sama dengan perusahaan ini?”


“Hanya karena dia artis paling terkenal di negeri ini, dia tidak punya hak melakukan semua sesukanya.”


“Aku akan menyuruh keamanan agar dia tak bisa masuk sembarangan ke kantor lagi,” gerutu Taran.


Taran berbalik kala mendengar seseorang memanggilnya.


“Tuan saya kemari ingin membawakan berkas dan bekal yang dititipkan oleh nona Shazia Altair.”


“Dia menitipkannya? Bukankah kau bilang dia yang akan langsung mengantarkannya?”


“Saya juga tidak tahu Tuan, tadi tiba-tiba nona Shazia kembali ke meja resepsionis dan menitipkan ini.”


“Oh, iya nona Shazia juga berpesan bahwa dia tidak bisa menemui Tuan karena ada urusan penting, ia juga bilang bahwa tuan harus menghabiskan bekal yang dibawa, karna jika tidak dia tidak akan memasak lagi.”


“Urusan penting? Baiklah taruh saja itu di meja.”


Sang resepsionis itu pun mengangguk dan meletakannya di atas meja Taran.


“Setelah ini kau beritahu pada keamanan agar melarang masuk Kadriye ke kantor ini lagi. Begitu juga dengan kalian, jangan membiarkannya masuk, dia tidak lagi menjadi brand ambasador di perusahaan ini.”


“Baiklah Tuan saya akan menyampaikannya.”


“Dan, ya, tentang wanita bernama Shazia Altair, dia itu istriku, jangan memanggilnya dengan sebutan nona. Jika dia datang lagi ke kantor ini perlakukan dia dengan baik.”


“Baik Tuan, maaf atas kesalahan saya. Kalau begitu saya permisi.”


Aku tidak menyangka, wanita yang berpenampilan biasa tanpa barang mewah dan pakaian glamor itu istrinya Tuan, saat mendengar pernikahannya aku pikir Tuan menikah dengan seseorang yang penampilannya seperti Kadriye. Batin sang resepsionis.


Tapi walaupun begitu aku suka Nyonya Shazia, dia berpenampilan biasa dan tutur katanya juga sopan, jauh berbeda dengan para wanita yang mencari Tuan sampai ke kantor, penampilan mewah dan wajah yang angkuh, siapa yang suka itu?


...****************...

__ADS_1


Shazia yang kini telah berada di restoran, tampak mulai bekerja, ia menurunkan kursi dari meja dan merapikannya. Tapi bagaimana pun Shazia mencoba fokus, ia terus saja teringat akan Taran yang memeluk wanita lain.


Fokuslah Shazia, kenapa kau selalu memikirkannya? Kau dan tuan Taran itu tak saling mencintai, jika dia memang punya wanita lain kau tak berhak cemburu Shazia. Shazia


“Selamat pagi Shazia!” sapa Aynur yang baru datang.


“Oh, selamat pagi Aynur.”


Aynur menghampiri Shazia, ia menatap lekat wajah sahabatnya itu.


“Kenapa hari ini wajahmu murung seperti itu Shazia? Apa kau bertengkar dengan suamimu?”


“Tidak, aku tidak bertengkar. Setiap orang punya mood yang sering kali berubah-ubah tanpa alasan, ya, begitu juga denganku suasana hatiku sedang jelek hari ini.


“Oh, begitu, baiklah,” balas Aynur yang kemudian pergi meninggalkan Shazia.


Shazia menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah Aynur. “Aynur, Aynur, jika tidak ada berita menarik saja kau langsung pergi meninggalkanku.”


“Memangnya untuk apa aku menemanimu? kau kan bukan anak kecil lagi,” balas Aynur dari dapur.


“Kau selalu saja menyebalkan!”


Setelah semuanya siap Shazia membuka restorannya seperti biasa, begitu para pelanggan mulai berdatangan, untuk sesaat wanita itu lupa akan apa yang mengusik pikirannya.


Waktu terus bergulir, tak terasa hari telah sore. Shazia yang letih mengistirahatkan sejenak tubuhnya itu di salah satu kursi restoran.


“Untung sudah tak ada pelanggan, aku jadi bisa beristirahat sejenak,” ucap Shazia sembari mengipas tubuhnya dengan buku.


Tak lama Aynur datang menghampiri Shazia dengan wajah penuh amarah. Di tangannya gadis itu membawa sebuah ponsel.


“Shazia apa kau sudah baca berita terbaru?”


“Berita tentang apa?” tanya Shazia dengan nada malas.


“Kau tahu Shazia, Kadriye, artis terkenal di negeri ini, dia mengeluarkan pernyataan bohong tentang suamimu, tentang tuan Taran.”


“Apa yang dia katakan?” tanya Shazia yang masih dengan wajah tak tertarik.


“Aih, Shazia. Sejak pernikahanmu, wanita itu mengeluarkan pernyataan bohong tentang tuan Taran. Sungguh membaca judul beritanya saja sudah membuatku sangat kesal.”


“Oh, benarkah.”


“Shazia, kenapa kau memasang wajah tak tertarik seperti itu? Setidaknya dengarkan aku berbicara.”


“Kadriye wanita itu mengungkapkan di media bahwa dia adalah kekasih tuan Taran, dan mereka saling mencintai. Tapi hadirnya orang ketiga membuat hubungannya dengan tuan Taran rusak, dan tuan Taran malah lebih memilih orang ketiga tersebut dan menjadikannya sebagai istri.”


“Sungguh Shazia aku kesal sekali mendengar kata-katanya itu, dia berbicara sambil menangis seolah-olah dia adalah korban. Aku yakin dia bersikap seperti itu karena perusahaan Savas memutus kontrak dengannya.”


“Beruntung tuan Taran punya kekuasaan, sehingga para media tak berani mengorek masalah keluarga Savas apalagi mengambil foto mereka. Ya, tuan Taran benar-benar menjaga privasi kalian Shazia.”


“Biarkan saja, Aynur. Aku tak peduli orang-orang mencaciku seperti apa atau mereka ingin beranggapan apa tentangku, selama aku masih bisa bersama Zihan perkataan orang-orang itu tak ada apa-apanya sama sekali,” balas Shazia.


“Shazia, kau selalu saja seperti itu, kau selalu rela berkorban demi orang yang kau sayangi. Ya, kuharap pernikahanmu dengan tuan Taran bahagia.”


“Oh, iya Shazia kau ingin melihat foto artis terkenal itu, lihatlah ini.” Aynur menyodorkan ponselnya pada Shazia.


Melihat wanita dalam foto membuat Shazia mengingat wanita yang memeluk Taran, wanita yang tersenyum puas ke arahnya kala menyadari kehadiran Shazia.


Apakah wanita bernama Kadriye ini kekasihnya tuan Taran? Kenapa aku jadi kesal melihat wajahnya? Shazia.

__ADS_1


__ADS_2