
“Mama!” teriak Zihan yang baru saja datang ke restoran.
“Wah, Zihan, putra mama sudah pulang sekolah, ya.”
“Oh, iya, mama kan berjanji untuk menjemputmu, apa Zihan pulang jalan kaki?”
Zihan menggeleng, “Tidak mama aku kemari bersama paman Aslan.”
“Benarkah, lalu di mana Pamanmu?”
“Katanya paman mengambil sesuatu di mobil.”
“Nah, lihat baru saja dibicarakan paman sudah datang,” ucap Zihan lagi sembari menunjuk sang paman.
Aslan tersenyum ke arah Zihan dan Shazia, “Kak, selamat atas pernikahanmu dengan Taran.” ucapnya yang datang menghampiri keduanya.
“Terima kasih Aslan, kenapa Kau baru terlihat sekarang? sejak menikah dengan Taran aku tak melihatmu”
“Maaf tidak bisa hadir di hari pernikahan kalian berdua, Kak. Selama ini aku pergi ke New York untuk menggantikan Taran mengurus bisnis di sana.”
“Oh, begitukah. Jadi kau baru datang baru-baru ini.”
“Ya tepatnya dua hari yang lalu.”
“Kalau paman sudah pulang dua hari lalu, kenapa tidak berkunjung ke rumah?” tanya Zihan.
“Paman ingin saja datang berkunjung, tapi perkerjaan di kantor sangat banyak, paman baru bisa datang hari ini.”
“Wah pamannya Zihan datang, sudah lama aku tak melihatmu, kau pergi ke mana saja?” tanya Aynur yang datang menghampiri ketiganya.
“Aku ada pekerjaan di luar negeri, dan baru kembali dua hari yang lalu,” balas Aslan.
“Kalau begitu apa paman membawakan oleh-oleh dari sana?“ tanya Zihan lagi
“Ya, paman membeli beberapa cokelat dari sana, untuk membeli oleh-oleh lain paman benar-benar tak sempat.”
Zihan tersenyum senang, “Tidak papa Paman, lagi pula coklat juga enak,” sahut Zihan yang menunggu sang paman memberi coklat.
Aslan tertawa kecil, ia mengambil dua buah cokelat dari kantong tas yang ia bawa sejak masuk ke restoran dan memberikannya pada Zihan.
“Terima kasih paman!” Anak-anak laki-laki itu langsung pergi ketika coklat telah ada di lengannya.
Aslan mengangguk, “Kak Shazia, Aynur, ini coklat untuk kalian dan karyawan lainnya,” ucap Aslan lagi sembari memberikan kantong tas tersebut pada Shazia.
“Terima kasih Aslan,” balas Shazia yang menerimanya.
Begitu pula dengan Aynur, ia mengambil cokelat bagiannya dan mengucapkan terima kasih pada Aslan.
“Ih iya, kak. Aku ingin makan di sini, bisakah aku memesan cay dan Kofte?
__ADS_1
“Tentu saja ayo duduklah dulu di salah satu tempat kosong, aku akan membuatkan pesananmu dengan cepat,” balas Aynur.
...****************...
Pada malam hari, Shazia yang telah berganti dengan baju piama terlihat sedang menikmati waktunya dengan menonton drama di atas sofa.
Dari pada terus memikirkan tuan Taran akan lebih baik jika aku menonton film saja. Shazia.
Ditemani pop corn yang dibelinya sebelum pulang, Shazia menonton film kesukaannya lewat laptop.
“Jika menonton film ini bersama Zihan pasti akan lebih seru, tapi sayang sekali anak itu sedang belajar dan tak dapat diganggu sedikit pun.”
“Dia benar-benar jiplakan ayahnya, padahal ketika aku seumurnya aku sering kali tak mengerjakan PR dan lebih mementingkan bermain, apalagi membaca buku pelajaran untuk mengisi waktu luang itu sungguh jauh dari pikiranku.”
“Sungguh, putraku itu benar-benar berbeda dari yang lain, memang pantas jika dia menjadi siswa terbaik,” puji Shazia.
Wanita yang terlalu serius menonton itu pun pada akhirnya kalah dengan rasa kantuk, ia tertidur di sofa dengan laptop yang masih menyala.
Malam semakin larut, Taran pulang seperti biasa dan ketika ia mendapati Shazia yang tertidur di atas sofa, pria itu menghela nafas panjang.
“Sekarang aku merasa seperti punya dua anak.”
Pria itu meletakan jasnya di atas ranjang lalu berjalan mendekati Shazia, ia menatap lekat wajah istrinya yang tertidur pulas. Setelah mematikan laptop Shazia, Taran berniat untuk menggendong sang istri.
Tiba-tiba Shazia membuka matanya, ia terkejut melihat Taran dan langsung menepis lengan suami yang ingin menggendongnya itu, Shazia langsung kembali duduk.
“Memangnya apa lagi, selain mengangkatmu ke ranjang.”
Melihat wajah Taran membuat Shazia mengingat kembali kejadian yang dilihatnya tadi pagi. Karenanya Shazia membuang muka dari Taran.
“Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri.” Balas Shazia sembari beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ranjang.
Taran bingung saat melihat Shazia yang seolah menjaga jarak darinya, “Ya, terserah apa yang kau inginkan,” sahut Taran yang kemudian pergi ke kamar mandi.
Kenapa saat melihat wajahnya membuatku selalu mengingatnya dengan wanita bernama Kadriye itu? Shazia.
...****************...
Di pagi hari Shazia yang telah selesai mandi bersiap untuk pergi ke lantai bawah, ia berniat menghabiskan hari minggunya dengan memasak dan mengajak Zihan bermain.
Kala itu Taran baru saja bangun, Shazia yang tengah menggulung rambutnya itu pun menatap sekilas sang suami.
“Kau tidak pergi ke kantor, Ayahnya Zihan?”
“Hari ini hari minggu,” sahut Taran.
“Bukankah biasanya kau tetap pergi ke kantor, tak peduli itu hari libur atau tidak.”
“Ada batasan untuk semua itu, dan aku bukan manusia robot yang tidak bisa merasakan lelah,” balas Taran sembari membuka gorden jendela.
__ADS_1
“Ya, aku tahu itu, tapi tak biasanya aku melihatmu seperti ini, selama menikah kau selalu bekerja bahkan di hari minggu.”
Selesai menata rambutnya, Shazia berniat turun ke lantai bawah.
“Kau ingin pergi ke bawah Shazia?” tanya Taran yang melihat Shazia ingin membuka pintu
Shazia membalas tanpa berbalik, “Ya, apa ayahnya Zihan butuh butuh sesuatu?”
“Jika kau kembali, bisakah kau membawakanku teh?”
“Baiklah, aku akan membawakannya untukmu,” ia pun kembali melanjutkan langkahnya.
Ya, Shazia memulai aktivitasnya seperti biasa bersama Banou, membuat sarapan dan makan bersama mertua juga putranya.
“Zihan apa kau ingin pergi ke luar bersama mama?” tanya Shazia sembari menyusun piring.
“Pergi ke luar, tentu saja aku mau!” balas Zihan kegirangan.
“Baiklah sore nanti kita akan jalan-jalan bersama.”
“Ya, mama. Kalau begitu apa mama bisa menemaniku bermain di taman setelah ini?”
“Ya, sayang mama akan menemanimu. Tapi setelah mama mengantarkan teh untuk Papamu, ya.”
“Oke, aku akan menunggu mama di taman,” balas Zihan yang berlari langsung berlari ke taman.
“Baik, tunggu mama, ya Zihan!”
Setelah mengantar piring kotor ke dapur, Shazia membuat teh untuk Taran. Ia membawa nampan berisi teh dan camilan sebagai tambahan itu ke lantai atas.
Tapi sesampainya di kamar, Shazia tak mendapati suaminya ada di sana.
“Permisi, apa kau melihat tuan Taran,” tanya Shazia pada salah satu pelayan yang kebetulan tengah menyedot debu di dekat kamar.
“Oh, tuan Taran ada di ruang olahraga, Nyonya.”
“Ruang olahraga?”
“Anda tidak tahu? Dari kamar ini ada tinggal berjalan lurus, ruangannya ada di paling ujung, Nyonya,” jelas pelayan tersebut.
“Baiklah terima kasih,”
“Sama-sama Nyonya,” balas pelayan itu sembari melanjutkan pekerjaannya kembali.
Uh, betapa besarnya rumah ini sampai ada ruang olahraganya segala, padahal sudah lebih dari sebulan aku tinggal di sini tapi masih saja banyak ruangan yang belum kutahu. Lain kali aku akan mengitari dan mencari tahu setiap bagian rumah ini. Shazia
Shazia dengan langkah gontainya berjalan sesuai arahan sang pelayan, dan benar saja Shazia menemukan ruangan yang terbuka. Tanpa pikir panjang wanita itu masuk.
Di sana Taran yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana trainning tengah melakukan push-up. Untuk sesaat wanita itu tertegun melihat dada bidang dan perut kotak sang suami.
__ADS_1