
“Ini jus yang kau pesan, ayo minumlah,” ucap pria itu yang kembali duduk di dekat Taran.
“Terima kasih.”
Ketiganya pun banyak berbincang, membuat Taran meminum jusnya karna haus. Dua pria yang melihat itu pun saling pandang, muncul seringai miring di wajah keduanya.
Beberapa saat setelah Taran meminum jusnya, ia merasa pusing tapi tetap meneruskan pembicaraan dengan dua pria di hadapannya. Akan tetapi semakin lama Taran merasa sulit fokus.
“Taran kau tidak papa?”
Taran menggeleng. “Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini, aku akan kembali ke kamar lebih dulu.”
“Ya, kau benar, sepertinya kita harus kembali ke kamar masing-masing, apa lagi kita baru datang hari ini. Kau pasti sangat lelah, ya? Ayo kita pergi.”
Taran mengangguk, ketiganya lalu beranjak dari kursinya masing-masing dan berjalan pergi menuju kamar hotel yang dipesan, di lorong pria itu mulai berjalan terhuyung.
“Ada apa denganku, kenapa jadi begini?"
Melihat keadaan Taran, dua pria itu langsung mendekat ke arahnya.
“Kau tampaknya sedang mabuk berat, ayo biar aku yang mengantarkanmu sampai ke kamar hotel.”
“Bagaimana aku bisa mabuk, jika yang aku minum hanya jus.”
"Kau saja yang tidak sadar, kau minum bayak alkohol tadi."
"Tidak perlu membantuku, aku bisa berjalan sendiri."
“Tidak perlu bagaimana, jika kau pingsan siapa yang akan membawamu,” ucap pria tersebut meyakinkan Taran dan langsung memapahnya.
Setelahnya Taran pun tak mengingat apa pun lagi, ia tidak tahu apa yang dua pria tersebut lakukan padanya, tapi yang ia ingat dirinya begitu saja memberikan kunci hotelnya pada mereka.
“Kau sudah selesai?”
“Ya, aku sudah meletakan di ranjang.”
“Bagus, sekarang kita hanya tinggal menunggu wanita sewaan itu datang, kau sudah meneleponnya kan?”
“Ya, sudah.”
Pria itu tersenyum, “Habislah sudah kau Taran, setelah ini tidak ada lagi yang akan menyukaimu, dan perusahaanmu itu pun akan jatuh.”
__ADS_1
Lebih dari lima belas menit kedua pria tersebut menunggu di pintu kamar hotel.
“Kapan dia akan datang?”
“Sebentar lagi, sebentar lagi dia akan datang.”
“Katakan padanya untuk cepat datang, kita tidak punya waktu banyak, lagi pula dia sudah di bayar mahal untuk ini ke mana dia?”
“Sabarlah, kau tidak bisa sabar?”
Di saat bersamaan seorang wanita berjalan terhuyung-huyung karna mabuk, ia mempertahankan keseimbangannya dengan menumpu tangannya di dinding.
“Apa dia wanitanya?”
“Sepertinya iya, lihat saja pakaian dan dandanannya itu.”
Shazia berjalan sembari melihat setiap nomor di pintu hotel, langkahnya terus maju hingga ke tempat dua pria itu berdiri.
“Hei, jadi kau mabuk terlebih dahulu, ayo cepat masuk ke kamarmu.”
“Kalian berdua siapa, kenapa memarahiku?”
“Kami sudah lama menunggumu di sini, ayo cepat lakukan tugasmu, masuk ke kamar, kami akan menyusulmu untuk masuk nanti.”
“Kalian dasar tidak sopan padaku,” racau Shazia.
“Baiklah kami minta maaf, ayo silakan masuk ke kamarmu.”
“Nah kau tahu sopan santun,”
Shazia membelalakkan matanya untuk melihat nomor pintu kamar hotel, tapi padangan yang sudah mulai kabur menyusahkannya, tak sempat melihat lebih lama, dua pria tersebut langsung mendorong Shazia masuk ke kamar hotel sehingga ia jatuh terjerembap di lantai.
“Aduh dasar jahat sekali mereka berdua padaku.”
“Awas saja, aku akan membalas mereka nanti.”
Melihat pintu kamar hotel yang masih terbuka sedikit, Shazia langsung menutup dan menguncinya.
“Dasar orang-orang tidak sopan!”
Di luar kamar, dua pria yang masih menunggu di luar itu kedatangan wanita sewaan sesungguhnya.
__ADS_1
“Maaf terlambat ada kendala di Perjalanan, mana kamarnya tunjukan padaku.”
“Heh, kau baru datang sekarang? Lantas yang tadi.” Dua pria tersebut saling pandang.
Sontak salah satu dari mereka membuka pintu, tapi sayang mereka tak dapat masuk, Shazia sudah mengunci kamar hotel.
“Astaga, apa kau tidak mengambil kuncinya?”
“Aku juga lupa untuk mengambilnya.”
“Aghh, gagal sudah rencana kita, keteledoran ini benar-benar.”
...****************...
Saat Taran membuka matanya, ia masih merasa pusing, pria itu kemudian duduk bersandar dan melihat ke sekeliling, ia terkejut kala mendapati dirinya tanpa sehelai kain.
Taran coba mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin malam. Ia memang ingat telah menghabiskan malam bersama seorang wanita tapi Taran lupa bagaimana wajahnya.
“Aku akan membalas perbuatan kalian berdua. Kalian telah manfaatkan kebaikanku.”
Segera Taran beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Barulah setelah rapi mengenakan jas, ia keluar dari kamar hotel dan menemui Manorya di ruang khusus.
“Di mana Manorya?”
“Apa Anda sudah membuat janji temu?”
“Katakan padanya Taran Savas ingin bertemu.”
“Perbolehkan dia masuk,” ucap Manorya dari dalam ruangan.
Taran lalu masuk menemui Manorya, wajahnya penuh amarah menatap wanita paruh baya yang duduk di kursinya.
“Ada apa kau mencariku?”
“Aku ingin pertanggungjawaban dari perkataanmu. Kau menjanjikan keamanan untukku di hotel ini, tapi nyatanya kau membiarkan seseorang menjebakku.”
Manorya tersenyum, “Benar jika aku menjamin keamanan untukmu, tapi kau sendiri yang meminta kunci utama dan cadangan bersamamu kan? Lalu bagaimana aku bisa menolongmu?”
Mendengar jawaban Manorya, amarah Taran semakin memuncak. “Awas saja Manorya, kau yang memohon-mohon agar aku menginap di hotelmu ini, dan begini caramu memperlakukan tamumu?”
Taran langsung meninggalkan ruangan Manorya. Sedangkan Manorya masih duduk diam di tempatnya, ia ingat apa yang terjadi pagi ini, dirinya tak sengaja bertemu sosok Shazia yang berlari keluar dari kamar hotel milik Taran.
__ADS_1
“Ha, ha, sepertinya ini permainan yang seru.”