
Sedangkan di sisi lain, Taran yang telah pulang tak mendapati istrinya ada di kamar, tapi pria itu tetap tak peduli, ia memilih untuk bersiap sama seperti yang lainnya.
Setelahnya Taran turun ke lantai bawah, di sana ia dapat melihat putranya tengah menunggu di ruang tengah.
“Zihan, kau menunggu sendiri?”
“Mama sedang berdandan di ruang rias nenek.”
“Lalu teman perempuanmu?”
“Setelah kami tahu mama ada di ruang rias, Ece juga disuruh menunggu di sana untuk didandani juga.”
Taran menghela nafas dan memilih duduk menunggu di samping putranya. Beberapa saat setelahnya, Taran yang mengalihkan rasa bosannya dengan memainkan ponsel terlihat berhenti mengotak atikan benda tersebut kala putranya memanggil.
“Papa, lihatlah mama sudah datang,” ucap Zihan dengan mata yang tak sedikit pun berpaling.
Taran pun beranjak dari kursinya dan berbalik, ia dapat melihat Shazia yang menuruni anak tangga secara perlahan bersama Ece di sampingnya.
Taran terpaku kala melihat penampilan Shazia, meski istrinya mengenakan gaun yang sama seperti saat itu, entah mengapa kali ini kecantikannya begitu terpancar.
Gaun mermaid itu tampak padu dengan gaya rambut multiple chigon-nya, juga dengan riasannya kali ini membuat kata cantik dan elegan tak bisa lepas darinya.
Sembari menggandeng lengan Ece, Shazia datang mengampiri suami dan putranya, ia tersenyum tipis ke arah keduanya.
“Wow, Mama dan Ece sangat cantik hari ini.”
Shazia tertawa kecil, “Kau ini berniat memuji Mama atau hanya memuji Ece,” goda Shazia.
“Tidak Mama, aku tidak berbohong. Kalian berdua memang sangat cantik. Iya kan, Papa?” tanya Zihan pada sang Ayah.
Taran terdiam sesaat kemudian mengangguk.
__ADS_1
“Lihat papa saja mengangguk setuju.”
“Baiklah-baiklah, putranya mama memang berkata jujur.”
“Ece lalu bagaimana pendapatmu tentang orang yang memujimu itu?” tanya Shazia kemudian.
Ece tersenyum, “Bibi ini seperti tidak tahu tentangku saja, aku kan memang selalu cantik, jadi wajar saja banyak yang memuji." balas Ece dengan percaya diri.
Mendengar itu membuat Zihan menatapnya dengan ekspresi aneh, “ Selalu cantik? Ece aku tidak salah dengar?”
“Tentu saja tidak, aku ini kan memang cantik. Ayo, paman, bibi, kita tidak pergi?”
“Ya, ayo kita pergi,” balas Taran.
Di saat bersamaan Derya dan Defne juga turun ke lantai bawah, wajah keduanya penuh senyum kala melihat Taran dan yang lainnya.
“Kalian yang seperti itu persis seperti keluarga bahagia dengan dua anak,” komen Derya.
“Oh, astaga aku sepertinya melihat dua bidadari datang ke rumah ini. Kalian berdua sangat cantik,” puji Defne.
“Ini juga berkatmu ibu mertua, terima kasih untukmu.”
“Itu bukan apa-apa, kelarga Savas memang harus seperti itu.”
“Ayah, Ibu kami pergi,” pamit Taran.
“Ya, pergilah, jika tidak kalian akan terlabat datang ke pesta,” sahut Derya.
“Ayo, Ece kita pergi ke mobil lebih dulu, Mama dan Papaku itu langkahnya sangat lambat,” ucap Zihan sembari menarik Ece dan berlari bersama.
Sedangkan Shazia ia mendekat ke arah Taran dan melingkarkan salah satu tangannya di lengan Taran.
__ADS_1
“Ayo, Sa-yang, kita P-pergi,” ajak Shazia dengan suara keras.
Ekspresi Taran terlihat aneh kala mendengar panggilan Shazia.
“Kita harus terlihat seperti sepasang suami istri yang saling mencintai di depan orang,” bisik Shazia.
“Kita masih belum pergi ke pesta, untuk apa melakukannya di sini?” tanya Taran dengan suara kecil.
“Tidak ada salahnya untuk berlatih sejak awal, jika aku gugup di sana kan jadi sangat memalukan.”
Keduanya pun pergi bersama menyusul Zihan dan Ece.
Bisa berdiri di samping Taran dan memegang lengannya tentu saja membuat pertahanan jantung Shazia runtuh. Meski di luar ia terlihat seolah tak ada yang terjadi, tapi di dalam benaknya ia merasa jantungnya hampir meledak karena rasa canggung dan malu secara bersamaan.
Ayo Shazia tenanglah masa hanya karena kau berjalan di sampingnya, jantungmu jadi tak karuan begini? Shazia.
Shazia kemudian masuk ke mobil, ia duduk di kursi depan bersama Taran sedangkan Zihan dan Ece duduk di kursi belakang.
...****************...
Mobil hitam Taran telah sampai di lokasi pesta. Shazia pun turun dari mobil, ketika wanita itu keluar betapa takjubnya ia melihat gedung mewah dengan taman yang luas itu. Begitu pula dengan Ece, ia pun sampai ternganga melihat gedung tersebut.
Rekasi keduanya itu jauh berbeda dengan Taran dan Zihan yang terlihat biasa saja.
“Ece, ayo,” ajak Zihan sembari memegang lengan Ece.
Ece yang tersadar dari lamunannya hanya mengangguk-angguk saja dan mengikuti langkah Zihan.
Sedangkan Shazia, ia kembali berdiri di samping Taran dan kembali melingkarkan tangannya di lengan sang suami.
Menatap gedung mewah di depannya membuat rasa gugup dan khawatir Shazia muncul.
__ADS_1
Kenapa sekarang aku jadi merasa gugup begini? Ayolah Shazia kau pasti bisa mengadaptasikan dirimu sendiri. Shazia