
Saat restoran tengah sepi, dan tak ada lagi pekerjaan yang dapat di lakukan, Shazia mengambil kesempatan, ia duduk di salah satu meja sembari membaca buku yang diberikan Defne.
Benar apa yang dikatakan Defne, Shazia dapat melihat daftar gaji dari semua pembantu yang bekerja di kediaman Savas, juga daftar belanja bulanan dan harian yang harus di beli.
“Kalau untuk belanja kebutuhan semua itu paman Berkant yang mengurusnya, jadi aku tinggal memeriksa total belanjaannya dan memastikan tak ada harga yang dikorupsi.”
“Untuk pembayaran gaji para karyawan aku harus mengirim gaji mereka ke setiap nomor rekening di buku ini, lalu aku juga harus menghitung seluruh uang yang harus dikeluarkan untuk semua itu.”
“Ya, ini lebih mudah dari yang dibayangkan, aku tinggal menghitungnya menggunakan kalkulator nanti.”
Melihat keseriusan Shazia tentu saja mengundang perhatian Aynur, ia kemudian datang menghampiri bos sekaligus sahabatnya itu.
“Shazia apa yang kau lakukan? Kau sedang mencari resep baru lagi, ya.”
Shazia melirik Aynur lalu menggeleng, “Tidak, Aynur, aku sedang memahami bagaimana cara kerjanya keluarga Savas mengurus keuangan.”
“Oh, aku pikir keluarga kaya tak menggunakan hal yang seperti itu dan menghamburkan saja uangnya.”
“Ya, tadinya aku juga berpikir begitu, tapi rupanya tidak. Melihat bagaimana dia menulis semua urusan kediaman Savas, membuatku tahu jika nyonya Defne orang yang berhati-hati dalam pengeluaran.”
“Kalau begitu semangat untukmu,” balas Aynur yang kemudian pergi meninggalkan Shazia.
“Aynur, Aynur jika tak menarik saja kau langsung pergi, coba saja jika ada berita bagus kau akan langsung duduk dan menempel padaku.”
Aynur tertawa, “Jika aku duduk bersamamu memangnya kau ingin bicara apa?” Wanita itu segera kembali ke dapur dan meninggalkan Shazia sendiri.
Tak lama, Ceyda dan putrinya datang, terlihat rasa lelah bercampur khawatir di wajah Ceyda. Wanita itu kemudian duduk di samping Shazia, sedangkan putrinya begitu saja pergi keluar restoran.
“Maaf, jika hari ini aku datang terlambat Shazia.”
“Tidak papa Bibi, yang terpenting adalah bibi cepat selesai,”
“Ya, rasanya hari ini benar-benar lelah. Setelah mendengar kabar tentang kakakku, aku dan Ece segera pergi ke bank untuk mengambil uang tabungan, lalu kembali lagi ke rumah untuk memberikan uang itu pada suaminya.”
“Memangnya apa yang terjadi dengannya bibi?”
“Dia sedang sakit tapi akhir-akhir ini sakitnya semakin parah, karena tadi suaminya datang berkunjung aku segera pergi ke bank untuk mengambil uang tabunganku.”
“Oh, pantas saja wajah Bibi terlihat lelah, ternyata karena bolak-balik pergi.”
“Ya, demi kesembuhan seorang kakak satu-satunya yang tersisa, setidaknya itu yang bisa kulakukan untuknya.”
“Saat berkunjung tadi suaminya menawarkanku untuk ikut ke Desa, besok pagi dia akan berangkat, aku ingin ikut tapi aku tidak tahu harus menitipkan Ece di mana. Dia tidak mungkin ikut denganku ke Desa, karna di sana aku pasti akan menghabiskan waktu lebih dari seminggu, dia akan tertinggal banyak pelajaran karena itu.”
“Aku bingung harus menitipkan Ece pada siapa, sedangkan setelah bercerai dengan Ayahnya, aku tidak tahu di mana keberadaannya sekarang.”
__ADS_1
“Tidak papa bibi, kau bisa menitipkan Ece padaku, Zihan pasti akan sangat senang jika tahu Ece akan tinggal sementara di rumah,”
“Bisakah? Tapi Ece pasti akan menyusahkanmu, dan apa yang akan dikatakan suamimu nanti jika kau membawa orang lain.”
“Tidak papa bibi, dia pasti akan setuju,”
Ceyda menatap Shazia penuh haru, “Terima kasih Shazia, selama ini kau selalu membantu kami.”
Shazia mengangguk, “Karena bibi berangkat besok apa Ece akan langsung ikut bersamaku hari ini?”
“Aku belum menyiapkan pakaian, aku akan mengantarnya malam ini.”
“Baiklah.” Shazia menulis alamat rumah dan memberikannya pada Ceyda.
“Ini alamat rumahnya, Bibi. Aku akan menunggu kedatangan Ece.”
“Sekali lagi terima kasih Shazia.”
***
Setelah makan malam bersama, keluarga Savas terlihat berkumpul di ruang tengah sembari menonton televisi. Sementara Derya dan Defne asyik menonton, Shazia sibuk membantu Zihan mengerjakan tugas.
“Kau bisa mengerjakan soalnya Zihan?”
“Tidak papa Mama, aku bisa mengerjakannya sendiri, akh sudah paham soalnya.”
“Maafkan mama, ya, bukannya membantu malah hanya menyusahkan Zihan saja.”
“Tidak papa, Mama,” balas Zihan yang menatap serius soal-soal di bukunya.
Tak lama seorang penjaga keamanan datang menemui Shazia.
“Permisi Nyonya, ada yang mencari Anda di luar.”
Itu pasti bibi Ceyda dan Ece. Shazia.
Shazia segera berdiri, “Benarkah, di mana mereka?”
“Saya masih menyuruh mereka untuk menunggu di luar pagar, sementara saya memanggil Anda.”
“Oh, kalau begitu bisa kau antarkan aku menemui mereka?”
“Mama, kau ingin pergi ke mana?”
“Tunggu sebentar, ya, Sayang. Mama ingin menemui seseorang sebentar.”
__ADS_1
“Kalau begitu cepatlah kembali.”
Shazia mengangguk.
Bersama penjaga, Shazia pun segera pergi menuju gerbang. Di sana Ceyda dan Ece menunggu, wajah mereka terlihat lega kala Shazia muncul.
Sang penjaga segera membuka gerbang, Wanita itu pun berjalan mendekat ke Ceyda.
“Shazia syukurlah kau datang, aku pikir aku salah alamat setelah melihat rumah ini.”
Shazia tertawa kecil, “Untung saja bibi tidak langsung pergi, ya. Oh, iya bibi ayo masuklah kita bisa di dalam,” ajak Shazia.
“Tidak Shazia, kita berbicara di sana saja, aku tidak akan sempat jika harus berbicara di dalam. Karena setelah ini aku akan segera berangkat ke Desa.”
“Tidak jadi besok bibi?”
“Kakak iparku menghawatirkan kesehatannya, jadi lebih cepat lebih baik.”
Ceyda memberikan tas Ece pada Shazia, “Kutitipkan Ece padamu, Shazia. Maaf karena aku menyusahkanmu.”
“Tidak papa, Bibi.”
Ceyda kemudian mengeluarkan amplop putih untuk Shazia, “Ini untuk membayar keperluan Ece selama tinggal di sini.”
“Tidak perlu bibi, simpan itu untuk bibi. Tak perlu menghawatirkan tentang putrimu, masalah Ece biar aku yang mengurusnya.”
“Dan ini ada sedikit tambahan untukmu, Bibi. Kuharap kau mau menerimanya,” ucap Shazia sembari memberikan beberapa lembar uang yang dilipat kecil pada Ceyda.
“Terima kasih, Shazia, aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa nanti,”
“Itu tidak perlu Bibi, yang terpenting bibi bisa pergi dan pulang dengan selamat itu saja keinginanku.”
“Baiklah kalau begitu Shazia, sekarang aku pamit pergi.”
“Ece jangan nakal dan dengarkan perkataan bibi Shazia, ya,” pinta sang ibu.
Ece mengangguk, “Ya, Bu, aku akan mematuhi perkataan bibi Shazia.”
Setelah berpamitan Ceyda pergi meninggalkan Ece dan Shazia yang masih berdiri di tempatnya masing-masing, saat tubuh Ceyda tak lagi terlihat dari pandangan, Shazia pun mengajak Ece untuk masuk.
“Ayo Ece, masuklah bersama bibi,” ajak Shazia sembari memegang lengan Ece.
“Bibi ini benar-benar rumah barumu?”
“Ya, tapi ini bukan rumah bibi, tapi rumah milik ayahnya Zihan
__ADS_1