
Taran yang selesai makan dan mandi, bukanya beristirahat malah pergi bekerja, padahal hari itu ia baru saja sampai, berbeda dengan Aslan yang telah tertidur pulas di kamar tamu.
“Taran kau benar-benar ingin pergi bekerja? Kau baru pulang hari ini, apa kau tidak merasa lelah?”
Taran menggeleng. “Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku lebih dulu.”
“Taran kenapa kau tidak istirahat saja, kau baru saja pulang, Aslan saja dia memutuskan untuk libur hari ini dari pada bekerja.”
“Dan aku bukan Aslan, Shazia.”
Taran melongos pergi tanpa memedulikan lagi perkataan Shazia.
“Huh, kenapa kau sulit sekali mendengarkan perkataan orang lain, padahal itu juga demi kebaikanmu sendiri.”
“Sudahlah lebih baik aku pergi ke restoran, jika terus berada di sini bisa-bisa aku merasa muak.”
Shazia segera bersiap, setelah mengganti baju dan mengambil tas ia pergi ke lantai bawah. Akan tetapi lagi-lagi Shazia harus bertemu dengan orang yang membuatnya begitu kesal, siapa lagi jika bukan Aergul.
Wanita itu kembali datang berkunjung dan terlihat tengah berbincang bersama ibu mertuanya. Saat Aergul melihat Shazia wajahnya berubah sinis.
Aih, bibi cerewet itu lagi, kenapa aku jadi kesal begini melihatnya datang. Ayo Shazia redam amarahmu dan anggap dia wanita baik seperti ibu mertuamu. Shazia
“Selamat datang, bibi Aergul lama tidak berjumpa,” sapa Shazia.
“Tidak usah sok baik di depanku, aku tidak butuh itu.”
“Oh, baiklah, bibi gendut dan cerewet silakan nikmati waktumu,” balas Shazia yang langsung berlari keluar dari rumah.
“Hei, dasar menantu kurang ajar!” gerutu Aergul.
Defne yang melihat itu hanya tertawa, “Aergul, kau sendiri yang memintanya untuk tidak sok baik di depanmu, kenapa kau jadi marah begitu, ha, ha.”
“Kakak, kau ini kenapa memanjakan sekali menantumu itu? Dia orang yang sangat kurang ajar, apa lagi kau sampai menyerahkan semua urusan keluarga Savas padanya, dia itu gadis miskin.
“Bagaimana jika dia menguasai semua harta keluarga Savas dan mengusir kalian dari sini?”
“Aergul pemikiranmu itu sudah terlalu jauh. Shazia tidak mungkin seperti itu, dia gadis yang baik.”
“Kau tahu, Aergul berkatnya, rumah yang suram ini kembali hidup. Dia bisa mengubah sifat Zihan yang tertutup jadi lebih terbuka pada kami.”
Aergul terdiam, memang benar apa yang dikatakan Defne, dibalik rumah mewah yang besar itu terdapat keluarga yang hubungannya tak begitu baik. Tapi kini saat Taran telah menikah ia merasakan hawa rumah yang sangat berbeda.
Sebenarnya Aergul senang melihat keluarga kakak iparnya berjalan baik, tapi entah mengapa ia benar-benar tidak suka dengan Shazia, ia merasa kesal bahwa gadis biasa seperti itu bisa membuat keluarga Savas kembali bahagia.
“Tapi tetap saja aku tidak suka dengannya, kenapa kau malah menerima gadis biasa itu menjadi menantu, dia hanya akan membuat keluarga Savas menjadi malu, seharusnya kakak memilih keluarga yang sepadan dengan kita.”
“Sehingga mereka tahu caranya bersikap dan tidak mempermalukan keluarga.”
Defne tersenyum, “Selama keluarga ini kembali bahagia, aku tidak akan pernah peduli pada apa yang dikatakan orang-orang.”
“Kau tahu kenapa, meskipun ada seorang wanita dari keluarga kaya, cantik, dan sangat baik sikapnya, belum tentu dia bisa menerima kehadiran Zihan dan memperlakukannya seperti putranya sendiri,”
__ADS_1
“Dan untukmu juga kusarankan jangan terlalu ikut campur dengan masalah putramu, dia sudah dewasa biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Kau terlalu mengekang dan protektif padanya.”
“Aku tidak pernah mengekang dan terlalu protektif padanya,” sanggah Aergul.
“lalu yang sekarang ini? Kau berkunjung untuk memastikan Aslan ada di sini bukan?”
Aergul kembali terdiam, apa yang dikatakan iparnya itu memang benar, ia kemari untuk memastikan putranya telah kembali.
“Lain kali jangan terlalu protektif padanya,” tegur Defne sembari tersenyum.
...****************...
Pada malam hari, setelah mengecek Zihan dan Ece, Shazia kembali ke kamarnya, ia memainkan ponsel untuk menghilangkan rasa bosan.
“Sampai malam begini tuan Taran masih belum pulang.”
“Dan bibi Ceyda juga tidak tahu kabar beritanya, sudah hampir sebulan dia pergi, aku jadi khawatir akan keadaan bibi, semoga dia tidak apa-apa.”
“Untungnya Ece juga mengerti keadaan bibi Ceyda, sehingga ia tidak banyak bertanya tentang ibunya.”
“Semoga bibi Ceyda tidak apa-apa dan kembali dengan keadaan sehat.”
Saat tengah asyik memainkan ponselnya di atas ranjang, Shazia dikejutkan dengan Taran yang membuka pintu tiba-tiba.
“Kenapa kau selalu saja membuka pintu tiba-tiba begitu, Taran.”
“Tidak tahukah kau istrimu ini mudah terkejut?”
Taran tak membalas perkataan Shazia, ia segera melepas jas dan kemejanya, dan membaringkan tubuhnya di ranjang.
Shazia menggeser posisinya dan memeriksa Taran yang tak menjawab, ia meletakkan telapak tangannya di kening Taran.
“Ya, Allah. Kau sakit, kan apa yang kukatakan benarkan, pada akhirnya kau jadi sakit begini.”
“Ayo Taran gantilah celanamu itu, tidak mungkin kau bisa tidur dengan celana kerja begini,” pinta Shazia sembari memilih pakaian dari lemari Taran.
Taran tak banyak bicara ia mengikuti apa yang dikatakan Shazia. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
“Setelah sudah kembalilah ke tempat tidur, aku akan memanggilkan dokter untukmu.”
“Tidak perlu memanggil dokter, besok juga sakit ini akan hilang.”
“Taran kau pikir dirimu itu robot?”
Saat Shazia melihat jam di dinding, malam telah sangat larut.
“Ini sudah larut malam, jika memanggil dokter sekarang pasti menyusahkan baginya. Baiklah besok saja aku memanggil dokter.”
Wanita itu kemudian keluar dari kamar menuju dapur, ia lalu kembali dengan membawa semangkuk air es dan kain. Kala itu Taran telah kembali berbaring di ranjang.
Shazia tanpa pikir panjang duduk di samping Taran, ia memeras kain dan mengompres kening Taran.
__ADS_1
“Maaf aku tidak bisa memanggil dokter malam ini, besok pagi aku akan menelepon dokter keluarga milik keluarga Savas.”
“Sudah kukatakan tidak perlu.”
“Tidak perlu bagaimana, kau ingin semakin sakit?”
Shazia membuka almari di samping ranjang dan mencari obat yang cocok untuk Taran.
“Sebelum tidur minumlah obat ini Taran,”
...****************...
Shazia terbangun kala sinar matahari berhasil masuk melalui celah jendela, saat matanya terbuka Shazia baru sadar jika ia tertidur sembari memeluk Taran. Ia segera duduk dan turun dari ranjang.
“Untung saja Taran tidak terbangun, di mana aku bisa mengandak muka jika dia tahu aku tidur sembari memeluknya.”
Wanita itu berjalan ke samping kiri ranjang, dan kembali memeriksa suhu tubuh sang suami dengan telapak tangan.
“Sepertinya obat itu bekerja dengan baik, panasnya mulai menurun.”
Tepat ketika itu Taran terbangun, matanya yang sayu menatap dalam Shazia.
“Taran, bagaimana dengan keadaanmu? Apa lebih baik dari kemarin malam?”
Taran mengangguk.
“Baiklah, aku pergi ke dapur sebentar,”
Shazia yang hendak berbalik dihentikan oleh Taran yang memegang erat lengan Shazia.
“Tidak bisakah kau di sini, aku ingin kau bersamaku.”
Shazia kembali berbalik dan melepaskan lengan sang suami, “Taran aku hanya sebentar, sekedar menyuruh Banou memuat bubur untukmu.”
“Tunggu sebentar saja, ya.”
Shazia pun pergi dari kamarnya dengan membiarkan pintu tetap terbuka, saat ia kembali Shazia sudah membawa seluruh anggota keluarga Savas bersamanya.
“Papa, bagaimana keadaan papa? Apa masih sakit?”
Taran balas mengangguk.
“Papa aku sangat menyayangimu, jangan sibukkan diri ayah dengan terus bekerja, dan supaya cepat sembuh, papa harus mendengarkan perkataan mama.”
“Ya, Paman, paman harus beristirahat dan dengarkan perkataan bibi Shazia, selama aku tinggal di sini paman selalu saja sibuk bekerja,” timpal Ece.
“Lihatlah Taran, putramulah yang sekarang menasihati dirimu yang keras kepala itu,” ucap Derya.
“Kau seharusnya lebih memperhatikan kesehatanmu, jangan bekerja seolah kau itu robot, kau selalu saja tak pernah ingin mendengarkan orang lain menasihatimu.”
“Sudahlah Derya, putramu itu sedang sakit dan kau masih ingin menceramahinya? Biarkan dia istirahat, kita berdua cukup melihat keadaannya, jika kau menceramahinya di saat seperti ini yang ada sakitnya semakin bertambah.”
__ADS_1
"Istirahat Taran, kami sudah memanggilkan dokter keluarga untukmu."
"Dan Shazia jika ada apa-apa dengan Taran panggillah kami."