
Taran bingung kala Erhan keluar dari kamar mereka dengan wajah sendu.
“Bagaimana Shazia, apa baik-baik saja?” tanya Taran pada sang Ayah mertua.
“Dia baik-baik saja, dan aku mohon tolong jaga putriku dengan baik,” balas Erhan sembari menepuk bahu Taran.
Taran mengangguk, “Aku akan selalu menjaganya, Anda jangan khawatir.”
Erhan tersenyum masih dengan wajah sedihnya.
“Dan Taran, bisakah aku datang ke kantormu nanti, ada yang ingin kubicarakan padamu.”
“Ya, Ayah mertua, kau bisa datang kapan saja.”
“Baiklah sekarang aku harus pulang, jika ada masalah tentang Shazia tolong kabari aku.”
Taran kembali menangguk.
Sepeninggal Erhan, Taran kembali masuk ke kamar, kala itu Shazia masih duduk bersandar di ranjang dengan tatapan kosong dan wajah yang sembab sehabis menangis.
Taran melangkah mendekati sang istri, ia duduk di samping Shazia dan menatap lekat istrinya itu.
“Apa yang terjadi padamu Shazia? Apa ada masalah dengan ayah mertua?”
Shazia menggeleng, “T-tidak ada masalah.”
“Lalu kenapa setelah sadar kau menangis?”
Pertanyaan simpel Taran malah membuat air matanya semakin deras mengalir. Tentu saja hal tersebut membuat Taran tertegun, dengan tangannya Taran menghapus air mata Shazia.
Pria itu kemudian memeluk Shazia. “Aku ada sini, jadi jangan takut,” ucap Taran sembari mengusap rambut sang istri.
Baru kali ini Taran melihat Shazia menangis dan melihat sisi lemah dari wanita yang selalu keras kepala itu, ia merasa iba dengan kondisi istri saat ini. Taran sangat ingin tahu apa yang terjadi pada istrinya, tapi ia tidak dapat memaksa Shazia untuk menceritanya.
“Jika kau memang tidak ingin berbicara sekarang, maka tidak papa, aku akan menunggu sampai kau mau menceritakan apa yang terjadi.”
Satu-satunya hal yang dapat Taran lakukan adalah memberi pelukan dan menenangkannya. Mungkin saja dengan apa yang dilakukannya Shazia jadi merasa lebih baik.
“Taran berjanjilah padaku apa pun yang terjadi kau tidak akan meninggalkan aku kan?” tanya Shazia di sela isak tangisnya.
Taran menggeleng, “Apa pun yang terjadi aku akan selalu bersamamu.”
...****************...
Saat hari menjelang sore barukah Shazia ke luar dari kamar, ia merapikan penampilan dan wajahnya agar tak terlihat habis menangis.
__ADS_1
Kala itu Taran telah pergi ke kantor, itu pun Shazia yang memaksanya untuk pergi dan mengatakan dirinya baik-baik saja.
“Ayo Shazia jangan menangis, kita harus menghadapi ini. Sebentar lagi ayah dan ibu mertua akan datang, begitu juga dengan Zihan sebentar lagi ia akan pulang dari sekolah, jadi ayo tenang.”
Shazia secara perlahan menuruni anak tangga dan duduk di sofa ruang tengah menanti kedatangan ayah dan ibu mertuanya yang akan datang hari ini.
Meski Shazia menyemangati dirinya untuk tetap tenang, hal itu tetap saja berbeda dengan perasaan dan pikirkannya yang salalu tertuju pada kisah masa lalu dan di mana anaknya sekarang.
Shazia yang tenggelam dalam lamunan tak menyadari akan kedatangan Zihan, anak laki-laki itu terus-menerus memanggil nama sang mama, ,tapi tetap saja tak ada balasan.
“Mama kau dengar aku?” tanya Zihan sembari menepuk bahu Shazia.
Barulah Shazia tersadar dari lamunannya.
“Mama, mama kenapa? Apa mama sakit?”
“Oh, tidak sayang, mama tidak papa.”
“Bagaimana sekolahmu hari ini apa menyenangkan?”
Zihan menangguk, “Tentu saja Mama, aku selalu mendapatkan nilai seratus lagi di setiap pelajaran, he, he.”
Shazia tersenyum, sembari mencubit pipi putranya. “Anak manis, kau memang kebanggaan mama.”
Tak berapa lama, Ayah dan Ibu mertua Shazia datang dengan membawa banyak oleh-oleh, terlihat raut wajah senang di wajah mereka.
“Ya, begitulah semuanya berjalan baik,” balas Derya yang ikut duduk di sofa.
Sedangkan Defne ia langsung sibuk memilah oleh-oleh dan langsung membagikannya pada para anggota keluarga dan pembatu di kediaman Savas.
...****************...
Setelah hari di mana Shazia telah mengingat ingatan masa lalunya, wanita itu lebih banyak diam dan tenggelam dalam lamunannya, tentu saja hal itu sangat disadari oleh orang-orang di sekitarnya.
Sejak itu pula Shazia bahkan banyak menghindari Taran, setiap Taran mendekati Shazia, ia selalu menjauh, bahkan wanita itu tak berani melakukan kontak mata dengan suaminya itu.
Taran yang sangat menyadari perubahan Shazia akhirnya memutuskan untuk berbicara setelah lama diam.
Taran datang menghampiri Shazia yang kala itu tengah berdiri diam di balkon sembari menatap pemandangan. Taran menepuk bahu istrinya tersebut, membuat Shazia terkejut dan menoleh ke arah suaminya.
“A, ada, a, apa Taran?”
“Aku ingin bicara denganmu.”
“Bi, bicara, tentang a, apa?”
__ADS_1
“Kenapa akhir-akhir ini kau selalu menghindar dariku.”
“Aku tidak pernah menghindarimu, itu hanya perasaanmu saja Taran.”
“Sungguh? Lalu kenapa setiap aku mendekatimu kau langsung pergi, dan kenapa kau selalu menghindari kontak mata denganku.”
“A, aku ha, hanya maksudku aku hanya tidak ingin saja.”
“Shazia jangan berbohong. Wajahmu itu selalu memberitahuku lebih dulu jika kau berbohong.”
Taran menggenggam tangan Shazia, “Percayalah padaku, apa pun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu.”
Shazia luluh akan perkataan Taran, matanya berkaca-kaca memandang wajah suami itu. Taran lalu menuntun sang istri untuk duduk di sofa.
“Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi?”
Shazia akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya dari awal hingga akhir. Tangisnya kembali pecah di sela-sela ceritanya, ia merasa sangat tak pantas untuk berada di keluarga Savas saat ini.
Taran kembali menenangkannya, ia menghapus air mata Shazia dan mengecup kening sang istri.
“Aku tahu aku sangat buruk di masa lalu, bahkan tidak bisa menjaga diriku sendiri, tapi aku mohon jangan pisahkan aku dari Zihan. Aku tidak masalah jika kau sangat membenciku.”
“Dan aku minta izin padamu, agar aku bisa membawa anakku kembali, tidak papa jika kau tidak menerimanya aku akan membesarkannya di tempat.”
Tidak ada raut kekesalan atau amarah di wajah Taran, dia terlihat tenang meski tahu apa yang terjadi sekarang.
“Dengarkan aku Shazia, aku tidak akan marah atau membencimu. Terserah jika kau ingin membawa anakmu kembali, aku tidak masalah, bawalah dia ke rumah ini.”
“Kau tidak marah?”
“Untuk apa, sedangkan kau sendiri lupa ingatan tanpa kau inginkan bukan, dan ayah mertua juga sudah menceritakan ini semua padaku.”
“Jika kau sudah tahu kenapa kau masih bertanya padaku?
“Karna aku ingin mendengar langsung penjelasan dari mulutmu.”
“Sama halnya seperti yang kau katakan dulu, aku juga tidak peduli seperti apa kau di masa lalu, mau seburuk apa pun itu, karna saat aku memutuskan untuk menikahimu saat itulah menerima segala kekurangan dan kelebihannya.”
“Kau bisa menerima aku dan Zihan, meski kau tahu masa lalu burukku, lantas kenapa aku tidak bisa kekuranganmu.”
“Shazia dalam pernikahan bukan hanya satu orang yang harus berjuang atau berkorban, tapi keduanya.”
“Jadi jika kau ingin mencari anakmu kembali maka aku akan mendukungmu, bawalah dia ke rumah ini dan kita akan membesarkannya bersama, dia akan menjadi saudara bagi Zihan dan aku akan menjadi Ayahnya.”
Shazia tak dapat menahan isak tangisnya, ia tahu bahwa akhir-akhir ini ia selalu menunjukkan sisi dalam dirinya. Wanita itu kemudian memeluk Taran.
__ADS_1
“Te, terima kasih.”