
Kisah masa lalu dan lupa ingatan Shazia dengan mudah tersebar, baik di restoran maupun di kediaman Savas, semua orang telah mengetahui apa yang terjadi dengan wanita itu.
Dan kini setelah semua orang telah tahu kebenarannya, Defne mengajak Shazia berbicara. Kala itu rumah tampak sepi, hanya ada keduanya di ruang tengah.
“Ibu mertua memanggilku?” tanya Shazia sembari tersenyum.
“Duduklah,” Balas Defne singkat.
Mendengar nada bicara Defne, Shazia tahu di mana arah pembicaraan ini akan dimulai. Perasaannya mulai tak tenang, tapi Shazia tetap memaksakan senyum di wajahnya seolah tak terjadi apa pun.
“jadi ada apa ibu mertua memanggilku?”
“Tidak mungkin kau tidak tahu, kenapa aku memanggilmu.”
“Aku tidak menyangka tentang masa lalumu itu, apa yang dulu Aergul katakan padaku ternyata benar adanya.”
“Andai aku tahu ini lebih awal aku tidak akan menyetujui pernikahanmu dengan putraku,” ucap Defne dengan tatapan sinis.
Perkataan Defne benar-benar menusuk ke jantung Shazia, ia hanya diam mendengarkan Defne berbicara.
“Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi, lagi pula kau juga tidak mengetahuinya karna lupa ingatanmu. Aku berterima kasih kau sudah menjadi sosok ibu untuk Zihan, tapi aku tidak bisa menerimamu membawa anak dari hubungan gelapmu kemari.”
“Ibu mertua aku tidak akan membawanya ke rumah ini jika kalian tidak suka, aku akan membesarkannya di tempat lain.”
“Shazia seharusnya kau bersyukur aku masih mau menerimamu di rumah ini sebagai menantu, jangan berlaku seenaknya. Bahkan meski kau membesarkan anak itu di bawah kolong jembatan pun aku tidak akan setuju.”
“Ta, tapi ibu mertua aku juga seorang ibu, aku ingi—“
“Silakan kau ingin mencari anakmu, tapi sebelum itu kau harus bercerai dari Taran.”
Shazia terdiam, ia tidak jadi membalas perkataan Defne. Wanita itu tak menyangka Defne yang selalu lemah lembut dan baik padanya kini berubah drastis.
“Aku masih memberimu kesempatan untuk menjadi menantu di keluarga Savas, Shazia, untuk itu hiduplah seolah kau tidak mengetahui apa pun, hiduplah seolah tidak terjadi apa-apa.”
Shazia tak mampu membalas, ia tetap diam sambil menunduk.
__ADS_1
“Sekarang kau tinggal memilih, ingin terus mencari keberadaan anakmu atau kau tetap ingin menjadi menantu di keluarga Savas.”
“Pilihan ada di tanganmu Shazia, jadi pikirkanlah baik-baik,” ucap Defne lagi yang kemudian berdiri dari sofa dan meninggalkan Shazia sendiri.
Shazia yang sedari tadi diam dan hanya mendengarkan, akhirnya tak dapat menahan isak tangisnya.
“Hiks, kenapa serumit ini?”
“Kenapa rasanya sesak sekali?”
“Salahkah aku yang ingin memperbaiki kesalahanku?”
...****************...
“Ya, terima kasih Berkant.”
Taran mematikan sambungan telepon. Dirinya terdiam kala mendengar apa yang terjadi di kediaman Savas, ia tak lagi fokus pada pekerjaannya.
Aslan yang kebetulan ada di ruangan Taran sontak bertanya saat melihat wajah risau saudara sepupunya itu.
“Ada apa Taran, apa yang terjadi di rumah?”
“Oh, bibi sudah tahu tentang masa lalu Shazia dan terjadi keributan dengan mereka berdua.”
Taran mengangguk.
“Ternyata tidak ibuku, tidak bibi, mereka berdua sama saja, ya. Lalu Taran apa yang akan kau lakukan sekarang.”
“Kau pikir siapa yang menjodohkanku dengan Shazia?”
“Paman Derya.”
“Kau sudah tahu jawabannya,” balas Taran santai.
“Ya, hebat juga kau berpikir sampai sana. Paman pasti akan membela Kak Shazia, tanpa kau harus memihak salah satunya.”
__ADS_1
“Aslan Shazia mencari keberadaan tentang anaknya. Bisa kau mencari informasi?”
“Kau tenang saja, aku akan membantu Kak Shazia untuk mencari anaknya.”
Di sisi lain, seperti apa yang dikatakan Taran, Derya bertengkar dengan Defne tentang masalah Shazia.
“Tidakkah kau berpikir tentangnya? Dia sudah sangat berkorban untuk keluarga ini Defne!”
“Dia bisa menerima masa lalu buruk Taran dan memperlakukan Zihan seperti putranya, lantas kenapa kita tidak bisa menerima kekurangannya?”
“Tidak ada yang sempurna di dunia ini Defne, jangan kau berbicara seperti itu padanya.”
“Apa salahku Derya, aku hanya ingin keluarga ini bahagia.”
“Bukan seperti ini kau membuat keluarga ini bahagia.”
Derya terdiam sesaat dan duduk di dekat Defne, ia mulai melembutkan nada suaranya pada istrinya itu. “Maaf aku berbicara nyaring padamu,”
“Aku tidak bermaksud marah padamu, aku tahu kau ingin keluarga ini sempurna.”
“Tapi coba kau posisikan dirimu seperti Shazia, apa kau bisa memilih di antara keduanya.”
“Defne, Shazia berusaha untuk jadi ibu yang baik, baik bagi Zihan maupun anak kandungnya, dia ingin menebus masa lalunya dan memperbaiki masa lalunya yang buruk, salahkah itu?”
“Maafkan aku,” balas Defne dengan wajah bersalah.
Setelah pertengkaran itu, Defne akhirnya meminta maaf pada Shazia, dan memperbolehkan Shazia untuk mencari anak kandungnya.
...****************...
“Mama, benarkah mama ingin mencari tentang anak kandung mama?”
“Ya, Zihan. Tapi mama berjanji padamu, mama tidak akan membagi kasih sayang di antara kalian berdua, kau tetaplah anak kesayangan dan kebanggaan, mama,” ucap Shazia sembari memeluk Zihan.
“Tidak papa mama, aku malah senang jika punya saudara baru, aku bisa bermain bersamanya nanti dan dia akan menjadi saudaraku.”
__ADS_1
“Tapi maukah mama berjanji padaku? Bahwa mama akan selalu menyayangi Zihan.”
“Mama berjanji sayang, mama akan selalu menyayangimu.” Balas Shazia yang terus mencium kening dan pipi Zihan.