Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 23 - Kesepakatan Shazia dan Derya


__ADS_3

“Berapa kali kukatakan, apakah ayah masih belum puas?”


“Taran ayah mohon temuilah dia, dia wanita yang baik.”


Taran hanya diam, ia mengacuhkan kata-kata sang ayah dan hanya fokus pada pekerjaannya.


“Taran dia wanita yang baik kau pasti akan menyukainya.”


“...”


Beberapa kali sang Ayah berbicara Taran tetap mengacuhkannya.


“Ayah jika tidak ada keperluan lain, maka pulanglah.”


Derya mendengus kesal, putranya benar-benar bukan orang yang mudah di bujuk. Tapi Derya bukan pula orang yang mudah menyerah, setiap kali ia dan putranya bertemu baik itu di kantor maupun rumah, Derya selalu membicarakan tentang perjodohan.


Usahanya bahkan tak hanya sampai di situ, Derya bahkan dengan sengaja membuat dirinya jatuh sakit, satu-satunya cara ampuh yang membuat Taran mengikuti keinginannya.


Taran yang diberi kabar akan Derya yang jatuh sakit segera pulang ke rumah, ia menemui sang ayah yang terbaring di kamar.


“Ayah, kenapa kau melakukan hal nekat? Selama seminggu ini kau menyibukkan dirimu dengan banyak bekerja, lalu makan makanan berminyak, kau tahu kolesterolmu itu tinggi.”


Mendengar pertanyaan sang anak Derya tersenyum, “Kau sendiri tahu alasannya kenapa aku berbuat nekat seperti ini, selama seminggu penuh ayah membujukmu, tapi kau bahkan tak menggubris ayah.”


Taran mendengus kesal “Baiklah sekarang apa yang kau inginkan, Ayah?”


“Nanti pergilah menemui gadis itu, ayah sudah tentukan di mana kalian akan bertemu,” balas Derya.


“Bahkan di saat seperti ini kau masih membicarakannya?”


“Ayah mohon padamu, Taran, terakhir kali ini saja temuilah gadis yang ayah pilihkan untukmu, jika setelah bertemu kau tak suka maka ayah tidak akan memaksamu dan ayah tidak akan ikut campur dengan masalahmu lagi.”


Taran terdiam sesaat, ia menatap sang ayah lalu menghela nafas panjang. “Ya, Baiklah, tapi ingat hanya untuk terakhir kalinya, ayah, setelah ini aku tidak akan menyetujui tentang perjodohan lagi.”


Derya tersenyum senang akan jawaban putranya.


“Sekarang istirahatlah, Ayah, aku harus kembali ke kantor.”


Derya mengangguk.


Tak lama berselang setelah kepergian Taran, Defne memasuki kamar dengan membawa semangkuk bubur, ia menyuap suaminya itu dengan sedikit rasa kesal


“Kenapa wajahmu cemberut seperti itu Defne?”


“Kenapa kau bilang? Tentu saja karna perbuatan nekatmu ini, kita sudah tua Derya, jika kau tidak bisa menjaga kesehatanmu apa kau ingin meninggalkan aku sendirian?”


Melihat kerisauan istrinya Derya tersenyum, “Tapi aku kan masih hidup Defne, ya, walaupun sakit ini membuat tubuhku benar-benar lemah.”

__ADS_1


“Ya, siapa yang menyuruhmu makan banyak sekali daging dan makanan berminyak? Kau tahu jika kau punya kolesterol yang tinggi.”


“Derya, kuharap kau tak melakukan hal nekat seperti ini lagi.”


“Ya, wanita tua, aku berjanji bahwa aku tidak akan mengulangi hal yang sama,” balas Derya sembari menggenggam erat lengan Defne.


...****************...


Seorang wanita dengan tergesa pergi menuju sebuah rumah yang terletak di ujung kota. Ya, saat mendengar kabar dari sang ayah lewat telepon Shazia langsung pergi.


Saat wanita itu di sana, ia dapat melihat kediaman sang ayah yang sederhana, namun karna kebersihannya begitu terjaga juga karna banyaknya tanaman membuat suasana rumah sederhana itu begitu tenang.


Shazia pun kembali mengingat masa lalunya saat dulu ia pindah ke kota ini, karna kondisinya semakin kritis setelah kecelakaan, sang ayah pun memutuskan untuk pindah ke ibukota agar Shazia mendapatkan perawatan yang lebih baik, dan di rumah inilah Shazia memulai semuanya dari awal setelah melewati masa kritisnya.


Shazia mengetuk pintu rumah sang ayah, wajah Erhan begitu semeringah ketika melihat kedatangan putrinya, keduanya pun duduk di ruang tamu dan Erhan menceritakan semuanya dari awal.


“Lantas ayah setuju?”


"Maafkan, ayah, Shazia. Ayah tidak tahu jika dia menganggap serius perkataan ayah. "


Shazia pun lantas berdiri dari sofanya, ia tampak mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya agar membatalkan perjodohan.


"Oh, Ayah. Seharusnya ayah tak bercanda dengan orang seperti itu, kita kan tahu bagaimana sikap di luar nalarnya para orang kaya itu.”


“Ayah juga tidak tahu Shazia jika akhirnya akan jadi seperti ini.”


"Baiklah ayah, tidak ada cara lain selain menemui orang itu.”


“Katakan padaku Ayah, siapa nama orang itu?”


“Derya Selim Sav—“


“Ya, Derya Selim, lihat saja, aku akan menemuinya, dia tidak boleh seenaknya menjodohkan orang lain.”


“Tuan, wanita yang ingin bertemu dengan Anda sudah datang.”


“Suruh wanita itu masuk,” balas Derya sembari merapikan jasnya.


“Tapi apakah Anda benar-benar tidak papa? kesehatan Anda kan baru pulih tapi Anda bersikeras datang kemari.” tanya sang pelayan pribadi.


“Aku tidak sesakit itu, lagi pula aku hanya sebentar menemuinya dan setelah ini kita akan pulang.”


Sesaat kemudian, Shazia pun memasuki restoran yang telah di pesan khusus hanya untuk keduanya bertemu.


“Apa Anda yang bernama Derya?” tanya Shazia dengan suara nyaring.


“Ya, benar. Mari silakan duduk, nona Shazia” balas Derya tenang.

__ADS_1


Dengan kasar Shazia menarik kursi dan duduk.


“Anda ingin minum atau makan Nona?”


"Tidak, saya tak ingin minum apalagi makan bersama anda,” balas Shazia.


"Jadi apa yang membawamu bersikeras untuk datang menemuiku, nona Shazia?"


"Jangan bersikap seolah Anda tidak tahu apa-apa, Tuan, langsung saja pada intinya. Saya kemari untuk membicarakan tentang perjodohan yang Anda paksakan pada ayah saya."


"Aha, apa ayahmu sudah memberitahukannya padamu?”


"Dia sudah memberi tahu dan menjelaskan semunya pada saya. Dan saya dengan tegas menolak perjodohan yang Anda lakukan!"


Erhan terkekeh. "Ya, kau bisa menolak Shazia. Aku tak akan memaksamu seperti aku memaksa ayahmu, tetapi ada syarat untuk itu."


Shazia mengernyit, "Syarat apa yang Anda inginkan"


"Mudah saja, kau bisa menolak perjodohan ini jika kau sudah bertemu dengan putraku."


"Maksud Anda?"


"Aku sudah mengatur pertemuan untuk kalian pada luas nanti. Jika setelah kau bertemu dengannya dan kau masih tak setuju dengan perjodohan ini kau bisa menolaknya,”


“Tapi jika putraku setuju untuk menikah maka kau tak bisa menolak perjodohan ini.”


Untuk sesaat Shazia terdiam, ia sangat kesal dengan apa yang dikatakan lelaki tua di hadapannya itu. "Baiklah, lusa saya akan bertemu dengan putra Anda. Dan saya akan membuat putra Anda tak setuju dengan perjodohan ini. ”


“Tidak hanya sampai di situ, Tuan. Saya akan membuatnya merasa jijik untuk bertemu lagi dengan saya, dan jangan harap kita akan bertemu lagi, tuan Derya.”


Shazia langsung berdiri dari tempatnya dan pergi meninggalkan restoran.


Derya tersenyum “Aku pastikan kau akan datang nona Shazia.”


“Kau pasti akan datang.”


“Tuan mari kita pergi, Anda harus menjaga kesehatan, Tuan.” ucap pelayan pribadi Derya.


“Ya, Baiklah, sebelum itu tolong sampaikan pesanku pada Taran, bahwa aku telah mengatur pertemuan untuk mereka pada lusa nanti.”


“Baik Tuan saya akan menyampaikannya.”


“Oh, ya, sebelum itu tuan Taran juga berpesan agar Anda memperhatikan kesehatan dan segera pulan.”


“Anak itu, dia tahu jika aku kemari?”


Sang pelayan pribadi menangguk.

__ADS_1


“Baiklah, ayo kita pulang.”


__ADS_2