
“Huh, akhirnya ranjang yang empuk aku datang!” seru Shazia yang langsung melompat ke atas ranjang.
Setelah berbincang panjang bersama ibu mertua, Shazia merasa tubuhnya semakin lelah.
“Hari ini sangat melelahkan, tapi tidak papa, hari ini keuntungan juga meningkat.”
Tak sempat mandi atau berganti baju, wanita itu telah tertidur dan terbawa pada mimpi indahnya. Kala itu Taran pulang lebih awal, mendapati istrinya tertidur pulas membuat Taran memelankan langkahnya.
Tapi seolah tahu akan adanya kehadiran seseorang Shazia terbangun dari tidur lelapnya, ia segera duduk dan melihat ke sekitar, ia tersenyum kala tahu jika itu suaminya.
“Tuan, kau sudah pulang, tumben kau pulang lebih cepat dari biasanya?”
“Pekerjaanku sudah selesai.”
Shazia kemudian beranjak dan berjalan menghampiri Taran. Ia berjinjit dan mengelus rambut suaminya itu.
“Terima kasih kau sudah bekerja keras hari ini demi Zihan dan keluarga Savas,” ucap Shazia.
“Apa kau sakit Shazia?” tanya Taran yang melihat perlakuan aneh Shazia.
“Tentu saja tidak, aku hanya ingin berterima kasih saja,” balas Shazia sembari menguap.
“Oh, kau masih mengantuk rupanya. Lebih baik kau segera mandi Shazia, aku mencium bau tidak enak dari mulutmu.”
Shazia tertawa, “Itulah the power of JIGONG, Tuan, ha, ha.”
“Sekarang aku ingin mandi, jika Tuan ingin pergi ke kamar mandi harap menunggu giliran,” ucapnya lagi.
Taran menggeleng kepalanya, “Kelakuanmu itu tidak mudah di tebak, kadang berani, kadang kekanakan, dan terkadang jorok.”
“Justru itu yang menyenangkan, jika sifatku mudah di tebak itu tidak akan seru.”
Sementara menunggu giliran, Taran pun duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
...****************...
Di pagi hari seperti biasa Shazia pun terbangun dan mulai menyibukkan diri di dapur untuk membuat sarapan keluarga Savas, di tengah kesibukannya itu sang suami tiba-tiba datang. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Shazia yang sedang memasak itu.
“Apa yang sedang kau lakukan, Shazia?”
__ADS_1
“Tentu saja sedang memasak sarapan, memangnya aku terlihat sedang berselancar?
“Bukankah kau sudah memasak menu sarapan dan menyajikannya di antas meja, lalu kau memasak untuk siapa lagi?”
“Aku sedang membuat bekal untuk Zihan, aku tahu jika pihak sekolah sudah menyiapkan makanan, tapi aku benar-benar ingin membuatkan sarapan untuknya.”
“Coba rasa, apa rasanya enak?” tanya Shazia sembari menyodorkan sesendok masakannya ke mulut Taran.
Akan tetapi tatapan Taran membuat Shazia menyadari apa yang ia lakukan, ini kali keduanya menyuap Taran setelah jalan-jalan sewaktu itu.
Shazia ingin menarik kembali tangannya kala melihat Taran yang hanya diam menatapnya, ia merasa kesal pada dirinya sendiri yang terkadang tak menyadari apa yang dilakukannya. Tapi Taran dengan cepat memegang tangan Shazia dan memasukkan makanan tersebut ke mulut.
Sama seperti waktu itu, degup jantung Shazia kembali berdetak kencang, melihat bagaimana Taran menatap dalam dan menerima suapannya membuat Shazia tak dapat berkata-kata.
“Ini lumayan,”
“Kau benar-benar membuat ini untuk Zihan?”
“Aku yakin anak itu pasti menyukai masakanmu.”
“Shazia?”
“Apa kau mendengar perkataanku Shazia?”
“Oh, iya, Tuan. Apa kau butuh sesuatu? Biasanya kau datang mencariku karna butuh sesuatu.”
“Aku ingin memberi tahukan padamu jika tuan Iskander dan istrinya (Bab 18), mengundang kita ke pesta ulang tahun pernikahan mereka.”
“Benarkah, kapan pestanya diadakan?”
“Lusa.”
“Baiklah, aku pikir aku tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi setelah acara di sekolah Zihan waktu itu.”
Ya, siapa yang menyangka jika pada akhirnya aku benar-benar menjadi istrinya, aku kira aku tidak akan ada hubungannya dengan keluarga ini atau pun tentang orang-orang di bisnis Taran. Shazia.
“Aku harap kau bisa ikut bersamaku menghadiri pesta.”
“Tentu saja aku akan ikut, apa yang akan dikatakan Tuan dan Nyonya Iskander nanti jika kau hanya menghadiri pesta itu sendiri.”
__ADS_1
Taran mengangguk kemudian pergi meninggalkan Shazia ke lantai atas.
“Jika ada keperluannya saja baru pergi mendatangiku, dasar ayahnya Zihan.”
...****************...
Kali ini Taran ikut serapan bersama keluarganya, ia menghabiskan makanannya tanpa bicara sedikit pun, sangat berbeda dengan Shazia dan putranya yang terus saja berbicara sepanjang sarapan.
Setelahnya Taran pergi ke kantor sekaligus mengantarkan putranya ke sekolah.
“Zihan jangan lupa habiskan bekalmu, ya.”
“Ya, mama aku pasti akan menghabiskannya,” balas Zihan yang kemudian pergi bersama sang ayah.
Shazia yang menunggu di ambang pintu itu pun akhirnya kembali masuk setelah mobil hitam milik Taran keluar dari kediaman Savas. Saat masuk Defne telah menunggunya di ruang tengah.
“Shazia bisa bicara denganmu?”
Shazia mengangguk, “Ya, apa yang ingin ibu mertua bicarakan?” tanya Shazia sembari duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Defne.
“Kau tahu kan bila kesehatanku semakin hari semakin menurun.”
Shazia kembali mengangguk.
“Karena itu...” Defne meletakkan kunci dan sebuah buku di atas meja.”
“Kuberikan semua kendali kediaman Savas ini padamu.”
“Apa! Aku tidak salah dengarkan? Tidak, aku tidak bisa ibu mertua.”
“Shazia ini perkerjaan yang mudah, Kau hanya tinggal memperhatikan dan memeriksa apakah mereka melakukan pekerjaannya dengan benar atau tidak.”
“Tapi, ibu mertua aku tidak mengurus pengeluaran yang besar seperti itu.”
“Berkant akan membatumu, kau hanya tinggal memeriksa apa yang dicatat Berkant itu sudah sesuai atau tidak.”
“Ini adalah kunci dari seluruh kamar di rumah ini, dan buku ini adalah catatan dari semua keperluan rumah Savas. Mulai dari belanja bulanan, gaji para pembantu, pengeluaran, dan lainnya ada di buku ini.”
Melihat Shazia yang terdiam dengan wajah ragu membuat Defne tertawa, “Dengar Shazia sebenarnya aku tak ingin membebanimu, tapi usiaku yang semakin tua dan kesehatanku yang menurun membuatku harus memberikan ini padamu.”
__ADS_1
Shazia menghela nafas, “Baiklah ibu mertua, aku akan mengambil alih semua urusan keluarga Savas, kuharap kau banyak beristirahat dan memperhatikan kesehatanmu.”
Defne tersenyum, “Terima kasih menantuku.”