Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 77 - Memberi Tahu Taran


__ADS_3

Berbulan-bulan Shazia koma di rumah sakit, beruntung baginya telah melewati masa kritis, dan Erhan dengan sabar menunggu putrinya itu yang entah kapan akan sadar.


Saat harapan Erhan semakin lama semakin menipis, di saat itulah Shazia sadar, tepat di satu tahun ia mengalami koma.


Erhan begitu senang melihat putrinya sadar, ada niatan untuknya mengambil sang cucu dari panti asuhan, tapi begitu saja pupus saat melihat keadaan Shazia.


“A-yah.”


“Ayah sudah berapa lama aku koma. Terakhir kali yang aku ingat sedang minum di klub malam setelah bertengkar dengan ayah.”


“Apa aku kecelakaan setelah pulang dari hotel itu dengan keadaan mabuk Ayah?”


“Nak, yang lainnya kau tidak ingat?”


Shazia menggeleng.


“Baiklah putriku beristirahatlah dulu. Ayah akan memanggilkan dokter.”


Shazia mengangguk.


Setelah memeriksa Shazia, dokter menemui Erhan dan mengatakan bahwa Shazia mengalami amnesia yang menyebabkannya kehilangan ingatan.


“Apa ini awal baru untuknya?”


Erhan kembali menemui putrinya, di sana Shazia menangis.


“Ada apa Shazia? Kenapa putri ayah menangis.”


“Seharusnya aku tidak bertengkar dengan ayah dan mabuk.”


“Pasti aku bisa pulang dengan selamat tanpa kecelakaan seperti ini.”


“Tidak papa sayang semua sudah terjadi. Dan ayah selalu menyayangimu," balas Erhan sembari memeluk putrinya.


...Kilas balik selesai...


...****************...


Shazia menangis kala mengingat masa lalu dan masa-masa indahnya bersama Taran dan Zihan.


Pelukan hangat, tawa Zihan, kata-kata manisnya, dan perlakuan Taran membuat Shazia merasa sesak. Kini ia tak punya keberanian untuk datang kembali menemui suami dan anaknya.


Aslan iba melihat Shazia yang menangis sesegukan, ia datang menghampiri Shazia.


“Kakak, jangan menangis ayo kita pulang, Zihan pasti sudah menunggumu,” ajak Aslan sembari membantu Shazia berdiri.


“Aslan bagaimana bisa aku bertemu dengan mereka setelah semuanya. Aku, aku tidak punya tempat.”


“Kakak jangan bicara begitu.”


Shazia menggeleng, “Tidak, Aslan. Aku tidak sanggup untuk pulang, aku tidak bisa menemui mereka.”

__ADS_1


“Kenapa? Apa karna kakak tahu jika Taran adalah orang itu?”


Shazia kembali menggeleng, “Tidak, aku tidak mempermasalahkan apa yang terjadi di masa lalu.”


“Aku senang mengetahui Zihan memang anak kandungku, rasanya aku ingin langsung pergi menemuinya dan memeluknya dengan erat.”


“Tapi Aslan, akulah ibu kandung yang meninggalkan putranya selama 10 tahun lamanya. Tidak mungkin kan kau tidak pernah mendengarnya berbicara bahwa dia membenci ibu kandungnya.”


“Jika dia tahu itu aku, bukankah dia akan membenciku. Hiks..., aku takut Aslan, aku takut melihat wajah kebenciannya padaku setelah tahu semua fakta ini.”


Aslan terdiam, ia mengerti perasaan Shazia. “Lalu sekarang kakak ingin bagaimana? Aku akan langsung pulang hari ini, apa kakak ikut pulang.”


“Aku tidak sanggup untuk bertemu mereka, mereka pasti membenciku setelah tahu fakta sebenarnya, Aslan.”


“Maafkan Aslan, aku butuh waktu untuk bertemu mereka, aku akan tinggal di kota ini sementara waktu.”


“Baiklah jika memang itu keputusan kakak, aku tidak memaksa kakak untuk pulang, tapi jagalah diri kakak baik-baik.”


Shazia mengangguk.


“Benar Nyonya, Anda butuh waktu untuk menjernihkan pikiran anda,” timpal penjara Cctv yang menyaksikan semuanya sendiri tadi.


Aslan pun memesan kamar VVIP di hotel tersebut untuk Shazia, setelah membawa barang Shazia ke kamarnya, Aslan pun berpamitan untuk pulang hari itu juga.


“Kau benar-benar pulang hari ini?”


“Ya, kak, aku tidak bisa berlama-lama di sini, kakak tahu seperti apa sibuknya aku di sana.”


Aslan mengangguk, ia pun pergi dari kamar tersebut dan berjalan keluar dari hotel, sebenarnya bukan perkerjaan yang membuat Aslan ingin segera pulang.


Ia ingin cepat pulang untuk memberi tahu fakta tersebut pada saudara sepupunya itu, mengingat bahwa Taran dulunya sangat gencar mencari keberadaan ibu kandung Zihan, lalu bagaimana reaksinya jika tahu fakta ini.


...****************...


Aslan baru datang ke kediaman Savas pada pagi dini hari, kala itu ia langsung berdiri menuju lantai atas, tapi Aslan tidak menemukan Taran di kamarnya.


Lelaki itu pun mencari di ruang kerja, ia tahu jika di rumah Taran biasa hanya ada di dua tempat, jika tidak di kamar maka ia ada di ruang kerja.


“Taran!”


“Taran!”


Taran mendongak ke arah Aslan yang membuka pintu sembari berteriak memanggil namanya.


“Ada apa Aslan?”


“Taran tumben kau ada di ruang kerja pagi-pagi buta begini?”


“Aku tidak bisa tidur, lalu ada apa kau mencariku? Bagaimana apa Shazia menemukan anaknya?”


Aslan segera datang menghampiri Taran.

__ADS_1


“Taran ini berhubungan denganmu?”


Alis tebal Taran mengernyit, “Apa maksudmu Aslan?”


Aslan pun menceritakan dari awal hingga akhir apa yang terjadi di kota A. “Jadi Kak Shazia itu ibu kandung Zihan yang sebenarnya.”


Taran terdiam, meski ia telah mendengar fakta tersebut ekspresinya tetap sama, tak ada wajah terkejut atau kemarahan yang terlukis, hanya ekspresi datar saja yang ia tunjukkan di wajahnya.


“Lalu, di mana dia sekarang.”


“Kak Shazia masih di kota A. Dia butuh waktu untuk kembali setelah semua ini.”


“Jika Zihan tahu kak Shazia benar-benar ibu kandungnya, menurutmu apa dia akan membenci kak Shazia?” tanya Aslan.


“Apa, jadi mama Shazia, ibu kandungku!”


Sontak Taran dan Aslan menatap ke sumber suara, di sana sudah ada Zihan yang berdiri di ambang pintu.


“Zihan kapan kau ada di sini, kau tidak tidur?” tanya Aslan sembari datang menghampiri sang kemenakan.


Zihan menggeleng, “Aku terbangun saat mendengar suara paman, aku pikir mama sudah pulang. Jadi aku mengikuti paman kemari. Tapi benarkan jika mama Shazia, ibu kandungku?”


Melihat wajah penuh harap Zihan akan jawabannya, dengan berat hati Aslan mengangguk.


“Yey!”


“Yey, mama Shazia, ibu kandung Zihan!” sorak anak laki-laki itu sambil melompat-lompat.


Aslan tertegun melihat reaksi sang keponakan. “Kau tidak marah?”


“Untuk apa Zihan marah paman, Zihan sangat senang, selama ini kan mama selalu memberikan yang terbaik untukku, kenapa aku harus membenci mama?”


Tanpa menunggu balasan Aslan, Zihan langsung pergi berlari meninggalkan keduanya.


“Aku akan memberitahu kan ini pada orang-orang di rumah, ha, ha!”


“Heh, sia-sia saja aku merasa khawatir. Kalau begitu aku akan tidur di sini saja hari ini.”


“Aslan tunggu, Istriku baik-baik saja kan di sana?”


Aslan kembali menoleh ke arah Taran, “Ya, walaupun awalnya kak Shazia menangis, tapi setelahnya dia baik-baik saja, tapi aku tidak tahu apa yang dilakukannya sekarang setelah ditinggalkan sendiri.”


Setelahnya Aslan meninggalkan ruang kerja, menyisakan Taran seorang diri. Kesunyian yang hampa dan angin bertiup kencang menerbangkan tirai hingga beberapa kali mengenai wajahnya, suasana tersebut membuat Taran kembali mengingat masa lalunya dulu.


Pria itu kemudian beranjak dari kursinya, ia berjalan mendekat ke arah jendela, angin malam pun semakin kencang menerpanya, melihat pemandangan di luar semakin membuatnya merindukan Shazia.


“Pada akhirnya kaulah yang datang sendiri padaku.”


“Dan takdir menyatukan kita berdua.”


Di saat bersamaan, Shazia juga merindukan Taran dan Zihan, ia hanya bisa duduk bersandar di balik pintu kamar hotel tanpa bisa melakukan apa-apa.

__ADS_1


“Kuharap kalian tidak membenciku.”


__ADS_2