
Hari berlalu dengan cepat, di minggu pagi yang sejuk, Shazia tengah bersantai di teras belakang dengan camilan dan secangkir teh.
Wanita itu tampak menikmati pemandangan yang ada di hadapannya, bunga yang tertata rapi sesuai jenisnya itu sungguh menyenangkan untuk dipandang.
Sementara Shazia tengah bersantai, Zihan dan Ece bermain di sekitar taman tersebut, keduanya berlarian ke sana kemari menikmati waktu bermainnya.
Di tengah asyiknya menikmati suasana, Shazia dikejutkan akan seorang penjaga keamanan yang memanggilnya.
“Nyonya Shazia!”
“Nyonya Shazia!”
“Eh, iya, ada apa Paman?”
“Ada yang ingin bertemu dengan Anda Nyonya, beliau bilang dia ayahnya Nyonya.”
“Benarkah lalu di mana dia?”
“Ada di depan pintu masuk Nyonya.”
“Baiklah terima kasih paman,” balas Shazia sembari beranjak dan berlari menuju pintu masuk.
Wajah Shazia berubah semeringah kala melihat sosok Erhan. “Ayah, akhirnya kau datang berkunjung!” Shazia langsung memeluk sang ayah.
“Maaf baru bisa mengunjungi putri ayah sekarang.”
“Tidak papa Ayah, aku tahu kau sibuk. Ayo kita masuk,”
Shazia membawa sang ayah menuju Taman belakang tempat di mana ia duduknya sebelumnya.
“Ayah duduklah dulu di sini, aku akan mengambil cangkir teh untukmu.”
Erhan mengangguk.
Saat melihat Erhan yang duduk di kursi, Ece dan Zihan langsung menghentikan permainan dan pergi menghampiri sang Kakek.
“Kakek Olive!” panggil keduanya bersamaan
__ADS_1
Sontak Erhan menoleh ke arah keduanya yang menyambut dengan wajah senang.
“Wah-wah dua cucu kakak ada di sini, padahal baru beberapa minggu tak bertemu kalian sudah bertambah besar sekarang.”
“Oh, iya, kakek juga membawakan sesuatu untuk kalian berdua.”
“Wah, apa yang kakek bawa untuk kami?” tanya Ece.
Erhan tersenyum, ia membuka kantong plastik yang dibawanya dan memberikan permen lolipop juga permen coklat pada keduanya.
“Ini untuk kalian berdua, masing-masing mendapatkan satu.”
“Terima kasih kakek Olive,” ucap keduanya.
“Iya.”
“Kakek nanti jika kami selesai bermain ceritakan kami sebuah dongeng lagi,” pinta Zihan.
“Dengan senang hati Kakek akan menceritakan dongeng yang seru untuk kalian.”
“Kalau begitu kanji?” tanya Zihan sembari memberikan jari kelingkingnya.
Eca dan Zihan pun melanjutkan permainan mereka, kali ini sembari menikmati permen yang diberikan keduanya duduk di gazebo taman.
Tak lama kemudian Shazia datang membawa cangkir teh, ia menuangkan teh dari teko dan memberikan pada sang Ayah, baru setelahnya Shazia kembali duduk di kursinya.
“Bagaimana kabar usaha toko kue ayah?”
“Semakin hari semakin meningkat Shazia, bahkan lebih banyak dari yang sebelum-sebelumnya.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Shazia sekarang uangnya sudah banyak terkumpul, Ayah pikir sudah saat mewujudkan keinginan ibumu.”
“Wah, baguslah, Ayah, bagaimana jika lusa kita pergi ke panti asuhan, nanti aku akan mengabari Hazan jika kita pergi ke sana.”
“Terserah kau saja Shazia, ayah mengikuti keputusanmu saja.”
__ADS_1
“Ya, Ayah, lebih cepat kan lebih baik, jadi lusa ini kita pergi.”
Erhan mengangguk, pria itu kemudian menyeruput teh yang diberikan putrinya.
“Oh, iya, kenapa rumah ini begitu sepi, di mana suami dan mertuamu?”
“Ayah dan ibu mertuaku pergi ke perkumpulan para orang tua. Sedangkan Taran di sedang olah raga di lantai atas.”
“Lalu bagaimana kabarmu putriku?”
“Syukurlah semua baik-baik saja Ayah, kau tak perlu khawatir.”
“Jika kau bicara begitu ayah jadi merasa tenang.”
Setelah berbincang beberapa saat tibalah Zihan dan Ece menagih janji pada Erhan. Dengan senang hati pria itu pun menceritakan dongeng untuk keduanya dengan duduk bersama di gazebo, angin yang bertiup menambah suasana menyenangkan cerita dongeng kala itu.
Saat Shazia tengah melihat ketiganya dengan wajah bahagia, penjaga keamanan kembali datang.
“Nyonya Shazia, ada yang ingin bertemu denganmu.”
“Ya, siapa dia?” tanya Shazia sembari menoleh.
“Dia mengaku sebagai ibu kandung tuan Zihan, Nyonya.”
Seketika wajah Shazia berubah pucat, ia mematung di tempat melihat wanita di belakang penjaga keamanan. Wanita berambut kepang dengan kacamata kotak, dan berpenampilan sederhana.
Dengan langkah takut-takut dan wajah yang menunduk dalam, wanita iru datang menghampiri Shazia yang terdiam.
“Maaf, a-aku Fulya, i-ibu kandung Zihan. Bisakah aku bertemu dengan putraku?”
“Kau berbohong kan?”
“Mana buktinya jika kau ibu kandung Zihan?”
Fulya mengeluarkan akta kelahiran dan tes DNA dari tasnya. Ia dengan ragu-ragu memberikan surat itu pada Shazia.
"Ini tidak mungkin kau berbohong kan?"
__ADS_1
"Itulah kenyataan Nyonya."
"Aku mohon izinkan aku untuk melihat putraku,Nyonya," pinta wanita itu sembari memohon di kaki Shazia.