
Rasa keterkejutan itu berakahir dengan ketiganya duduk dan makan bersama, baik Shazia maupun Taran keduanya tak suka dengan situasi yang ada, perjodohan yang ada sungguh sangat mengejutkan bagi keduanya.
Untungnya kehadiran Zihan sangat membantu, dengan ocehannya ia dapat mencairkan suasana canggung antara keduanya.
“Mama, Papa, aku harap kalian benar-benar menikah.”
“Aku senang jika kita jadi sebuah keluarga.”
“Aku jadi bisa menemui mama setiap hari, tanpa harus pergi ke restoran.”
“Mama, mama setuju kan jika menikah dengan papa?”
Pertanyaan yang kembali membuat Shazia gugup, membuat wanita itu buru-buru mencari alasan. “Hm, Zi-Zihan habiskan dulu makananmu sayang, baru setelah itu kita bicara,” balas Shazia mencari alasan.
“Ya, ma, baiklah,” jawab sang anak sembari mempercepat suapan makanannya.
“Hm, mama, papa, aku pergi ke toilet, ya.”
“Mau mama antarkan Zihan?”
“Tidak usah mama, Zihan kan sudah besar jadi bisa sendiri.” Zihan segera beranjak dari kursinya dan pergi ke toilet.
Kini yang tersisa hanyalah keduanya, situasi yang tak nyaman dan cukup canggung, membuat Shazia memberanikan diri untuk berbicara.
“A-aku benar-benar tidak mengharapkan apapun dari perjodohan ini, Dan aku tidak tahu kalau yang dimaksud oleh orang itu adalah kau.”
“Aku tahu, ini semua rencana ayahku. Entah cara nekat apa yang dilakukannya sehingga kau bisa setuju.”
Shazia pun menjelaskan semuanya secara rinci pada Taran, membuat wajah laki-laki itu terlihat kesal setelahnya. “Ya, Itu tak masuk akal, perbuatannya sungguh sangat nekat.” balas Taran.
“Tidak papa tuan Taran, sekarang pada intinya saja, kita sudah menuruti apa yang diinginkan tuan Derya Selim, sekarang kita tinggal memutuskan apa jawabannya.”
Wajah Shazia yang memandang serius, membuat Taran tertawa kecil.
“Hei apa yang kau tertawakan? Memangnya apa yang lucu dari kata-kataku?”
__ADS_1
“Maaf, seserius apa pun aku, riasanmu itu selalu mengalihkan perhatianku.”
“Y-ya, ini tren, kau harus tahu itu Tuan.”
“Benarkah? Aku selalu memantau perkembangan dan tren di negara ini untuk usahaku, dan aku tidak menemukan tren yang seperti kau katakan. Jangan bohong nona Shazia kau berdandan seperti itu agar meninggalkan kesan buruk dengan orang yang dijodohkan denganmu bukan?
“Ya, baiklah kau benar. Sekarang kita kembali ke percakapan, jadi bagaimana keputusanmu tuan Taran?”
“Jika itu hanya untukku maka aku akan sangat tegas menolak perjodohan ini.”
“Benarkan, kita kan memang tak cocok,” balas Shazia dengan wajah tersenyum senang.
“Tapi, jika perjodohan ini dapat membuat putraku bahagia, maka aku akan setuju.”
Shazia tercengang mendengar jawaban Taran. Seketika ia ingat kata-kata Derya. ‘Jika putraku setuju untuk menikah maka kau tak bisa menolak perjodohan ini'
“Tuan aku juga sangat menyayangi Zihan, tapi untuk membesarkannya kita kan tak harus menikah.”
“Ya, jika kau tak ingin. Jangan harap Zihan datang ke restoran apa lagi memanggilmu dengan sebutan mama,” balas Taran dengan wajah santai.
“Tuan, pernikahan bukan sesuatu yang bisa kau permainkan, akan ada hidup dua orang di sana, kita bahkan tidak saling mencintai bagaimana bisa kita menikah?”
Taran tersenyum, “Shazia pikirkan baik-baik, pilihan ada di tanganmu kita memang tak saling mencintai, baik itu kau ataupun aku kita tak pernah mengharapkan cinta atau pun pernikahan, tak peduli apa pun kata orang kita selalu terpaku pada pekerjaan.”
“Bukan begitu?”
“Ya, memang benar, dari pada harus menikah atau pun mengharapkan cinta dari orang lain, aku lebih memilih restoranku.”
“Tapi Nona Shazia, walaupun perusahaanku lebih penting, itu berbeda dengan Zihan, apa pun akanku lakukan demi melihatnya bahagia.”
“Aku tahu rasa sayang seorang ayah pada anaknya, tapi cara anda memaksa orang lain untuk menikah tidak dibenarkan, tuan Taran,” balas Shazia menekankan.
“Begini saja nona Shazia, kau sangat menyanyangi Zihan bukan? Relakah kau jika melihatnya Pergi darimu dan memanggil orang lain dengan sebutan mama? Karna jika kau menolak tidak ada jaminan bahwa aku tidak akan menikah.”
Shazia terdiam, sorot matanya pun berubah sendu “A-aku, aku sangat tak rela jika dia pergi dariku, benar jika waktu yang kuhabiskan bersamanya terbilang singkat, tapi ketika dia memanggilku dengan sebutan mama untuk pertama kalinya di saat itulah dia segalanya bagiku, aku tidak terima jika dia memanggil orang lain dengan sebutan mama.”
__ADS_1
“Jadi apa keputusanmu, nona Shazia? Aku tidak bisa memberikan waktu lebih banyak, karna walau kau menolak sekali pun kita akan tetap menikah,” balas Taran dengan seringai miring menatap Shazia.
Shazia tampak kesal setelah mendengar dan melihat Wajah Taran yang seperti itu.
Andai jika kau bukan ayahnya Zihan, mungkin aku sudah menampar dan mencekikmu Taran! Betapa sifatmu itu tak jauh beda dari tuan Derya Selim, seharusnya aku tak menjelaskan semua ini dengannya. Shazia.
Shazia terdiam sesaat, ia menghela nafas panjang kemudian, lalu menatap tajam Taran.
Ayo Shazia sekarang berpikir lebih jauh, jika kau menolak perjodohan ini Zihan akan pergi darimu ditambah usaha ayah juga akan bangkrut karnanya, jika kau menerimanya kau tak akan takut Zihan meninggalkanmu. Shazia.
“Baiklah … Demi Zi-Zihan aku setuju.”
“Itu pilihan yang tepat nona Shazia,” balas Taran sembari menyuap potongan daging ke mulutnya.
“Tapi sungguh ini hanya demi Zihan. Dan tolong jangan mengira aku menerima perjodohan ini hanya karna harta ataupun kesuksesan anda tuan Taran, aku tidak berpikir untuk semua itu.”
“Tak perlu kau jelaskan pun, aku tahu itu nona Shazia.”
“Baiklah kalau begitu, karna semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang perlu di sampaikan, maka sekarang aku harus pergi terima kasih atas teraktiranmu tuan Taran, dan tolong katakan pada Zihan bahwa aku pergi karna ada urusan penting,” balas Shazia sembari beranjak dari kursinya dan memasang tas selempangnya.
“Kau ingin diantar nona Shazia?”
“Tidak perlu, cukup hanya sampai di sini,” balas Shazia cepat.
Taran pun kemudian mengangguk melepas kepergian Shazia, saat wanita itu pergi Taran lah yang tersisa di meja itu, ia terdiam menatap piring kosong di atas meja.
Maaf Shazia kau harus terbawa dalam keluargaku, aku ingin perjodohan ini berakhir awalnya. Tapi senyum bahagia putraku hanya ada ketika bersamamu. Senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada kami, bagaimana aku bisa merenggutnya lagi? Taran.
Tak lama Zihan datang, ia bingung ketika hanya Taran lah yang ada sana, “Papa, kemana perginya mama?”
“Mamamu, dia pergi karna urusan penting.”
“Yah, padahal aku ingin banyak bercerita dengannya.”
Yey, papa sudah mengakui mama Shazia, tidak sia-sia aku berlama-lama menunggu di toilet, pasti mama dan papa sudah setuju. Zihan.
__ADS_1
Di sisi lain Shazia yang berjalan di trotoar menuju halte tampak tak bersemangat sama sekali, setelah keluar dari restoran ia terus memikirkan keputusannya berulang kali dan akibatnya jantung wanita itu jadi berdebar tak karuan.