
Sejak kejadian itu Taran mulai berubah, ia tak lagi menunjukkan sosok hangatnya, sikapnya jadi lebih dingin bahkan dengan keluarganya sendiri. Taran berubah kejam baik bagi bawahan maupun orang terdekatnya.
Ia tak punya waktu untuk keluarga dan selalu menghabiskan waktu di kantornya untuk bekerja. Taran juga membalas dendam dengan dua pria yang menjebaknya.
Akan tetapi tetap saja, Taran tak puas meski sudah membalaskan perbuatan mereka, ada hal yang mengganjal di hatinya dan pikirannya pun selalu teringat akan wanita yang wajahnya itu samar-samar.
“Tuan aku sudah mengumpulkan semua yang Anda inginkan,” ucap sang sekretaris sembari mengulurkan amplop coklat dan rekaman Cctv di teleponnya.
“Aku pergi ke hotel untuk meminta Cctv, dan perlu Anda tahu bahwa wanita yang menghabiskan malam bersama Anda itu adalah koran yang tidak tahu apa pun dari rencana mereka.”
“Waktu kejadian itu, dia sedang mabuk, dan bermaksud untuk pergi ke kamarnya sendiri di kamar nomor 129, tapi orang-orang itu mengira bahwa dialah wanita sewaan tersebut dan langsung memasukkannya ke kamar Anda.”
“Anda bisa melihat Cctv ini jika tak percaya.”
Benar seperti yang dikatakan sang sekretaris, semuanya persis sama, melihat wanita di Cctv menimbulkan perasaan bersalah di hati Taran.
Sebenarnya ia sangat ingin tahu wajah wanita yang menghabiskan malam bersamanya, tapi sayang bahkan di cctv pun wajahnya tak tampak.
“Cari di mana wanita itu sekarang dan bawa dia padaku.”
“Jika saya berhasil, apa yang ingin Anda lakukan padanya.”
“Aku akan menikahinya.”
Sang sekretaris tertegun. “Tapi Anda juga korban Tuan. Lalu bagaimana bisa Anda menikah dengan orang yang tidak Anda cintai?”
“Aku memang korban, tapi tidak serugi dirinya. Tidak peduli aku mencintainya atau tidak, aku akan tetap mempertanggungjawabkan perbuatanku.”
“Baiklah, saya akan berusaha.”
Sang sekretaris pun mencari identitas Shazia, akan tetapi hasilnya nihil. Ia memang mendapatkan alamatnya tapi keluarga itu telah pindah dua hari sebelum kedatangannya ke rumah Altair.
"Tuan, aku mendapatkan alamat rumahnya, tapi amat disayangkan bahwa keluarga itu telah pindah.”
Sejak itu tak diketahui lagi tentang siapa Shazia, sekeras apa pun usaha Taran mencari hasilnya tetap saja nihil, seolah dirinya tidak ingin diketahui oleh Taran.
Dan karnanya Taran menjadi pribadi yang lebih tertutup, bahkan dengan orang tuanya sendiri.
Sang sekretaris amat sedih melihat perubahan Tuannya itu, bagaimana tidak Taran sanggup tak pulang selama lebih dari sebulan dan lebih memilih untuk tinggal di ruangan kantornya.
Pria itu juga memaksakan dirinya bekerja hingga larut malam tanpa memikirkan kesehatannya sama sekali.
“Tuan tolong jangan diri Anda seperti itu. Cobalah berdamai dengan diri Anda.”
“Kau tahu, sekarang aku merasa hampa, semua ini seolah tak berarti apa pun lagi untukku. Benar apa yang dikatakan orang-orang tidak ada yang lebih sakit dari sebuah pengihanatan.”
“Jika pun akhir hidupku, aku tidak masalah sana sekali,” ucap Taran yang menatap hampa pemandangan di luar jendela.
“Tuan tolong tarik kata-kata Anda itu. Anda masih memiliki Ayah dan ibu yang sangat menyayangi Tuan, mereka pasti sangat sedih mendengar perkataan Anda.”
Taran hanya diam mendengar nasihat sang sekretaris.
...****************...
Hari terus berlalu dan bulan berganti. Kini usia kandungan Shazia tinggal menunggu hari di mana ia akan melahirkan, kala itu di rumah sederhana tersebut Shazia tengah merajut sebuah baju kecil untuk anak dalam kandungannya.
Ia tersenyum senang kala baju berwarna hijau tersebut selesai. “Anakku tersayang, kuharap kau menyukainya,” ucap Shazia sembari mengelus perutnya.
Erhan yang selesai membuat sarapan pun duduk di dekat putrinya.
“Apa itu baju untuk cucuku?”
“Ya, ayah, bagaimana menurut ayah?”
“Ini bagus, ia pasti akan nyaman menggunakannya.”
Shazia tersenyum, ia memandang sang ayah dengan wajah penyesalan. “Ayah, aku minta maaf.”
“Setelah aku mengandung, aku baru menyadari semuanya. Kau berkorban siang malam hanya untuk diriku hidup lebih nyaman. Maaf, jika putrimu ini sangat tidak berguna, Ayah.”
__ADS_1
Erhan tersenyum dan mengelus rambut putrinya, “Itu karna ayah menyayangimu.”
“Oke, sekarang pergilah makan, ayah ingin pergi, tidak papa kan jika ayah meninggalkanmu?”
“Ya, ayah pergilah, hari ini aku juga ingin pergi ke pasar.”
Setelah kepergian Erhan, Shazia makan makanan yang dibuat sang untuknya, dan kemudian barulah Shazia pergi ke pasar.
Di pasar Shazia membeli banyak buah dan sayuran, juga stok makanan lainnya. Saat Shazia sedang beristirahat di sebuah kedai, ia tak sengaja bertemu dengan wanita yang dulu pernah bertabrakan dengannya ketika keluar dari kamar hotel.
Seperti Shazia yang mengenalnya, wanita itu juga mengenal Shazia. Ia langsung duduk di kursi yang bersebelahan langsung dengan Shazia.
“Apa kau masih mengenalku?”
“Eh, ya, Anda yang saat itu bertabrakan dengan saya di hotel.”
“Kupikir kau akan melupakanku, oh, ya, salam kenal, aku Manorya.”
“Ya, saya Shazia.”
Manorya melirik perut Shazia yang membesar, “Maaf jika pertanyaanku tidak sopan, apa anak itu anak dari pria yang menghabiskan malam denganmu di hotel.”
Shazia mengangguk pelan, “Saya tidak bisa menutup hal itu, karna Anda sendiri juga melihat saat saya keluar dari kamar hotel.”
Manorya menatap wajah Shazia yang terlihat tenang sembari mengelus perutnya.
“Kau tidak meminta pertanggungjawaban dari pria itu, jika kau mau aku bisa mengantarkanmu padanya.”
Shazia tertawa kecil, “Tidak usah, Nyonya. Untuk apa saya meminta pertanggungjawaban dari orang yang bahkan tidak bersalah atas hal ini.”
“Akulah yang teledor masuk ke kamar yang salah, aneh jika aku harus meminta pertanggungjawaban dari kesalahanku sendiri pada pria yang tidak bersalah itu.”
“Tapi kau tidak akan mengandung, jika pria itu tidak melakukan hal tersebut padamu, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya,” balas Manorya.
“Saya tahu, tapi bagaimana jika pria itu sudah menikah? Saya tidak ingin menghancurkan kehidupan orang lain, dan jika pun dia bertanggung jawab atas kehamilan ini adakah jaminan bahwa dia akan memperlakukan saya dengan baik?”
“Mungkin dia memang akan menikahi saya karn rasa tanggung jawab, tapi apakah dia akan memperlakukan saya yang orang baru ini dengan baik. Belum lagi saya akan mendapatkan cacian dari keluarganya sebagai rendahan, saya tidak hal itu terjadi.”
Shazia menggeleng, “Ini adalah kesalahan saya, saya tidak bisa menyuruh orang yang tidak bersalah untuk bertanggung jawab.”
“Baiklah Nyonya sepertinya saya harus pergi.”
“Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu,” ucap Shazia lagi sembari beranjak dari kursinya.
Manorya mengangguk, ia segera membatu Shazia yang kesusahan berdiri karna kehamilan.
“Ya, jaga dirimu baik-baik.”
Shazia tersenyum lalu pergi meninggalkan kedai setelah membayar minumannya. Kala itu Manorya menerima telepon dari seseorang sehingga ia tak memperhatikan Shazia yang berjalan keluar.
‘Braaaak.....!’
Suara nyaring itu mengejutkan Manorya, ia segera berbalik ke sumber suara dan betapa terkejutnya Manorya melihat bahwa Shazia lah yang tertabrak.
Untuk sesaat Manorya terdiam di tempat, padahal baru tadi dia mengobrol dengan wanita itu dan kini semuanya dengan cepat berubah.
“Shazia....!”
Segera Manorya datang menghampiri Shazia yang telah dikerumuni banyak orang.
“Shazia, bertahanlah kita akan segera ke rumah sakit.”
“Nyonya Manorya, anakku, tolong selamatkan anakku.”
“A-anakku.”
Di saat bersamaan Taran yang berada di ruang kerjanya merasa perasaanya sangat tak nyaman, ada rasa aneh yang membuatnya selalu ingin melihat ke arah luar.
Taran menghentikan aktivitasnya dan berdiri di dekat jendela, melihat pemandangan luar membuat perasaannya semakin berkecamuk.
__ADS_1
"Ada apa denganku, kenapa perasaanku tiba-tiba tak enak begini?"
...****************...
Di rumah sakit Erhan menunggu bersama Manorya di depan ruang operasi. Ia langsung pergi ke ruang sakit setelah mendengar kabar putrinya kecelakaan, sangat tampak terlihat kekhawatiran di wajahnya.
Manorya yang melihat Erhan seperti itu datang menghampirinya, “Tenanglah Tuan, semua akan baik-baik saja.”
“Aku tidak bisa tenang di saat seperti ini, aku khawatir pada mereka berdua.”
“Oh, iya, aku lupa mengenalkan diri pada Anda, aku Manorya, sahabat Shazia.”
“Ya, Manorya terima kasih sudah membawa putriku ke rumah sakit.”
Cukup lama keduanya menunggu di luar ruangan, sampai terdengarlah suara isak tangis dari seorang bayi yang baru lahir.
Manorya dan Erhan saling pandang, segera mereka mendekati ruang operasi, di saat bersamaan para perawat membawa bayi Shazia ke ruangan lain untuk dibersihkan.
“Dokter bagaimana dengan keadaan cucu dan putriku?”
“Cucu Anda lahir dengan selamat, tapi putri Anda mengalami koma, keadaannya sangat kritis, persen untuk hidupnya bisa dibilang sangat kecil.”
Erhan terpaku mendengar penjelasan sang Dokter. Ia tak percaya akan apa yang didengarnya, semuanya seolah seperti mimpi.
“Dan kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU setelah ini.”
***
Kini seorang bayi laki-laki yang sehat telah berada di gendongan Erhan, ia terlihat nyaman mengenakan baju hijau yang Shazia rajut untuknya.
Erhan menatap sang cucu dengan wajah penuh kesedihan. “Betapa malangnya nasibmu.”
“Kau harus lahir seperti ini.”
“Aku tidak ingin gagal dua kali dalam membesarkan seorang anak, dari pada kau harus menderita hidup bersama kakekmu ini, lebih baik kau hidup bersama orang lain.”
“Anda ingin membawa anak itu ke mana?” tanya Manorya yang tiba-tiba muncul di belakang Erhan.
“Aku akan membawanya ke panti asuhan.”
“Kenapa, bukankah dia cucu Anda?”
“Benar, dia memang cucuku. Tapi aku tidak ingin anak ini tumbuh besar dengan penderitaan dan hinaan, aku tidak ingin gagal dua kali, biar lah dia hidup di panti asuhan dari pada merasakan ini semua,” balas Erhan sembari berjalan keluar dari rumah sakit.
“Biarkan aku ikut, aku ingin ikut mengantarnya, bisakah?”
Erhan terdiam sesaat, melihat wajah Manorya yang mengiba membuat Erhan tak mampu mengatakan tidak.
“Ya, Anda boleh ikut.”
...****************...
Sesampainya di panti Asuhan...
Erhan segera turun membawa sang cucu, akan tetapi Manorya mencegatnya kala ia ingin masuk ke gedung panti.
“Biar aku yang membawanya ke dalam, tuan Erhan.”
“Mengurus hal ini pasti membutuhkan waktu lama, ada baiknya jika Anda pergi ke rumah sakit saja, pasti banyak yang dibutuhkan Shazia di sana.”
“Urusan anak ini biar aku yang mengurusnya,” ucap Manorya meyakinkan.
Melihat wajah penuh keyakinan Manorya, dengan mudah Erhan setuju, awalnya ia merasa berat untuk memindahkan sang cucu ke gendongan Manorya, tapi ia harus melakukannya, untuk terakhir kalinya Erhan mengecup kening sang cucu sebagai tanda perpisahan
“Semoga kau hidup bahagia cucuku.”
Setelahnya, Erhan pergi meninggalkan Manorya bersama sang cucu di depan gedung panti asuhan. Tapi Manorya bukanya masuk ke panti, melainkan pergi ke tempat lain.
“Aku akan membawamu pada orang yang juga berhak atas dirimu.”
__ADS_1
(Sambungan seperti di bab 1)