
Keesokan harinya, Zihan yang telah pulang dari sekolah pun pergi mendatangi restoran Shazia, di sana ia langsung membantu sang mama melayani para pelanggan, mengelap meja dan mengantar piring kotor ke dapur.
Saat restoran sepi, Zihan melirik Shazia yang tengah berbincang bersama Esra dan Gona, saat mata keduanya saling bertemu, Shazia yang melihat wajah murung Zihan langsung datang menghampiri.
“Ada apa, Ha? Kenapa wajah putra mama terlihat sedih?” tanya Shazia sembari menarik kursi dan duduk di dekat Zihan.
“Ma, aku tidak ingin punya ibu baru,” balas Zihan dengan mata yang mulai berair.
Shazia mengernyit, “Apa maksudnya dengan ibu baru? Zihan kan punya mama,”
“Ma, waktu itu aku mendengar kakek berbicara dengan papa, katanya papa akan dijodohkan,”
Tanpa sadar Shazia berteriak, membuat banyak pasang mata melihat ke arahnya “Apa!”
“Ah, maafkan aku, Esra, Gona, Bibi Ceyda, silakan lanjutkan saja pekerjaan kalian,” ucap Shazia saat melihat ketiganya melirik ke arahnya.
Jika benar tuan Taran akan di jodohkan, apakah yang kutakutkan akan jadi kenyataan? Aku tidak rela Zihan memanggil orang lain dengan sebutan mama aku tak rela dia pergi dari hidupku. Shazia.
“Mama, bagaimana jika papa setuju untuk menikah, apakah aku akan di buang, mama? Aku takut jika orang yang papa nikahi hanya mengejar hartanya,” terang Zihan sembari menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Shazia menarik Zihan dan memangkunya, “Tenanglah sayang, ada mama di sini, papamu tidak akan membuangmu dan mama yakin papamu pasti akan mencari yang terbaik untuk menjadi ibumu, sayang,” balas Shazia sambil mengelus punggung Zihan.
“Mama aku tidak mau, mamalah yang terbaik untukku.” balas Zihan sembari memeluk Shazia.
“Tidak papa, sayang, mama akan selalu bersamamu.”
***
Sepulangnya Zihan dari restoran, Shazia yang masih berdiri di ambang pintu memandang hampa ke arah jalan.
“Ada apa Shazia? Kenapa kau masih berdiri di sini? Zihan kan sudah lama pulang.”
“Aku, a-aku apakah aku orang yang egois, Aynur?”
“Apa maksudmu Shazia?”
“Apakah aku egois jika menginginkan Zihan sebagai putraku? Egoiskah aku jika tak ingin dia memanggil orang lain dengan sebutan mama?”
“Shazia kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?”
Shazia menatap Aynur “Aynur, tuan Taran akan dijodohkan, jika dia menerimanya maka dugaanku menjadi kenyataan Aynur, Zihan mungkin tidak akan kembali lagi ke sini, apalagi memanggilku dengan sebutan mama.”
“Aku tidak rela, Aynur, aku tidak rela. Zihan sudah masuk ke dalam hidupku aku tidak ingin kehilangannya.”
“Sudah tenanglah Shazia kenapa sekarang malah kau yang seperti anak kecil? Shazia jangan cemas, Zihan dia itu sangat menyayangimu dia tidak mungkin dengan mudah melupakanmu seperti itu.”
“Kenapa semuanya begitu pelik, masalah ayah, perjodohan yang kautemui besok, dan sekarang Zihan, bagaimana caranya aku menyelesaikan ini?”
“Shazia tenangkan dirimu, buang pikiran burukmu itu dan mari kita berbicara di dalam.”
***
__ADS_1
Hari yang dijanjikan pun tiba, terlihat Taran telah mengenakan setelan jas rapi seperti biasa. Ia berniat pergi setelah menyelesaikan urusan kantor.
Saat pria itu tengah sibuk menyusun berkas, seseorang datang membuka pintu ruangannya, yang sontak membuat perhatian Taran teralih.
“Zihan, dengan siapa kau kemari?” tanya Taran ketika melihat sosok putranya.
“Papa, aku naik angkutan umum,” balas Zihan.
“Apa yang membuatmu datang ke kantor Zihan?”
Zihan terdiam sesaat, “Waktu itu aku mendengar percakapan papa bersama kakek tentang perjodohan, dan katanya hari ini papa akan bertemu dengannya, bisakah aku ikut?” tanya Zihan.
Taran menatap wajah putranya yang penuh harap itu dan kemudian mengangguk setuju.
“Kita akan pergi setelah ayah menyusun berkas, duduklah Zihan.”
Di sisi lain Shazia juga tengah bersiap untuk datang ke tempat yang di janjikan, tapi entah mengapa sejak pagi perasaannya begitu dongkol akan perjodohan ini, ia dengan sengaja berdandan menor dan mengenakan pakaian berwarna terang.
Aynur yang melihat Shazia turun dari lantas atas dengan penampilan seperti itu tak henti-hentinya tertawa. “Ha, ha, apa-apaan penampilanmu ini? Kenapa lipstikmu merah sekali, Ha?”
“Ini yang dinamakan style Aynur, gaya khasku pasti membuatnya sangat terpesona,” balas Shazia dengan percaya diri menghibur rasa kesalnya.
“Kau yakin akan pergi dengan penampilan seperti itu, Shazia?”
“Tentu saja Aynur, kau pikir untuk apa aku berdandan berjam-jam jika tidak jadi pergi?”
“Tidakkah kau malu jika orang-orang menatapmu?”
“Aku tidak peduli, selama caraku dapat menggagalkan perjodohan maka akan aku lakukan.”
“Bagus tertawalah sesuka hati kalian,” balas Shazia yang kemudian berpamitan pergi pada semua karyawannya.
***
Di restoran berbintang itu, Taran dan Zihan telah lebih dulu datang, keduanya menunggu di meja yang telah di pesankan Derya.
“Papa sampai kapan kita harus menunggu? Aku sudah menghabiskan makanan pembuka, bisakah aku memesan makanan utama lebih dulu?”
“Ya, pesanlah makanan yang kau inginkan,” balas Taran sembari memanggil salah satu pramusaji di sana.
Tiba-tiba dering telepon Taran berbunyi, Aslan itulah nama yang tertera di teleponnya. Pria itu pun segera mengangkat telepon.
“Zihan pesanlah makananmu, ayah pergi sebentar.” Sembari beranjak dari kursinya dan pergi keluar.
“Ya, papa,” balas Zihan yang melihat sang ayah pergi ke luar restoran.
“Paman aku ingin memesan makanan ini dan minuman yang ini,” ucap Zihan sembari menunjuk gambar di buku menu pada pramusaji.
“Baik, anak manis, pesananmu akan segera dibuat.”
Setelah kepergian pramusaji, Zihan hanya bisa menunggu dengan bosan, sesekali ia mengetuk-ngetuk meja dengan tangannya.
__ADS_1
“Aih, di mana mejanya?”
“Orang tua itu kenapa cuma memberi informasi setengah-setengah?” gerutunya.
Suara seseorang yang sangat dikenal Zihan, membuat anak itu menoleh ke arah sumber suara, betapa senangnya ia ketika mengetahui sosok itu.
Sontak Zihan langsung memanggil sosok tersebut. “Mama!”
“Mama di sini,” Panggil Zihan lagi.
Membuat sosok tersebut pun menoleh, mengetahui yang memanggilnya adalah Zihan, Shazia pun segera datang menghampiri.
Tampak setelahnya Zihan tertawa lepas melihat riasan Shazia. “Mama kenapa gunakan warna ungu tua di pipi dan di atas mata mama, dan lagi bibir mama merah sekali, ha, ha.”
“Zihan ini style terbaru mama, bagaimana cantik bukan?” tanya Shazia dengan nada bercanda.
“Mama, mau bagaimanapun riasanmu, kau selalu tampak cantik bagiku.”
Shazia tersenyum, “Oh, ya, Zihan, kenapa putra mama bisa ada di restoran ini?”
“Mama, aku menemani papa menemui orang yang akan dijodohkan dengannya.”
“Oh, jadi pertemuannya direncanakan hari ini, ya? Apa Zihan sudah bertemu dengan orangnya?” tanya Shazia dengan wajah tak suka mengetahui tujuan Zihan berada di restoran.
Apakah Zihan akan melupakanku? Aku sungguh tak rela dia memanggil orang lain dengan sebutan mama. Shazia.
“Belum mama, kami masih menunggunya dia belum datang.”
“Oh, ya, mama sendiri, kenapa ada di sini?” tanya Zihan.
“Mama ingin bertemu dengan seseorang, tapi mama tak menemukan mejanya.”
“Benarkah, memangnya berapa nomor mejanya mama? Mungkin aku bisa membantu.”
“Nomor 7, tapi mama sama sekali tak menemukan mejanya.”
“Mama, nomor 7 itu mejaku dan papa, lihatlah,” balas Zihan sambil menunjuk nomor yang tertutup oleh lengannya.
Seketika Shazia membeku, wajahnya memucat dan ia merasa lidahnya kelu untuk mengeluarkan kata-kata.
“Zi-zihan bisakah mama bertanya padamu? Si-siapa nama lengkap kakekmu, sayang.”
“Nama kakek, Derya Selim Savas, Mama,” balas Zihan dengan wajah penuh tanda tanya pada Shazia.
Di saat bersamaan Taran telah kembali, saat melihat sosok yang berdiri di depan putranya ia pun segera datang menghampiri.
“Zihan, apa dia sudah datang?” tanya Taran yang hampir sampai di mejanya.
Tapi Zihan tak menjawab, ia malah menatap sang ayah dengan wajah penuh tanya. Taran pun berhenti tepat di belakang Shazia.
“Selamat siang, apa—”
__ADS_1
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Taran dibuat terperangah ketika sosok wanita yang membelakanginya itu berbalik.
“Kau!”