Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 31 - Batasan wilayah


__ADS_3

Shazia telah selesai memasak, wanita itu kemudian menata masakkan yang ia buat ke meja makan.


“Selamat pagi, ayah mertua, ibu mertua!” sapa Shazia pada sepasang suami istri yang sudah terlihat mengenakan pakaian rapi.


“Selamat pagi, menantuku,” balas Derya sembari menarik kursi.


“Kau yang memasak semua ini Shazia?” tanya Defne.


“Ya, Ibu mertua, aku memasak ini untuk kalian, kuharap kalian menyukainya.”


Derya dan Defne pun saling pandang lalu tersenyum.


“Oh, begitukah, kuharap masakkanmu tak asin,” balas Defne sembari menyendok masakkan Shazia ke piringnya.


Tak beberapa lama, Zihan yang masih mengenakan baju piamanya turun ke lantai bawah, seperti sebelumnya ia menyambut putranya itu dan menyuruhnya untuk ikut sarapan.


“Ayo, Zihan makanlah, Mama sudah memasak makanan kesukaanmu,” ucap Shazia.


“Wah benarkah!” Zihan langsung mempercepat langkahnya dan duduk di samping sang kakek dan neneknya.


“Masakanmu lumayan enak, setidaknya ada rasa yang berbeda dari masakan yang selama ini kami makan,” puji Derya.


“Ayah mertua kau itu niat memuji atau tidak?”


“Jangan pedulikan kata-katanya, Shazia, masakanmu enak. Terlebih kau juga menyesuaikan masakan dengan masalah kesehatan kami,” timpal Defne.


“Ya, Syukurlah kalau kalian suka. Oh iya, Ayah dan Ibu mertua apakah hari ini kalian ingin pergi?”


“Benar, hari ini kami ingin pergi ke perkumpulan para orang tua jompo. Kau tampaknya tahu sekali, ya, kalau kami ingin pergi,” jawab Defne.


“Baju yang kalian kenakan sudah mengatakannya lebih dulu,” ucap Shazia yang kemudian melirik baju setelan keduanya.


Di tengah asyiknya keempat orang itu sarapan bersama, Taran turun dari lantai atas dengan setelan jas hitam dan rambut yang di sisir ke belakang, membuatnya terlihat sangat gagah dan tampan.


“Ayah, Ibu, aku pergi ke Kantor, jika ada sesuatu telepon saja,” ucap Taran berpamitan, sembari melanjutkan langkahnya untuk keluar.


“Tunggu, Putraku. Sebelum pergi apa kau tak ingin sarapan dulu?” tanya Defne.


“Aku tak berselera,” balas Taran singkat dan kembali melanjutkan langkahnya.


Shazia terdiam kala melihat sifat Taran, betapa dinginnya ia pada orang tuanya sendiri.


Apa pekerjaan lebih penting baginya dari pada anak dan keluarga, padahal menyempatkan waktu sedikit untuk sarapan kan tak papa, tapi kenapa orang itu selalu gila bekerja? Shazia.

__ADS_1


“Mama karna hari ini tidak ada orang di rumah, aku ikut mama ke restoran, ya?”


Shazia mengangguk. “Tentu saja, hari ini mama memang ingin mengajakmu ke restoran, dan jangan lupa untuk mencuci piring sesudah makan, ya.”


“Ya, mama!” ucap Zihan dengan nada manjanya.


Derya dan Defne terlihat senang saat melihat wajah bahagia Zihan, seolah menjadikan Shazia sebagai menantu di rumah Savas bukanlah suatu kesalahan.


Setelah Sarapan para anggota keluarga Savas pun memulai aktivitasnya masing-masing, sama seperti Taran juga ayah dan ibu mertuanya, Shazia dan Zihan juga pergi ke restoran dan mulai bekerja.


...****************...


Malam kembali datang, terlihat Shazia tengah sibuk memasukkan baju yang ia bawa dari restoran ke lemari kosong sambil mendengarkan lagu.


“Baju-bajuku banyak sekali, ya rupanya. Padahal rasanya cuma sedikit tapi sekarang sudah memenuhi isi lemari.”


Shazia yang sibuk melipat pakaiannya lagi-lagi tak menyadari akan kedatangan sang suami. Ia baru sadar saat mendengar Taran melepas jas dan dasinya.


“Lagi-lagi aku tak menyadari kedatanganmu. Tuan, apa kau menggunakan teleportasi?”


“Jangan berbicara hal aneh Shazia,” balas Taran singkat.


“Tumben hari ini kau pulang cepat Tuan?”


“Siapa yang mengatakan itu, aku kan hanya bertanya,” jawab Shazia.


Taran tak membalas malah langsung pergi meninggalkan Shazia.


“Dasar laki-laki aneh.”


Selama Taran di kamar mandi, Shazia telah menyelesaikan masalah pakaiannya, ia kemudian naik ke atas ranjang dan duduk bersandar sembari memainkan telepon pintarnya.


Tak lama Taran ke luar dari kamar mandi dengan piama yang sama seperti dikenakan Shazia kemarin malam.


Shazia menatap lekat suaminya yang tengah menyusun bantal.


“Hei, Tuan bukankah biasanya orang yang tak saling mencintai itu salah satunya tidur di sofa?”


“Memangnya siapa yang ingin tidur di sofa? Jika kau ingin tidur di sofa maka silakan saja.”


“Hei aku kan hanya memastikan saja, siapa tahu kau tidak ingin tidur denganku, maka dengan senang hati aku akan memberikan bantal dan selimut untuk—“


Belum sempat Shazia menyelesaikan kata-katanya, Taran sudah melemparkan bantal yang tepat mengenai wajah Shazia. “Hei kenapa kau malah melemparkan bantal padaku, yang aku maksud itu kan kau, Tuan.”

__ADS_1


“Tidurlah Shazia, jangan banyak bicara,” balas Taran sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Pria itu menatap Shazia yang kesal. “Kita ini bukan pasangan yang tengah kasmaran. Dan lagi pula aku tidak akan melakukan itu pada orang yang tidak aku cintai,” ucap Taran lagi yang seolah mengerti jalan pikiran Shazia.


“Baiklah kalau begitu, kita ciptakan batasan wilayah di sini,” balas Shazia sembari menata bantal di tengah ranjang.


“Dengan ini bagian kiri menjadi wilayahku dan bagian kanan wilayah Tuan,” sambung Shazia.


“Terserah kau saja,” balas Taran pasrah dengan kelakuan sang istri.


Keduanya pun akhirnya tidur dengan posisi saling membelakangi.


Kenapa sekarang jantungku tak berhentinya berdetak? Ini pertama kalinya aku tidur dengan seorang pria, ya, walaupun sekarang di suamiku, tapi tetap saja rasanya asing. Shazia.


...****************...


Keesokan paginya...


Shazia terbangun, matanya yang masih mengantuk itu terasa berat untuk terbuka, dan ia ingin terus melanjutkan tidurnya.


“Bangunlah, Shazia” ucap sang suami.


“Kenapa Tuan menyuruhku bangun? Aku masih ingin tidur,” balas Shazia sambil tangannya meraba-raba sekitar.


Eh kenapa bantal dan gulingku jadi agak keras begini, padahal kemarin sangat empuk?. Shazia.


“Bangun dan lihatlah apa yang kau lakukan,” ucap Taran lagi.


Shazia segera membuka matanya, dan betapa terkejutnya ia dengan posisi tidurnya sekarang, bukan lagi berada di wilayah miliknya kini Shazia malah tidur di lengan Taran sembari memeluk perut kotak pria itu.


Ia segera duduk, dan menutup perasaan malunya dengan tertawa.


“Maafkan aku Tuan, kebiasaan tidurku memang agak buruk, he, he.”


Taran tak membalas, ia ikut duduk, ia tampak membiarkan saja kancing piamanya yang terbuka oleh Shazia


“Padahal kau sendiri yang membuat batasan, tapi malah kau sendiri yang melanggarnya,” balas Taran yang kemudian turun dari ranjang.


“Ya, mana aku tahu, aku kan sedang tidur,” jawab Shazia membela diri.


Taran tak menggubris jawaban Shazia, ia malah berjalan ke arah lemari lalu mengambil jas dan arloji yang akan dikenakannya hari ini, dan kemudian pergi ke kamar mandi meninggalkan Shazia seorang diri di atas ranjang.


“Kenapa setiap perkataan dan tingkah lakunya selalu sedingin itu? Padahal aku baru menikah dengannya dua hari, tapi kenapa aku merasa pernikahan ini tak akan bisa bertahan lama.”

__ADS_1


“Ah, sudahlah Shazia tepiskan saja pikiran burukmu.” Shazia pun juga ikut turun dari ranjang dan pergi ke lantai bawah setelah mengikat rambutnya.


__ADS_2