Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 57 - Bertemu Manorya


__ADS_3

“Zihan, Bibi di hari minggu nanti, bibi akan pergi.”


“Bukankah Mama menyuruh bibi untuk tes DNA hari itu?”


“Justru itu, bibi harus segera pergi, karna jika tes itu benar-benar dilakukan, maka kebohongan bibi akan terungkap.”


“Tapi...”


“Sudah sekarang mari kita mencari tempat duduk, jika terus berdiri begini kaki bibi akan sakit.”


Zihan pun mengikuti perkataan Fulya, keduanya duduk di bangku taman sembari meminum jus.


“Bibi kenapa kau bisa berbicara penuh keyakinan, padahal itu bohong?”


Fulya tersenyum, “Karena itulah pekerjaan bibi, bibi sama seperti artis dalam drama, Tapi bedanya bibi berakting di dunia nyata.”


“Kau lihat kan bagaimana bibi berbicara pada ibu tirimu, dengan penuh kepercayaan dan keyakinan.”


“Bibi tapi perlakuanmu itu tidak baik, kau membuat mamaku menjadi sedih, apalagi saat aku setuju pergi denganmu.”


Fulya pun tertawa, “Justru itulah tujuan bibi, orang yang menyuruh bibi menginginkan ibu tiri yang sangat menyayangimu itu sedih merasa sedih dengan perasaan yang campur aduk.”


“Dan bibi berhasil melakukannya, ha, ha.”


Zihan yang mendengar itu memandang kesal Fulya. “Bibi aku membencimu.”


“Terserah, kau ingin membenciku atau tidak, tapi dari sini kau mendapatkan pelajaran bukan?”


“Ya, aku belajar bagaimana caranya menjadi penipu ulung yang licik,” jawab Zihan dengan kata penuh sindiran.


“Ha, ha, kau ternyata bisa menyimpulkan tanpa bibi harus menjelaskannya panjang lebar, tapi bibi bukan seorang penipu, bibi hanya melakukan pekerjaan bibi seperti yang disuruh.”


“Seperti naskah untuk sebuah film, bibi harus memerankan sebuah tokoh dan menghafalkan dialog dengan sangat lancar.”


“Kau harus belajar dari semua ini Zihan. Kelak kau pasti akan menggantikan ayahmu mengurus bisnisnya, dan kau pasti harus berhadapan dengan musuh juga teman dalam bisnis.”


“Berbicaralah penuh penekanan dan keyakinan, agar tak ada yang meragukan dirimu,” ucap Fulya lagi dengan seringai miring.


“Bibi kau itu benar-benar jahat.”


“Itulah hidup Zihan, kau tidak selalu menemukan orang baik di dunia ini, dan maka dari itu kau harus benar-benar memilah mana yang baik dan mana yang buruk.”


“Andai jika aku terlahir kaya sepertimu, di mana kehidupanku sudah terjamin sejak awal, aku tidak akan mau bekerja seperti ini.”

__ADS_1


“Dan karena itulah Zihan, nasib berbeda yang inilah yang membuat bibi harus menjadi seperti ini. Tidak mudah untuk membesarkan lima adik sekaligus.”


Zihan dapat merasakan penderitaan Fulya, meski ia masih anak-anak ia dapat mengerti bagaimana susahnya Fulya membesarkan adik-adiknya.


“Bisakah bibi menjelaskan padaku tentang pekerjaan bibi ini.”


“Ya, dengan senang hati. Bibi memulai ini ketika seorang teman membutuhkan bibi untuk berpura-pura menjadi pacarnya di pesta, awalnya bibi menolak tapi ia berjanji akan memberi uang sebagai imbalannya.”


“Dan itu tentu saja berhasil, ia membayar bibi, sejak itulah bibi memulai pekerjaan ini. Bibi mendapatkan banyak peran, mulai dari pacar, mantan istri, atau perebut suami orang.”


“Semua itu punya risiko kan bibi?”


“Ya, karena peran bibi harus mendapatkan tamparan nyata dari yang memusuhi pelanggan bibi, tamparan, hinaan, dan caci maki, itu sudah biasa.”


“Bisakah aku tahu siapa yang menyuruh bibi ke keluargaku?”


“Ini rahasia, bibi tidak bisa memberitahukannya sekarang. Tapi terkhusus untukmu, bibi akan memberitahukannya saat pergi, biasanya bibi tidak pernah memberi tahu tentang kebohongan bibi pada orang-orang, ini hanya untukmu saja.”


“Berjanjilah pada bibi kau akan merahasiakannya sementara waktu, jika nanti bibi pergi kau bisa ceritakan ini pada ibu tirimu.”


“Kau beruntung mendapatkan ibu tiri yang sangat baik sepertinya, dan tampaknya dia sangat menyayangimu, bibi sangat jarang dapat melihat ibu tiri yang baik di dunia nyata, kau jangan menyia-nyiakan ibumu, ya, “ ucap Fulya menasihati.


Zihan menangguk, “Dia memang mamaku yang paling baik, dengan kehadirannya membuatku sangat bahagia.”


Saat Fulya hampir sampai di depan pintu restoran, ia dikejutkan dengan seorang wanita tua yang tiba-tiba keluar dari restoran.


Fulya menatap wanita tua itu dari atas sampai ujung kaki, dan dia dengan cepat menyimpulkan orang yang ada di depannya itu adalah seorang wanita kaya.


Fulya tersenyum ke arah wanita yang menatapnya itu.


“Kau ibu kandung Zihan?” tanya wanita tua yang tak lain ialah Manorya.


Fulya mengangguk. “Ya, aku ibu kandung Zihan,” balas Fulya sembari manik matanya melirik ke arah Zihan.


Manorya tertawa, “Sangat menarik, apakah besok kita kau punya rencana ibu kandung Zihan?”


“Tidak, aku tidak punya rencana ke mana-mana," "Kalau begitu bisakah kita bertemu besok.”


“Ya, aku tak keberatan.”


“Baiklah tolong berikan nomor teleponmu, aku akan memberi tahu di mana kita akan bertemu,” balas Manorya sembari tersenyum.


Fulya tersenyum ia memberikan nomor teleponnya itu pada sopir Manorya, dan setelahnya barulah wanita itu pergi.

__ADS_1


“Bibi lihat Zihan sudah datang!” teriak Ece.


Sontak Shazia berdiri dari tempatnya dan datang menghampiri Zihan, ia memperhatikan putranya itu dari atas sampai bawah.


“Tidak ada yang terluka kan Zihan? Kau baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja Mama, jangan terlalu menghawatirkan aku.”


Shazia langsung memeluk Zihan kemudian, “Jangan tinggalkan mama, ya, Zihan. Mama sangat takut kehilanganmu.”


“Ya, Mama, aku sama sekali tidak akan meninggalkanmu.”


Fulya yang melihat dari luar itu pun tersenyum melihat perlakuan Shazia kepada Zihan, ia secara perlahan melangkah pergi dari restoran.


“Semoga keluarga kalian selalu bahagia.”


...****************...


Hari ini, seperti yang dijanjikan, Fulya datang ke restoran bintang lima di mana ia akan bertemu dengan Manorya.


Ia menguatkan hati dan langkah untuk masuk, Fulya tahu jika pertemuan ini pasti ada hubungannya dengan Zihan, dari pengamatan Fulya, ia dapat mengerti jika Manorya mengetahui kebohongannya.


Untuk sesaat Fulya terdiam mencari di meja mana Manorya menunggunya. Sedangkan Manorya yang melihat kedatangannya segera melambaikan tangan pada Fulya.


Fulya pun segera datang menghampiri Manorya, ia langsung duduk berhadapan dengan wanita tua itu.


“Senang bisa bertemu denganmu lagi ... Ibu kandung Zihan.”


Fulya mengangguk, “Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Fulya langsung pada intinya.


“Kau orang yang pintar, ya. Kau tahu maksudku.”


“Tentu saja, mana mungkin aku tidak tahu maksud dari seorang wanita kaya yang tiba-tiba mengajak bertemu.”


Manorya tersenyum, ia mengeluarkan tiga gepok uang dari tas dan meletakannya di atas meja.


“Ini untukmu.”


Mata Fulya terbelalak mendengar perkataan Manorya.


“Be benarkah?”


“Tentu saja.”

__ADS_1


__ADS_2