
Saat hari telah sore, pernikahan pun selesai tepat pada waktunya, semua tamu telah pulang dan hanya tersisa beberapa orang di sana.
“Mama ayo kita pulang,” ajak Zihan.
“Iya, ya, Mama harus pulang ke restoran sekarang.”
“Jangan melamun Shazia, kita akan pergi ke kediaman Savas bukan restoran,” balas Taran.
“Eh, tapi aku kan belum membereskan barang-barangku di restoran, bagaimana aku bisa ikut dengan kalian?”
“Jangan pikirkan tentang itu mama, papa pasti bisa mengurusnya.”
“Ya, kita bisa mengurus itu besok, sekarang ayo kita pulang,” ajak Taran yang telah berjalan keluar lebih dulu.
Shazia pun mengikuti dari belakang bersama Zihan.
“Ayo masuklah,” ucap Taran sembari membukakan pintu mobil.
Wanita itu mengikuti perintah sang suami, ia mengangkat gaunnya dan masuk ke mobil, karna gaun yang dikenakan cukup panjang Taran pun membantu Shazia memasukkan gaunnya, lalu Zihan pun duduk di samping sang mama.
“Kalian semua sudah siap?”
Shazia mengangguk.
“Baiklah.” Taran pun membuka pintu kemudi dan mulai menyetir.
Sesampainya di kediaman Savas...
Mobil yang dikendarai oleh Taran itu pun berhenti di depan rumah, Shazia pun turun dari mobil, ia melihat ke sekitar dan betapa takjubnya ia melihat rumah bak istana itu.
Taman yang indah dengan bunga berbagai macam jenis tertata rapi dan air mancur di tengah, itulah pemandangan pertama yang Shazia lihat di luar rumah tersebut.
“Mama ayo kita masuk,” ajak Zihan.
Shazia yang tertegun itu pun hanya dapat mengangguk-angguk saja, sembari menggandeng Zihan ketiganya berjalan masuk, di mana Derya dan Defne telah menunggu di ambang pintu.
Defne tersenyum kala melihat menantu perempuannya datang. “Selamat datang di keluarga Savas menantuku.” Sembari memeluk Shazia.
“Terima kasih i-ibu mertua,” balas Shazia.
Derya tersenyum, “Pada akhirnya kau kemari sebagai menantu keluarga Savas, Shazia.”
Shazia pun tertawa kala mengingat perkataannya tempo hari pada Derya. “Ayah mertua, pada akhirnya apa yang kau katakan menjadi kenyataan.”
“Baiklah aku tidak bisa menahan kalian lebih lama di luar, ayo masuklah menantuku,” balas Derya.
__ADS_1
Shazia dan Zihan pun masuk, sedangkan Taran yang menunggu di belakang anak dan istrinya terlihat bosan dan malas untuk menginjakkan kakinya di rumah.
Sama seperti di awal, Shazia kembali dibuat takjub dengan isi rumah keluarga Savas. Semua furniturnya tampak begitu mewah dan berkelas, rumah itu juga sangat bersih, tak sedikit pun terlihat adanya debu atau sarang laba-laba di sana.
“Mulai sekarang rumah ini juga menjadi rumahmu Shazia, keluarga ini juga menjadi keluargamu sekarang,” ucap Defne.
Setelah sedikit berbincang, Shazia pun di antar ke kamar Taran. Ia yang di tinggalkan sendiri oleh Defne merasa sedikit aneh berada di kamar suaminya itu. Shazia pun memilih duduk di sofa dan memperhatikan sekitar.
“Kamar ini sangat besar, bahkan dua kali lipat lebih besar dari kamarku di restoran.”
“Orang kaya benar-benar berbeda, ya.” Celoteh Shazia.
“Kira-kira apa tuan Taran sudah sangat terbiasa dengan ini?”
Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka, membuat Shazia yang sibuk memperhatikan itu terkejut.
“Tuan Taran, kau ingin membuatku terkena serangan jantung?”
“Siapa suruh kau melamun,” balas Taran singkat.
Shazia merasa kesal dengan jawaban Taran, apalagi ketika melihat tatapan dingin yang tak pernah berubah itu benar-benar membuatnya jengkel.
Taran mendekati istrinya, “Shazia, aku harus pergi ke kantor sekarang, ada masalah kecil yang harus kuselesaikan di sana, dan kemungkinan akan kembali larut malam”
“Ya, tidak papa pergilah Tuan, lagi pula aku tidak bisa menahan seseorang yang gila kerja agar tetap di rumah kan, jadi pergilah.”
“Tidak papa, lagi pula kita juga tidak mengerjakan apa-apa di rumah,” balas Shazia yang kembali duduk.
“Oh, ya, tuan Taran bisakah aku meminjam satu piamamu?”
“Piama? ada di salah satu lemari, pilih saja yang kau inginkan.”
“Tapi di lemari yang mana?” tanya Shazia lagi.
“Ada ruang ganti di kamar mandi, dan di sana hanya ada satu lemari, sekarang kau paham?”
“Ya, ya aku paham. Sekarang cepat pergilah, tuan Taran. Aku ingin berganti baju di sini.”
Taran kembali menatap sinis Shazia dan pergi dari kamarnya. Shazia yang kembali sendirian akhirnya berdiri dari sofa menuju meja rias, ia memandangi wajahnya di sana.
“Ternyata dandananku masih cantik, ya.”
“Kira-kira sampai mana pernikahan ini akan bertahan? Baik aku dan tuan Taran kami sama-sama tak saling mencintai, bagaimana jika nanti tuan Taran bertemu dengan orang yang ia cintai, apa pernikahan ini akan berakhir?”
“Ah, sudahlah, lebih baik jalani saja, kenapa aku harus pusing-pusing memikirkan hal yang belum terjadi?” Gerutu Shazia.
__ADS_1
Wanita itu pun mulai melepas Veil pengantin dan jepitan rambutnya.
“Em, sekarang bagaimana aku melepaskan gaun pengantin ini? kancingnya kan di belakang.”
“Aih, Shazia masa kita harus tidur dengan gaun pengantin ini.”
Wanita itu pun mencoba melepaskan kancing gaunnya sendiri, tapi tetap saja sebagian kancing tak dapat dilepas. Saking sibuknya Shazia dengan gaun, ia tak menyadari bahwa suaminya kembali masuk ke kamar.
Ya, Taran melupakan berkas penting di atas meja, sehingga ia terpaksa kembali ke kamar, saat melihat Shazia yang kesusahan dengan gaunnya, Taran pun datang menghampiri Shazia, ia langsung membuka kancing gaun dengan tangan besarnya itu
Awalnya Shazia tak tahu jika yang membantunya adalah Taran, sampai ketika ia melihat pantulan suaminya di cermin, seketika membuat wajahnya bersemu merah, apa lagi ketika merasakan sentuhan tangan Taran di punggungnya.
“Tu-tuan.”
“Sudah diamlah, jangan banyak bicara.”
“Tuan kapan kau datang ke kamar? Aku tak tahu kau kembali lagi.”
“Saking sibuknya dengan gaun, kau sampai tak menyadari kehadiran suamimu sendiri?”
Kancing tersebut pun terbuka sepenuhnya, Shazia langsung berbalik menghadap ke arah Taran.
“Terima kasih.”
Taran tak membalas, ia kembali ke tujuan awal untuk mengambil berkas dan langsung pergi setelahnya.
“Dasar pria aneh, setidaknya balaslah rasa terima kasihku itu dengan anggukan.”
Selesai mandi, Shazia merasa tubuhnya menjadi ringan, Apalagi piama Taran yang ia gunakan cukup besar di tubuhnya, benar-benar membuatnya nyaman untuk tidur.
“Wow, bahkan ranjangnya pun empuk sekali, aku yakin tuan Taran tak pernah merasa pegal tidur di sini.”
“Oh, iya bahkan sofa yang kududuki tadi tidak keras, kalau begini aku tak perlu takut kehabisan tempat tidur, sofanya saja empuk. Benar-benar, ya, orang kaya sungguh berbeda.”
“Mama,” Panggil Zihan dari luar.
Mendengar Zihan memanggil, Shazia segera berdiri dan membukakan pintu untuk putranya.
“Zihan ada apa, sayang?”
“Mama, bisa tidak kalau aku tidur bersama mama dan papa, aku ingin sekali tidur bersamamu mama, bolehkah?”
Shazia tersenyum, “Baiklah, tentu saja, Zihan bisa tidur bersama mama dan papa, ayo masuk” ajak Shazia.
“Dan bisakah mama membacakan dongeng untukku seperti waktu itu?”
__ADS_1
“Iya, mama akan membacakan dongeng untuk Zihan, ayo masuklah.”
Zihan tersenyum senang, “Terima kasih Mama.”