Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 44 - Tentang Taran


__ADS_3

Zihan terkesima memandang foto sang Ayah, ia tak percaya wajahnya sangat mirip dengan Taran. Padangan Zihan lalu beralih pada foto sang ayah yang lain.


“Nenek apa ini Papa saat di SMA?” tanya Zihan.


Shazia dan Defne pun memperhatikan foto yang ditunjuk Zihan, itu adalah foto saat Taran menerima mendali atas prestasinya. Melihat tanggal yang tertulis di foto membuat Shazia mengingat masa lalunya.


Ia sangat ingat dan mungkin tidak akan pernah lupa di hari dan tahun yang sama seperti di foto, ia yang saat itu masih duduk di kelas satu SMA mendapatkan hukuman untuk membersihkan halaman sekolah bersama Hazan, diakibatkan oleh kenakalan keduanya yang sering kali membolos.


Mengetahui apa yang terjadi di hari yang sama saat masa sekolah dirinya dan Taran membuat Shazia tertawa, betapa keduanya mempunyai sifat dan latar berbeda. Gadis yang sering kali membolos pelajaran dan selalu mendapatkan nilai jelek, kini menjadi seorang istri dari pria yang sejak sekolah selalu mempunyai prestasi.


“Shazia kenapa kau tertawa, apa ada yang lucu?” tanya sang ibu mertua.


“Ya, aku mengingat apa yang terjadi di hari yang sama seperti tanggal di foto, ibu mertua. Sementara Taran mendapatkan mendali, aku mendapatkan hukuman di sekolah.”


“Wah Mama sering mendapatkan hukuman saat sekolah?”


“Ya, bisa dibilang begitu. Saat sekolah mama adalah gadis yang sangat malas untuk belajar dan sering kali membolos,” balas Shazia.


“Wow, berarti Mama sangat berbeda dengan yang dulu. Nenek sekarang ceritakan padaku bagaimana papa saat masa SMA-nya.”


“Ayahmu, dia orang yang penuh ambisi, perhatiannya selalu untuk buku dan belajar, dia tak suka bermain dan lebih memilih menghabiskan waktunya untuk belajar tak peduli itu hari libur atau tidak. Saat SMA banyak yang menyukai ayahmu karena prestasi dan wajah tampannya, tapi tetap saja ayahmu selalu fokus untuk belajar.”


Saat ini usiaku 33 tahun dan Taran 35 tahun, berarti waktu itu dia sudah duduk di kelas tiga, sementara aku masih di kelas satu. Shazia.


“Benarkah, Nenek.”


“Tentu saja,” balas Defne sembari mengecup dahi Zihan.

__ADS_1


“Sekarang sudah malam, apa Zihan sudah mengerjakan PR?” tanya sang Nenek.


“Oh, iya aku lupa, kalau begitu aku pergi ke atas, ya, Nenek, Mama.”


Shazia dan Defne mengangguk.


Ketika Zihan telah pergi, Defne menutup album foto dan menatap Shazia.


“Anak yang dulunya kuragukan kini membuktikan dirinya.”


“Apa maksudmu ibu mertua?”


“Zihan, dulu aku sempat meragukannya apa dia benar-benar anak dari putraku atau bukan. Tapi semuanya terjawab begitu saja.”


“Maaf jika aku bertanya hal lain, apa Ibu mertua tahu tentang ibu kandung Zihan?”


Defne menggeleng, “Sama sekali kali tidak, melihat wajahnya pun aku tidak pernah. Tentang bagaimana semuanya bisa terjadi pun aku hanya mendengar dari sekretaris terdahulu Taran.”


“Aku tidak tahu apa yang orang-orang itu masukan ke minuman Taran, sekretarisnya mengatakan dia tak sadarkan diri. Orang-orang itu pikir dengan menjebaknya mereka bisa memeras Taran.”


“Jadi ibu kandung Zihan juga terlibat?”


Defne kembali menggeleng, “Entah bagaimana saat orang-orang itu sedang menunggu wanita yang mereka sewa, ibu kandung Zihan muncul dengan keadaan mabuk, orang-orang itu mengira bahwa dialah wanita yang dimaksud dan langsung memasukkannya ke kamar Taran.”


“Jahat sekali, lalu apa sekretarisnya tidak membantu?”


“Saat itu dia sedang sibuk dengan pekerjaan di luar, dia bisa menyimpulkan kejadian ini pun dari Cctv dan keterangan Taran.”

__ADS_1


“Sekretaris Taran menceritakan, setelah mereka memasukkan Ibu kandung Zihan, tak berapa lama Wanita yang mereka sewa datang, mereka terlihat terkejut mengetahui hal itu dan dengan segera mencoba membuka pintu.”


“Tapi sangat disayangkan, Ibu kandung Zihan telah mengunci kamar dan mereka tidak bisa mendapatkan kunci cadangan karena peraturan hotel.”


“Jadi rencana mereka gagal?”


“Ya, dan itulah awal dari semuanya, setelah kejadian itu dia benar-benar berubah drastis. Taran begitu marah atas pengkhianatan orang-orang yang dipercayanya itu, dan membalas perbuatan mereka.”


“Sosoknya yang begitu mudah percaya dengan orang lain, berubah menjadi sosok yang penuh curiga bahkan dengan keluarganya sendiri. Dia begitu dingin dan menjaga jarak, dia selalu sibuk, bahkan selama beberapa bulan ia tak pulang ke rumah, setiap ditanya kata sibuk adalah jawabannya.”


“Sekretaris itu juga bercerita, jika setelah kejadian itu Taran mencoba mencari keberadaan Ibu kandung Zihan, tapi sampai saat ini hasilnya tetap nihil. Jujur aku merasa kasihan padanya, wanita itu juga korban dari rencana mereka.”


“Di sisi lain aku begitu bangga dengan Putraku yang ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang tak disengaja itu, tapi di sisi lain aku begitu sedih telah kehilangan sosoknya.”


“Putraku yang selalu ramah berubah menjadi sosok berbeda, ia tak pernah tertawa atau tersenyum lagi, wajahnya selalu datar dengan tatapan tajam mendominasi,“


“Sebagai seorang ibu aku tahu bahwa dia amat marah atas pengihanatan orang-orang yang dipercayanya. Hari-hari sebelum Zihan datang ke rumah ini adalah hari-hari paling berat bagiku dan Derya.”


“Tapi ketika Zihan telah datang ke keluarga Savas, dia seolah membawa secercah cahaya dan menerangi kegelapan di rumah ini. Taran amat menyayangi Zihan, dia berusaha membesarkan sendiri putranya yang saat itu masih membutuhkan sosok ibu.”


“Aku ingat sekali bagaimana susahnya dia merawat Zihan di tengah kesibukannya, demi putranya dia sampai memindahkan pekerjaannya ke rumah, semua ia lakukan untuk membesarkan Zihan dengan tangannya sendiri.”


“Tapi sayangnya, ketika Zihan mulai bersekolah dan terbiasa tidur di kamarnya sendiri, Taran kembali menjadi orang yang sibuk. Ya, walaupun itu tak separah saat Zihan belum ada.”


Shazia menatap lekat Defne yang terlihat sendu. “Ya, jika kesibukannya yang sekarang aku bisa mengerti posisinya, Ibu mertua. Karena dulu Ayahku juga seperti itu, sejak kematian ibu dia bekerja lebih keras, sampai-sampai dia tak punya waktu untukku, aku pikir dia lebih mencintai pekerjaan dari putrinya sendiri, sampai saat di mana aku mulai bekerja sendiri barulah aku mengerti alasannya.”


“Ya, Taran pun pasti berbuat begitu demi Zihan,” sambung Shazia lagi.

__ADS_1


“Dan setiap orang pasti juga akan berubah pada masanya, tak akan ada yang sama, Ibu mertua. Dari yang ibu ceritakan tentang Taran, aku mengetahui bahwa Taran telah belajar dari masa lalunya, bahwa itulah bayaran jika dia terlalu percaya dengan orang lain."


"Jangan meresa sedih akan Taran, dia hanya butuh waktu untuk menata semuanya kembali," ucap Shazia lagi sembari memegang tangan Defne.


__ADS_2