Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 61 - Terjatuh dari tangga


__ADS_3

Siang itu, di kediaman keluarga Savas, Shazia yang kali ini menutup restorannya, terlihat berada di ruang rias, wanita itu sengaja datang hanya untuk melihat-lihat sementara menunggu sang ayah menjemputnya.


Ya, hari ini ia dan sang Ayah akan pergi ke panti asuhan, keduanya ingin mewujudkan keinginan Esmeralda ketika hidup yang ingin sekali membangun panti asuhan.


Shazia yang melihat-lihat ruang rias milik ibu mertuanya itu tanpa sengaja melihat sepatu hak tinggi yang menarik perhatiannya.


“Wah aku tidak pernah memakai sepatu hak yang setinggi ini,”


“Ibu mertua memang modis, segala macam pakaian dan sepatu dia miliki semua.”


“Tapi apa salahnya aku mencoba, ibu mertua aku pinjam sepatu milikmu, ya.”


Shazia membuka lemari dan mengambil sepatu hak berwarna hitam tersebut.


“Wow, menggunakan sepatu ini aku jadi merasa lebih tinggi dari Taran.”


Dengan sepatu haknya Shazia berjalan keluar dari ruang rias, ia berniat untuk memamerkannya pada sang ibu mertua. Akan tetapi, belum sempat ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, Taran memanggil


“Shazia.”


Mendengar namanya di sebut sontak membuat Shazia berbalik ke arah sumber suara, yang ternyata Taranlah yang memanggilnya. Suaminya itu sengaja pulang lebih awal untuk mempersiapkan keberangkatannya esok hari ke luar kota.


“Ya, kau memanggilku Taran?”


“Kau ingin pergi ke mana?” tanya sang suami kala melihat sepatu hak yang dipakai Shazia.


“Aku ingin pergi ke panti sekaligus mengunjungi sahabatku di sana.”


“Dengan sepatu hak itu?”


Shazia tertawa kecil, “Tentu saja tidak, aku hanya ingin mencobanya sebentar.”


“Bagaimana apa aku sudah terlihat seperti seorang model?” tanya Shazia sembari berpose layaknya seorang model.


Shazia yang asyik bergaya itu tak menyadari jika ia berdiri tepat di belakang tangga, sehingga ketika ia memundurkan langkahnya, ia kehilangan pijakan.


“Shazia awas!” teriak Taran yang dengan secepat kilat berlari untuk menangkap Shazia.


“Uwaaah!”


Akan tetapi, Taran kalah cepat, Shazia lebih dulu jatuh menggelinding ke lantai dasar, dengan kepala yang lebih dulu membentur lantai.


Dengan segera Taran menuruni anak tangga dan menghampiri sang istri yang masih terbaring di lantai, ia kemudian membatu Shazia untuk duduk.


“Shazia, mana yang sakit?”


“Bagian mana terluka?”


“Ayo kita pergi ke dokter,”


Shazia menggeleng, “Tidak papa Taran, aku tidak terluka, hanya kaki kananku yang rasanya terkilir,” balas Shazia sembari memegang kaki kanannya.


“Kalau begitu ayo kita pergi ke dokter.”

__ADS_1


“Kubilang tidak usah, aku tidak papa, lagi pula kakiku hanya terkilir untuk apa pergi ke dokter. Hah, untung saja tangga di rumah ini menggunakan karpet, jadi ini tidak terlalu sakit.”


Di saat bersamaan Derya dan Defne datang setelah mendengar suara keributan.


“Shazia apa yang terjadi denganmu?” tanya Defne sembari mendekat ke arah Shazia.


“Dia terjatuh dari tangga, Bu.”


“Apa! Jadi suara dentuman yang terdengar tadi itu kau.”


“Ya, ampun Shazia, apa kau terluka? Ayo lebih baik kau pergi ke dokter bersama suamimu.”


“Tidak perlu ibu mertua aku baik-baik saja, tidak perlu sampai ke dokter.”


“Shazia lebih baik kau dengarkan ibu mertuamu, bagaimana jika ada luka yang parah?” timpal Derya.


Shazia kembali menggeleng, “Tidak papa, Ayah, aku hanya terkilir dan ya, sedikit pusing karna kepalaku lebih dulu terbentur ke lantai.”


“Taran bisakah kau membantuku berdiri?”


Taran mengangguk, tapi bukannya seperti yang dipinta, pria itu malah langsung menggendong sang istri dan merebahkannya di sofa ruang tengah.


Sementara Defne mengambil es batu di dapur, Derya ikut duduk menemani Shazia di salah satu sofa.


“Kau benar-benar tidak papa menantuku?”


“Tidak papa, Ayah mertua, jangan Khawatir,” balas Shazia sembari melepas sepatu hak tingginya.


“Memangnya apa yang terjadi sampai kau bisa terjatuh menantuku?”


“Lalu tiba-tiba Taran memanggil, dan karena terlalu asyik berbicara dengannya, aku lupa jika berdiri di belakang tangga.”


“Lain kali berhati-hatilah Shazia, untung saja kali ini kau tidak papa.”


Shazia tersenyum, “Ya, Ayah mertua.”


Tak lama Defne datang membawa es batu dan kain. Wanita itu kemudian memberikannya pada Taran yang duduk di samping Shazia.


“Ini Taran, kompreslah kaki istrimu


Taran pun meletakan kaki Shazia di atas pahanya dan mengompres kaki istrinya itu. Melihat wajah Taran yang terlihat serius, membuat jantung Shazia kembali berdebar.


Ia kembali mengingat apa yang terjadi kemarin malam, di kala ia ingin merebahkan tubuhnya di ranjang, Taran tiba-tiba berdiri dari sofa dan mengecup keningnya.


Mengingat itu tentu membuat jantung Shazia semakin berdebar dan karnanya wajahnya jadi memerah.


“Terima kasih Taran.”


“Dan ibu mertua maaf menggunakan barangmu tanpa izin.”


“Ah, tentang sepatu itu, tidak papa Shazia. Aku sudah tua mana bisa menggunakan sepatu setinggi itu lagi. Kau bisa menggunakan apa pun yang kau mau di ruang rias, semua itu menjadi milikmu sekarang.”


Shazia tak dapat menjawab, ia hanya bisa membalas dengan anggukan.

__ADS_1


Tak lama, Erhan datang ke kediaman Savas, awalnya ia bingung melihat Taran mengompres kaki putrinya, tapi setelah besannya menjelaskan apa yang terjadi, wajahnya berubah khawatir.


“Shazia kau benar-benar tidak papa sayang, jika kau sakit kita batalkan saja rencana hari ini.”


“Tidak, aku tidak papa, kita akan tetap pergi ke panti asuhan hari ini.”


Dengan perlahan Shazia berdiri dari duduknya. “Ayah tunggulah dulu, aku akan mengambil tas dan sepatuku.”


Erhan mengangguk.


“Ayo tuan Erhan duduklah dulu, kau akan lelah jika terus berdiri,” ucap Derya.


Sementara menunggu putrinya, Erhan pun duduk berbincang bersama Derya. Kedua pria itu asyik sekali menceritakan kisah mereka saat masih muda.


...****************...


Shazia dan Ayahnya telah sampai di panti asuhan, senyum wanita itu merekah kala melihat bangunan panti di depannya.


“Padahal aku sudah berkali-kali pergi ke sini, tapi tetap saja rasanya menyenangkan.”


“Hazan benar-benar pintar mengurus panti ini. Aku tak menyangka dia yang dulunya sangat nakal sepertiku, kini menjadi wanita baik yang mengurus anak-anak di panti ini seperti anaknya sendiri.”


Erhan terkekeh, “Itulah hidup Shazia, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.”


“Kau benar Ayah, kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.”


Keduanya secara berdampingan masuk ke bangunan panti, di sana Shazia langsung di sambut hangat oleh Hazan, sahabatnya itu langsung memeluk erat dirinya.


“Shazia selamat datang untukmu.”


“Dan selamat datang juga untukmu paman, sudah lama tidak bertemu apa kabar paman baik?"


“Seperti yang kau lihat sekarang, paman baik-baik saja, hanya usia yang terus membuat paman bertambah tua.”


Hazan tertawa kecil, “Oh, ya, selamat untuk pernikahanmu Shazia, maaf aku tidak bisa datang.”


“Tidak papa Hazan, aku tahu kau sangat sibuk dengan anak-anak di panti, aku bisa memahaminya.”


Hazan tersenyum, “Kalau begitu, ayo silakan duduk Shazia, paman Erhan.”


Setelah menyodorkan teh dan camilan, keduanya mulai membicarakan maksud kedatangannya pada Hazan. Tentu saja Hazan sangat menerima apa yang ingin dilakukan Shazia dan sang Ayah.


“Kami memang tidak bisa membuat sebuah panti baru, karna kau tahu pasti banyak sekali apa yang harus dilakukan. Karna itulah kami ingin melakukannya dengan menyumbang dana untuk perbaikan panti.”


“Oh, aku senang mendengarnya, memang kami harus membangun beberapa kamar lagi di panti ini juga untuk memperbaiki bagian dapur yang sedikit rusak.”


“Tapi dengan jumlah dana yang kau berikan ini, uangnya masih sangat banyak tersisa.”


“Tidak papa Hazan, sisanya kau bisa membeli banyak bahan makanan dan menambah fasilitas di panti.”


“Ya, tapi tetap saja dananya masih sangat banyak tersisa, jika kau setuju apa bisa aku memberikan sebagiannya nanti pada panti asuhan yang lain, yang juga membutuhkan bantuan dana?”


“Terserah kau ingin melakukan apa dengan dananya, aku sangat berterima kasih jika kau ingin melakukannya seperti itu,” balas Shazia.

__ADS_1


“Terima kasih Shazia, aku akan menggunakannya sebaik mungkin."


__ADS_2