Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 52 - Aku mencintaimu


__ADS_3

Zihan mendengus kesal, "Itulah sebabnya aku tidak pernah ingin berteman dengan anak-anak seperti itu."


"Mereka tak pernah tulus berteman dan hanya membicarakan harta."


“Kalau begitu bisakah kalian melepaskan tanganku?”


Secara bersamaan Mustafa dan Zihan melepas Ece.


“Aku tidak tahu ada orang yang seperti itu, karna kau tahu sendiri kan bagaimana teman-teman yang aku kenal kan padamu, mereka tidak pernah seperti itu.”


Zihan menangguk


“Dan bagaimana dengan rambutmu, ikatan kan terlepas?” tanya Mustafa,


“Tidak papa, aku bisa mengikatnya sendiri,” balas Ece sembari mengambil gelang pengikat dari sakunya.


“Untung aku membawa ikat rambut lagi,” ucap Ece sembari mengikat kuncir rambutnya.


Mustafa tertawa kecil, “Kau seperti teman perempuanku, dia persis sepertimu.”


Ece pun menoleh pada Mustafa dan menatap dengan wajah penasaran. “Kau punya teman perempuan juga?”


“Ya, dia anak dari pembantu yang bekerja di rumahku, jadi setiap hari aku selalu bermain dengannya, dan karena ibuku tidak punya anak perempuan, dia menganggap temanku itu seperti anaknya juga.”


“Lalu kenapa kau tidak membawanya ke sini?” tanya Ece lagi.


“Sayangnya dia sedang sakit, jadi tidak bisa ikut ke pesta, padahal ibuku sudah membelikan gaun untuknya.”


“Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mengenalkannya pada kalian berdua.”


“Oh, iya aku juga belum berkenalan dengan kalian, aku Mustafa, semoga kita bisa berteman baik di sini maupun di sekolah,” Mustafa menyodorkan lengannya.


Untuk sesaat Zihan memandang Mustafa dengan wajah tak bersemangat tapi kemudian ia menghela nafas dan menerima jabatan tangan Mustafa.


“Aku Zihan.”


“Kalau aku Ece, yang kecantikannya diakui oleh Zihan, he, he.”


Seketika Zihan menatap aneh Ece, “Ece kapan aku pernah menganggapmu cantik?”


“Itu kau sebutkan kata cantik untukku.”


Mustafa tertawa, “Melihat kalian aku jadi merindukan teman perempuanku juga.”


Dan di sisi lain, setelah Kadriye pergi Taran pun membawa Shazia ke mobil melewati pintu belakang, karna dengan penampilannya sekarang tentu saja pasti orang sudah menduga apa yang terjadi.


“Kau benci padanya?” tanya Taran tiba-tiba.


“Tidak, jujur aku susah untuk membenci orang, aku hanya kesal padanya.”


“Sungguh kau begitu berani.”


“Itu sebuah pujian atau penghinaan?” tanya Shazia dengan mata menatap tajam sang suami.


“Entah lah, tergantung seperti apa kau memahaminya Shazia.”


“Melihatmu yang seperti ini mengingatkanku pada pertemuan pertama kita.”


Mendengar itu Shazia pun kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Taran, bagaimana dengan berani ia menampar Taran dan melemparkan uang padanya.


Shazia mendengus, “Siapa suruh kau begitu menyebalkan.”

__ADS_1


“Ya, tampaknya aku memang tidak salah memilih istri.”


“Kau bahkan dengan mudah membuat Kadriye pergi begitu saja, padahal dia wanita sangat sulit untuk di usir pergi.”


“Tentu saja aku akan melawannya, dia pikir siapa dia? Ingin merebut apa yang sudah menjadi milikku? Dia harus berhadapan denganku lebih dulu.”


“Oh, jadi aku ini milikmu?”


Wajah Shazia memerah kala mendengar pertanyaan Taran. Ia menjawab dengan terbata-bata.


“Te-tentu saja, a, a, aku. Maksudku tentu saja k-kau kan suamiku dan aku istrimu.”


Taran terdiam sesaat, “Shazia bagaimana jika aku mencintaimu?”


Seketika langkah Shazia terhenti, ia menoleh ke samping, “Tuan tampaknya kau tak sehat, ayo kita segera pulang.”


Shazia mempercepat langkahnya sehingga sang suami tertinggal beberapa langkah darinya.


Sesampainya di dekat mobil Taran, Shazia pun menatap sekitar.


“Apa yang kau cari Shazia?”


“Dua anak kurcaciku itu katanya mereka bermain di taman tapi aku tak melihatnya.”


“Kau tak melihat? Lihatlah mereka sedang berlari ke arahmu.”


Sedikit lama mencari, akhirnya mata Shazia menangkap sosok Zihan dan Ece yang berlari ke arahnya.


“Mama!”


Zihan yang berniat untuk memeluk Shazia langsung mengurungkan niatnya kala melihat penampilan Shazia.


“Iya, Bibi, apa yang terjadi padamu? Kenapa penampilan bibi persis seperti nenek sihir?”


“Shazia bawahlah anak-anak masuk, aku akan pergi ke pesta itu sebentar,” ucapnya.


“Ya, baiklah, tolong kau sampaikan permintaan maafku pada Tuan dan Nyonya Iskander.”


Taran mengangguk lalu melanjutkan langkah menuju ke gedung pesta kembali.


“Bibi kau belum menjawab pertanyaan kami.”


“Ya, ya, tapi ini tidak untuk kalian tiru, bibi bertengkar dengan seseorang di pesta, dan jadilah begini.”


“Apa masalah yang membuat Mama bertengkar?”


“Itu rahasia, ayo Zihan, Ece masuklah,” perintah Shazia sembari membukakan pintu belakang.


Akan tetapi tiba-tiba mata Shazia teralih menatap dress dan lengan Ece yang kotor.


Shazia mengerutkan keningnya, ia menunduk dan memegang pergelangan tangan Ece yang sedikit lecet.


“Ece kenapa lenganmu jadi begini? Apa yang terjadi denganmu?”


“Mama, saat aku pergi ke toilet, anak-anak perempuan lainnya sengaja mendorong Ece sampai terjatuh," jelas Zihan.


“Apa, kenapa? Ece kau juga berkelahi dengan mereka?”


“Tidak bibi, aku tidak berkelahi, saat mereka bertanya tentang asalku, aku menjawab apa adanya, tapi ketika tahu aku hanya anak dari seorang karyawan, mereka langsung mendorongku.”


“Mereka bilang mereka tidak sudi bermain dengan anak miskin sepertiku.”

__ADS_1


Seketika binar mata Shazia meredup, ia ikut sakit mendengar apa yang dikatakan Ece. Bahwa apa yang mereka alamk di sini adalah hal yang sama, semua orang mencibir tentang status sosial yang berbeda.


“Lalu kenapa tiba-tiba rambutmu dikuncir begini, bukankah Bibi mengepang rambutmu saat kemari?”


“Anak-anak perempuan itu menarik jepit rambutku, katanya aku tidak pantas menggunakan jepit rambut mahal seperti itu.”


“Bibi, bisakah aku tahu perbedaan anak miskin dan anak kaya? Kata mereka itu yang membedakan aku dengan mereka.”


Semakin sakit perasaan Shazia mendengar Ece mengatakan semua itu dengan wajah yang tak mengerti apa pun, Shazia kemudian berjongkok, ia menyentuh pipi Ece dan tersenyum hampa.


Wanita itu tak membalas dan tangannya secara perlahan bergerak memperbaiki dress yang di kenakan Ece dan membersihkan lukanya dengan tisu.


“Saat sampai rumah nanti bibi akan memberikan obat merahnya pada lukamu.”


“Kenapa bibi terlihat sedih mendengar ceritaku?”


“Ece, maafkan bibi membawamu kemari, seharusnya kita tidak datang ke sini.”


Apa yang kita alami di sini, membuatku sadar Ece, bahwa tidak ada tempat untuk kita yang hanya berasal dari kelas menengah, kenapa aku tidak tinggal di rumah saja bersama kalian berdua, mungkin ini tidak akan terjadi. Shazia.


Lagi pula tidak akan ada yang peduli bukan jika Taran dan sendirian ke pesta ini. Shazia.


“Tidak papa bibi, aku malah senang bisa ikut ke pesta ini, dan tadi juga ada Mustafa dan Zihan yang menolongku, jadi aku tidak terlalu peduli apa yang mereka katakan.”


Mata Shazia mulai menggenang mendengar perkataan Ece, ia langsung merengkuh Ece dan Zihan ke dalam pelukannya. Baru setelah itu mereka masuk ke mobil dan menunggu Taran kembali.


...****************...


Sesampainya di rumah, Shazia tak serta merta langsung pergi ke kamarnya, ia terlebih dahulu mengobati luka Ece, barulah setelah itu ia mengantarkan dua anak kurcacinya itu ke kamar masing-masing.


“Kau sudah ganti baju Ece?”


“Sudah bibi.”


“Sekarang bagaimana dengan lukamu apa masih sakit?”


Ece menggeleng.


“Baguslah Ece, sekarang kemarilah,” panggil Shazia yang duduk di tepi ranjang.


Ece yang keluar dari kamar mandi itu pun menghampiri sang bibi yang mulai berdiri dari tempatnya. Shazia tersenyum dan mengecup dahi Ece, ia lalu mengangkat anak itu ke atas ranjang dan menyelimutinya.


“Sekarang tidurlah, selamat malam untukmu, anak manis.”


Ece mengangguk.


“Kau ini anak yang penurut, ya, bibi Ceyda pasti bangga memiliki putri sepertimu.”


Ece menggeleng, “Tidak bibi, akulah yang bangga memiliki ibu yang kuat, dia bekerja sembari mengurusku tanpa pernah mengeluh.”


“Nanti jika aku besar, aku ingin membahagiakan dia tanpa perlu ibu bekerja lagi.”


“Amiin, semoga Allah mengabulkan doamu.”


Setelah Shazia mengecek kamar Zihan, ia dapat melihat putranya telah berganti baju dan tengah mengerjakan PR-nya di meja belajar.


“Kau belum tidur sayang?”


Zihan menoleh aku ingin mengerjakan PR dulu baru setelah itu tidur.”


“Baiklah kalau begitu, selamat belajar putraku,”

__ADS_1


__ADS_2