
Seperti yang telah di rencanakan, menjelang sore Shazia bersiap-siap untuk pergi bersama putranya. Ia menata rambut dan pakaian yang ia kenakan, blazer panjang berwarna abu dengan kaus dan celana berwarna hitam.
“Ya, ini sudah sempurna saatnya pergi menemui Zihan.”
Shazia mengambil tas selempangnya di atas ranjang, wanita itu langsung pergi ke kamar Zihan setelahnya.
“Zihan!” panggil Shazia sembari membuka pintu.
“Eh, mama, tunggu sebentar, ya,” sahut Zihan yang tengah memasang jaketnya.
“Ya, mama akan selalu menunggumu,” balas Shazia yang berjalan mendekat ke putranya.
“Mama, aku sudah siap ayo kita pergi!” ajak Zihan yang langsung berbalik ke arah Shazia.
“Eh tunggu dulu, rambutmu masih berantakan, Zihan belum menyisirnya, ya.”
Shazia kembali membalikkan tubuh putranya itu menghadap cermin, ia mengambil sisir di meja rias dan menyisir rambut Zihan yang berantakan.
“Selesai, putra mama jadi sangat tampan sekarang,” puji Shazia yang menatap penuh kasih pada putranya itu.
Zihan tersenyum, “Terima kasih Mama.”
Aku berharap semoga aku bisa selalu bersamamu tak peduli apa pun yang terjadi Zihan, kau memang bukan anak yang lahir dari rahimku, tapi aku selalu menganggapmu putraku. Shazia.
“Mama ayo kita pergi, jangan menatapku dengan wajah seperti itu, jika Mama menangis aku juga ikut menangis nanti.”
“Tidak, sayang, Mama tidak menangis. Ya, ayo kita pergi, Sayang”
Shazia menggandeng lengan Zihan dan membawanya pergi ke lantai bawah. Di sana keduanya bertemu dengan Defne dan Derya yang tengah bersantai di ruang tengah.
“Kalian ingin pergi ke mana dengan pakaian rapi itu ha?” tanya Derya.
“Kakek aku ingin pergi jalan-jalan bersama mama dan papa,” balas sang cucu.
Derya tertawa mendengar jawaban sang cucu “Jalan-jalan bersama papamu? Sejak kapan anak yang super sibuk itu bisa meluangkan waktunya untuk kita?”
“Aih, Derya kau ini jangan mematahkan semangat cucumu sendiri,” tegur Defne.
“Bagus, jika memang putra kita sedikit demi sedikit mulai berubah, dia memang harus meluangkan waktu setidaknya sedikit untuk anak dan istrinya,” ucap Defne lagi.
“Cucuku Zihan, bersenang-senanglah bersama mama dan papamu, ya, nikmati waktunya.”
“Iya, Nenek aku akan bersenang-senang hari ini!” balas sang cucu penuh semangat.
Defne tersenyum senang kala melihat cucu yang terlihat bahagia itu, Shazia benar-benar bisa merubahnya dengan baik dalam waktu singkat
Dulu ketika ayahnya yang menyuruhnya pergi berjalan-jalan sedikit pun dia tak tertarik, kini setelah bersama Shazia jalan-jalan adalah sesuatu yang dinanti dan paling bahagia baginya. Defne.
“Shazia menantuku, aku titipkan Zihan denganmu.”
__ADS_1
“Tenang saja ibu mertua aku akan selalu menjaganya, kalian berdua pentingkan saja kesehatan kalian, biar aku yang mengurus Zihan dan Taran.”
Defne kembali tersenyum lalu balas mengangguk.
Di saat bersamaan Taran datang, ia terlihat mengenakan kemeja hitam dan celana berwarna senada, pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah Shazia dan Zihan.
“Wah hari in warna baju yang digunakan mama dan papa sama, ya.”
“Aku jadi senang melihatnya!” pekik Zihan.
“Tapi Zihan, bukan mama dan papa saja yang menggunakan warna baju yang sama, jaketmu pun warnanya sama seperti pakaian kami,” balas Shazia sembari tertawa.
“Ah, aku baru menyadarinya Mama, ha, ha. Dengan begini kita seperti keluarga bahagia, ya.”
“Zihan, sayang. Tanpa warna baju yang sama pun kita memang keluarga bahagia.”
Sungguh kali ini couple yang benar-benar tak direncanakan. Shazia.
Tetapi walau melihat Zihan dan Shazia seperti itu, Taran tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi.
“Apa kalian sudah selesai bersiap?”
Shazia mengangguk, “Ya, kami sudah siap,” balas Shazia.
“Baiklah, ayo kita berangkat.”
“Ya, bersenang-senanglah, ya,” sahut Derya.
“Ibu mertua, Ayah mertua, kami berangkat,” ucap Shazia juga.
“Ya menantuku,” Balas Defne.
...****************...
Di taman bermain, Shazia melihat-lihat sekitar, banyaknya jajanan dan hiburan cukup memanjakan mata bagi Shazia. Sudah cukup lama ia tidak meluangkan waktunya seperti ini, membuat perasaannya sedikit terobati.
“Zihan kau ingin bermain apa?”
“Aku juga bingung Mama, banyak sekali permainan di sini.”
“Kalau begitu apa kita mencicipi jajanan saja, lalu baru bermain setelahnya, bagaimana?”
“Ya, itu ide bagus Mama.”
Shazia tersenyum senang ia kembali menggandeng lengan Shazia dan pergi ke kios makanan, sedangkan Taran yang berdiri di belakang, hanya bisa mengikuti langkah keduanya.
Shazia dan Zihan benar-benar menikmati waktu bersama mereka mencicipi semua jajanan dari kios satu ke kios lainnya, saking asyiknya, Shazia hampir lupa akan kehadiran Taran.
“Tuan kau ingin mencobanya?” tanya Shazia.
__ADS_1
“Ya, papa ini sangat enak cobalah,” timpal Zihan.
“Tidak, kalian saja.”
Shazia mendengus kesal, “Apa gunanya Tuan ikut jika tidak menikmatinya, setidaknya cobalah sekali saja,” sembari menyodorkan makanan yang dipegangnya pada Taran.
“Buka mulutmu dan gigitlah sekali,” ucap Shazia lagi.
Taran hanya diam ia menatap lekat Shazia, membuat wanita itu menyadari perkataannya.
Eh, bukankah aku seperti ingin menyuapnya? Shazia sifat untukmu yang terlalu menikmati waktu dan tak menyadari ucapanmu itu setidaknya hilangkanlah sedikit Shazia! Shazia.
Tara lalu memegang lengan Shazia dan menggigit makanan yang di pegang oleh istrinya itu. Hal tersebut seketika membuat jantung Shazia berdegup kencang.
Ayo Shazia kuatkan jantungmu, ini hanya perlakuan kecil bukan apa-apa! Shazia.
“Bagaimana enak?”
Taran mengangguk.
“Sudah kukatakan Ayahnya Zihan kau harus menikmati waktu jalan-jalan ini.”
“Mama aku ingin naik bianglala.”
“Kau ingin naik bianglala? Kalau begitu ayo kita pergi,” balas Shazia sembari menarik lengan putranya.
Sedangkan Taran tetap mengikuti dari belakang, Shazia sengaja mempercepat langkahnya agar tak berjalan beriringan degan suaminya itu, karna sejak berada di taman bermain Shazia sadar pusat perhatian orang-orang selalu tertuju pada wajah rupawan Taran.
“Paman tiga tiket untuk tiga orang,” pinta Zihan pada penjaga loket.
“Baik, ini tiketmu anak manis.”
“Oke, terima kasih paman,” balas Zihan sembari memberikan uang pembayaran.
Setelahnya ketiga orang itu menaiki bianglala, awalnya Shazia mengira Taran akan menaiki bianglala yang berbeda dengan mereka, tapi nyatanya pria itu juga ikut masuk ke tempat yang sama.
Aku pikir dia akan duduk sendiri, ternyata dia ikut masuk ke tempat yang sama denganku dan Zihan, apa lagi harus duduk berhadap-hadapan begini suasananya kan jadi canggung. Shazia.
Apalagi dengan wajah datar dan tatapan dingin yang tak pernah berubah itu, rasanya aku tak ingin berlama-lama di sini, seseorang tolong keluarkan dia dari sini. Shazia .
Zihan yang duduk di samping Shazia tampak senang melihat pemandangan dari jendela, “Mama langit malam sangat indah, ya.”
“Ya mereka sangat indah.”
“Sejak sore kita sampai di sini, kita menikmati banyak jajanan sampai waktu tak terasa lewat begitu saja,”
“Aku harap keluarga kita juga seperti itu, bisa menikmati banyak hal sampai tak terasa tahun terus berganti.”
Mendengar itu Shazia mendekatkan posisi duduknya di dekat Zihan, ia mengelus rambut putranya itu, “Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Sayang. Tapi ingatlah mama akan selalu bersamamu sampai kau tak merasa tahun terus berganti. ”
__ADS_1