
Shazia yang melihat Fulya memohon di kakinya hanya bisa diam. Ia merasa tubuhnya sangat sulit untuk di gerakkan apa lagi untuk berbicara.
“Kumohon izinkan aku Nyonya!” pinta Fulya disertai dengan isak tangis.
Tentu saja tangisannya mengundang perhatian banyak orang, termasuk Erhan juga Zihan dan Ece. Ketiganya datang menghampiri Shazia, pandangan mata mereka seolah bertanya apa yang terjadi.
Fulya yang melihat Zihan ada di samping Shazia sontak mendekatinya.
“Zihan, maafkan ibu sayang, a-aku ibu kandungmu.”
Zihan yang mendengar perkataan Fulya langsung menghindar kala wanita itu hendak menyentuhnya.
“Kau itu bukan ibu kandungku, kau berbohong!” teriak Zihan.
“Bagaimana kau bisa mengatakan itu pada ibu kandungmu sendiri, aku ibu kandungmu Zihan.”
“Aku tak pernah punya ibu selain mama Shazia, pergilah bibi!” teriak Zihan lagi sembari bersembunyi di belakang Shazia.
“Mama tolong usir bibi itu pergi dari sini, dia bukan ibuku.”
Tetapi Shazia hanya diam, lidahnya terasa kelu untuk berbicara.
“Shazia,” panggil Erhan.
“Shazia, kau bisa mendengar perkataan ayah?”
Shazia akhirnya sadar, dengan wajah tak percaya Shazia menyuruh wanita itu berdiri.
“Bukti ini tidak cukup meyakinkan, bisa kita mengulang tesnya?”
“Kau tidak percaya Nyonya, baiklah ayo kita tes DNA ulang, kau akan tahu kebenarannya,” balas Fulya penuh keyakinan.
Melihat Fulya penuh keyakinan semakin menggoyahkan Shazia, ia merasa Fulya akan mengambil Zihan darinya.
Bagaimana ini kalau dia benar-benar ibu kandung Zihan, apa yang akan terjadi? Apa dia akan mengambil Zihan dariku? Tidak, aku tidak akan membiarkannya. Shazia.
“Jika kau ibu kandung Zihan ayo kita bicara.”
Shazia membawa Fulya duduk di ruang tengah, sementara Zihan yang kesal langsung pergi ke lantai atas dan Ece pun mengikutinya dari belakang.
Sedang Erhan ia duduk di samping Shazia.
“Tenanglah putriku semuanya belum pasti,” ucap Erhan yang melihat kekhawatiran di wajah Shazia.
“Kau benar ibu kandung Zihan?”
Fulya mengangguk.
“Lalu apa tujuanmu datang kemari?”
“A-aku hanya ingin melihat Zihan, sungguh tidak ada yang lain.”
“Tapi sayangnya Zihan tidak ingin bertemu deganmu.”
“Tidak papa, aku tahu perasaannya, aku hannyalah wanita tak tahu diri yang baru muncul setelah sekian lama. Aku bisakah Nyonya mengizinkanku untuk kemari kapan saja?”
“Sehingga aku bisa dengan mudah bertemu Zihan.”
“Maaf, ini adalah rumah suamiku, aku tidak bisa mengizinkan untuk kemari sesuka hati.”
“Tapi jika kau ingin bertemu dengan Zihan kau bisa datang ke restoranku.”
“Benarkah, terima kasih Nyonya.”
“Sekarang pergilah aku tidak punya waktu untuk meladenimu lebih lama.”
Fulya mengangguk, “Sekali lagi terima kasih Nyonya.”
Setelah mendapat alamat restoran Shazia, Fulya segera pergi dari rumah kediaman Savas. Sedangkan Shazia ia masih duduk di sofa bersama sang ayah.
__ADS_1
Raut wajahnya masih saja menampakkan kegelisahan.
“Shazia putriku,”
“Ayah apakah yang kulakukan sudah benar? Aku tidak ingin orang mengambil Zihan dariku,”
“Shazia orang itu belum terbukti sebagai ibu kandung Zihan, siapa tahu surat yang diberikannya itu palsu.”
“Tapi wanita itu berbicara penuh keyakinan itu membuatku ragu, Ayah.”
Erhan pun memegang bahu Shazia. “Tidak ada salahnya mencoba putriku, dengan begitu semuanya akan menjadi jelas.”
Sang kepala pelayan yang sedari tadi berdiri di samping sofa pun angkat bicara.
“Nyonya Anda tidak perlu cemas, hal seperti ini bukan sekali dua kali terjadi, dan cara mereka pun sama seperti itu, nanti Anda akan melihatnya sendiri bagaimana Tuan menghadapi orang-orang seperti itu.”
“Benarkah?”
“Ya, tapi mereka tak berani untuk membawa akta kelahiran atau tes DNA, mereka hanya mengakuinya seperti wanita itu.”
“Tapi saya sangat yakin wanita itu berbohong Nyonya. Jadi jangan khawatir lebih jauh, Tuan pasti akan menyingkirkan orang sepertinya.”
Mendengar penjelasan Berkant, membuat perasaan Shazia sedikit tenang.
“Oh iya, Tuan kan ada di lantai atas, seharusnya saya memanggilnya.”
“Kau benar, aku lupa jika Taran ada di rumah. Ya, mau bagaimana lagi kita semua terpaku pada wanita itu.”
Di saat bersamaan Taran turun dari lantai atas. Ia datang menghampiri Shazia dan ayah mertuanya.
“Aku mendengar dari Ece bahwa ada keributan di lantai bawah, apa yang terjadi?”
Shazia pun mulai menceritakan Secara detail dari awal hingga akhir apa yang terjadi.
“Kenapa kalian tidak memanggilku?”
“Ya, semua orang terpaku pada wanita itu, kami lupa jika hari ini kau ada di rumah.”
“Baik, Tuan.”
“Jika aku menyuruh istriku, ingatannya cukup tumpul di saat seperti itu.”
“Oh, jadi sekarang kau menghinaku?”
“Tidak, aku berbicara tentang fakta, benarkan ayah mertua?”
Erhan mengangguk sembari tersenyum kecil.
“Oh, begitu, jadi kau bersekongkol dengan ayahku?”
“Ya, aku bersekongkol, apa yang ingin kau lakukan?”
Shazia tak mampu membalas, ia menatap sengit Taran.
Erhan semakin tertawa, “Sudah Shazia jangan memusuhi suamimu seperti itu. Tadi ayah membawakan lokum untukmu.”
Sontak mata Shazia langsung beralih menatap Erhan. “Benarkah Ayah.”
“Ya, tentu saja, ayah akan mengambilkannya untukmu,” balas Erhan yang kemudian kembali ke teras mengambil kantong belanjaannya.
Pria itu kemudian memberikan sekotak lokum untuk putrinya, “Ayah belikan di toko paling enak di kota ini.”
Shazia segera membuka kotak, “Terima kasih, Ayah, kau tahu kesukaanku,”
“Tentu saja kau kan putri, Ayah.”
“Astaga! Aku melupakan Zihan dan Ece.”
“Ayah kau duduklah di sini, ya, aku ingin menyusul mereka ke lantai atas.”
__ADS_1
Erhan mengangguk, ia kemudian duduk. Begitu pula dengan Taran, ia merasa tak enak hati meninggalkan Erhan, sehingga memilih ikut duduk dan saling berbincang dengan ayah mertuanya.
“Bagaimana kabar usahamu ayah mertua.”
“Sangat meningkat pesat, apa lagi saat kau mengiklankan kue itu di akun media sosial perusahaanmu, pembeli jadi membeludak karnanya.”
“Baguslah kalau begitu, semua bisa kembali seperti semula .”
Ini semua karna ulah ayah, dia begitu nekat membangkrutkan usaha orang dengan berita buruk demi tujuannya, jika tuan Erhan tahu yang sebenarnya dia mungkin bisa mengamuk pada Ayah. Taran.
“Terima kasih, ini semua berkat kau dan ayahmu usaha yang diinginkan mendiang ibu mertuamu bisa tetap berjalan sampai sekarang.”
Taran hanya diam tapi ia terus mendengarkan perkataan Erhan.
“Dan aku ingin membicarakan sesuatu tentang Shazia denganmu.”
“Ya, aku akan mendengarkan.”
Tampaklah raut wajah Erhan yang berubah sendu, ia merasa berat untuk berbicara tapi ia harus tetap menyampaikannya.
“Shazia dia ... Dia putri satu-satunya yang aku miliki, aku sangat menyayanginya dan mungkin karena itu aku bisa melakukan hal apa pun demi dirinya.”
“Rasanya berat mengatakan ini tapi kau harus tahu.”
Pembicaraan Erhan terputus kala Shazia kembali datang bersama Zihan dan Ece.
“Ayah apa yang kau bicarakan dengan Taran? Tampaknya seru sekali.”
“Tidak papa, ayah hanya membicarakan tentang usaha ayah.”
“Oh, begitu.”
“Ini sudah mendekati jam makan siang, ayo kita lihat apa yang di masak bibi Banou, kalian penasaran?” tanya Shazia pada dua anak kurcacinya.
“Ya, kami mau.”
“Ayah kau makan siang bersama kami kan?” tanya Shazia.
“Eh, tampaknya ayah tak bisa. Maaf ayah harus pergi sekarang, lain kali ayah tidak akan menolak.”
Raut wajah Shazia pun berubah kecewa, “Yah, Ayah, padahal seru jika Ayah ikut bergabung. “
“Benar, kenapa kakek Olive harus pergi? Kenapa tidak makan siang dulu?” tanya Zihan.
“Lain kali kakek akan makan bersama kalian, tapi sekarang kakek sibuk,”
“Baiklah Ayah, aku tidak bisa memaksamu jika sibuk, terima kasih ayah mau mengunjungiku kemari.”
...****************...
Malam harinya kala semua orang telah terlelap tidur, Shazia tampak tak bisa meminjamkan matanya, ia kemudian beranjak dan memilih duduk di balkon, bintang yang gemerlap di langit seolah mengalihkan rasa risaunya.
Ayo Shazia, kau bisa menghadapi ini, tuan Taran saja sudah melewatinya beberapa kali. Tapi entah kenapa aku masih merasa takut, bagaimana jika dia mengambil Zihan dariku? Shazia.
Taran yang saat itu tengah duduk di sofa sembari mengurus pekerjaan di laptop, sesaat menghentikan pekerjaannya untuk melihat ke mana istrinya itu pergi.
Melihat Shazia yang duduk diam di balkon membuat Taran beranjak dari duduknya. Ia melangkah mendekati sang istri yang tenggelam dalam lamunan.
Taran menepuk bahu Shazia, “Shazia.”
“Ya, ada apa?” tanya Shazia dengan suara lirih.
“Kau masih memikirkan masalah itu?”
Shazia tersenyum hampa, “Taran, bisa-bisanya kau cepat mengerti kerisauanku, biasanya tak sedikit pun kau peka.”
“Aku takut Taran, kalau-kalau tes DNA nanti menyatakan bahwa wanita itu benar-benar ibu kandung Zihan, apa yang akan dilakukannya dengan Zihan? Bisa saja dia mengambil Zihan dariku.”
“Kau tak perlu takut, bahkan jika dia benar-benar ibu kandung Zihan, dia tidak bisa melakukan apa-apa, karena ketika Zihan datang ke rumah ini, aku mengurus hak asuh Zihan dan semua berkas tentangnya.”
__ADS_1
“Dan tak akan kubiarkan seseorang mengambil putraku.”