Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Ektra Part


__ADS_3

2 tahun kemudian...


“Mama ayo cepat kita terlambat,” pinta Zihan sembari tergesa-gesa memakai jasnya.


Shazia yang tengah berdandan menatap putranya dari cermin, wanita itu tersenyum melihat tingkah putranya yang kini berusia 12 tahun.


Anak itu semakin tinggi bahkan sudah setinggi sang ibu, begitu pula dengan wajahnya semakin terlihat karisma dan ketampanan yang tak kalah seperti sang ayah.


“Tunggu sebentar Zihan, lagi pula paman dan bibimu tidak akan pergi ke mana-mana sabarlah, ya.”


“Hais, kenapa ibu-ibu selalu saja lama berdandan, tidak hanya mama, nenek pun begitu,” protes Zihan.


Shazia tertawa kecil, “Tentu saja, wanita itu kan harus tampil sempurna apa lagi di acara penting begini.”


Zihan mendesah kesal, “Ya, sudah, aku akan menunggu di bawah saja bersama kakek Erhan dan kakek Olive.”


“Ya, sayang lebih baik kau bicara dengan kakek Erhan dan kakek Olive dulu, nanti mama akan menyusul kalian di bawah.”


“Dan ya, suruh papa untuk cepat-cepat bersiap juga dia lama sekali berada di kamar mandi,” pinta Zihan.


Shazia mengangguk, “Ya, mama akan menyuruh papa agar segera bersiap.”


Zihan pun pergi dari kamar Shazia dan Taran, anak itu pergi menemui dua kakeknya yang sedang menunggu di ruang tengah. Sedangkan Shazia, ia yang telah selesai berdandan tampak beranjak dari bangku meja riasnya.


Wanita itu berputar ke kiri dan kanan untuk melihat gaun yang ia kenakan, lalu memperbaiki posisi kalung berbentuk S itu agar tepat berada di tengah-tengah. Akan tetapi tiba-tiba saja Taran memeluk sang istri dari belakang, ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Shazia.


“Untuk apa kau masih memperhatikan penampilanmu? Kau itu sudah sangat cantik,” puji Taran sembari melongok kan wajahnya di bahu sang istri.


“Taran, kau ini!”


“Kenapa? Aku berkata jujur.”


“Sudahlah jangan menggaguku, kita harus segera bersiap-siap, jika tidak ...”


“Mama, Papa, apa kalian sudah berisap-siap? Kakek dan Nenek semuanya sudah menunggu!” teriak Zihan dari luar kamar.


“Lihat putra kita sudah memanggil, cepat lepaskan pelukanmu, dan rapikan rambutmu itu,”


“Ya, ya, baiklah,” balas Taran pasrah.


Saat Zihan kembali memasuki kamar sang ayah dan ibunya, wajah anak itu berubah kesal. “Mama, Papa, apa kalian berdua sudah selesai? Sedari tadi kami hanya menunggu kalian berdua,”


“Ya, mama sudah selesai bersiap, bagaimana penampilan mama?” tanya Shazia.


“Seperti biasa mama selalu sempurna, dan mama sangat cantik memakai kalung pemberianku dulu, tapi apa mama tidak merasa bosan memakainya?”


“Zihan, ini kan hadiah pertamamu untuk mama, bagaimana mama bisa bosan memakainya?”


Zihan tersenyum, ia lalu menarik lengan sang mama untuk segera menjauh dari Taran.

__ADS_1


“Ayo, Mama, kita ke lantai bawah, jika mama terus berada di sini papa tidak akan fokus bersiap-siap dan hanya terus menggoda Mama.”


Shazia tertawa mendengar perkataan Zihan.


“Oh, jadi papa tidak boleh menggoda mamamu?” tanya Taran dengan nada bercanda.


“Tentu saja tidak mama itu kan milikku.”


“Hei, tapi yang menikah dengan Mamamu itu kan papa, jadi dia milik papa.”


“Kalau begitu mama dan papa milikku,” balas Zihan singkat sembari berjalan keluar bersama Shazia yang masih saja tertawa mendengar pertengkaran kecil ayah dan anak tersebut.


Taran yang ditinggalkan sendiri menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putra semata wayangnya itu, selalu saja menjawab perkataan mereka.


...****************...


Semua keluarga, terlihat pergi bersama ke sebuah rumah yang tak kalah mewahnya seperti kediaman Savas. Bisa dibilang kediaman Savas kedua, di mana Aergul dan Halim – adik kandung Derya, tinggal membina rumah tangganya.


Di rumah itu telah dipenuhi dengan dekorasi bunga putih dan kain berwarna senada di setiap tempat, sama seperti pernikahan Shazia, pernikahan Aynur dan Aslan juga digelar dengan sangat mewah.


“Shazia, Ayah, aku senang kalian akhirnya datang,” ucap Aynur sembari datang menghampiri ketiganya.


Shazia tersenyum ke arahnya, “Wah liat pengantin wanita kita hari ini dia sangat cantik,” puji Shazia.


“Tentu saja, aku kan selalu cantik, ya, tidak Zihan,” balas Aynur.


“Zihan kau ini, tidak bisakah memuji bibimu ini sedikit!”


Shazia dan Erhan tertawa melihat hal tersebut.


“Zihan dari pada kau mengganggu bibimu lebih baik kau bermain dengan Ece,” ucap Erhan.


“Ece, dia di sini?”


“Tentu saja aku di sini.” Balas Ece yang langsung menghampiri Zihan dan langsung menggandeng lengannya.


Anak perempuan itu juga kini semakin cantik dan selalu saja tak pernah bosan bermain dengan Zihan.


“Bibi kau sangat cantik,” puji Ece.


“Apa kau sudah siap Aynur, ayo acara akan segera dimulai,” ucap Halim pada calon menantunya.


Aynur mengangguk, ia menatap wajah Shazia dan Erhan dengan wajah khawatir.


“Entah kenapa sekarang rasanya jantungku berdegup kencang sekarang.”


“Tidak papa Aynur tenanglah, ada aku dan ayah di sini.”


“Aynur.” Sosok wanita tua memanggil pelan nama Aynur

__ADS_1


Aynur menoleh, dan senyumnya pun mengembang seketika, kala melihat ibu kandung dan dua adiknya datang. Ia segera memeluk ketiganya.


“Ibu aku senang sekali kau datang.”


“Tentu saja, masa ibu tidak datang di hari pernikahan putrinya sendiri.”


“Iya kak, masa kami tidak datang di pernikahanmu sendiri.”


Kedua adik Aynur kemudian menyalami Shazia dan Erhan.


“Terima kasih Shazia, Tuan Erhan, kalian mau menemani Aynur.” ucap sang ibu.


Erhan mengangguk, “Tidak masalah, dia juga seperti putriku sendiri.”


Setelah berbincang, Semua orang yang ada di kamar mengantarkan Aynur pada Aslan yang telah menunggunya di ruang tengah.


Saat pengantin wanita datang, dimulailah acara pernikahan tersebut yang disaksikan oleh banyak tamu, termasuk Kadriye yang datang bersama kekasihnya.


Shazia tersenyum bahagia kala melihat dua mempelai pengantin saling bertukar cincin, ia semakin erat memegang lengan Taran di sampingnya.


“Semoga kehidupan mereka bahagia.”


Selesai acara, semua keluarga pun berkumpul dan berfoto bersama di satu frame, ada Erhan sebagai pengganti sosok ayah untuk Aynur, seluruh karyawan Shazia, ibu kandung dan dua adik Aynur, Defne, Derya, Taran, Zihan, Aergul, Halim dan dua pengantin baru tentunya


“Semuanya tersenyum!” pinta sang fotografer.


‘Cekrek...!’


‘Cekrek...!’


*


*


*


*


*


Hei, balik lagi sama Kleo, di sini Kleo skalian mau promosiin novel ketiga Kleo yang berlatar di era kerajaan 😅



Yap, Ratu Yang Terbuang. Mengisahkan tentang seorang permaisuri yang sangat mencintai suaminya dan selalu mengabdi pada kekaisaran, akan tetapi cinta Calista tidak pernah berbalas, Kaisar sangat membenci Calista walaupun keduanya telah menikah selama lebih dari 10 tahun lamanya dan dikaruniai seorang anak laki-laki dari pernikahan tersebut.


Calista selalu percaya jika cintanya suatu saat akan terbalas. Hingga suatu peristiwa jatuhnya permaisuri ke kolam, karna pertengkarannya dengan selir kesayangan kaisar, telah mengubah padangan Calista akan kaisar.


Ia tak lagi mengharap cinta dari sang suami, dan hidup sesuka hatinya tanpa memedulikan peraturan Istana. Melihat perubahan Calista akankah kaisar semakin membencinya atau malah sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2