
Orang-orang yang berkabung atas meninggalnya Esmeralda – ibu kandung Shazia, satu persatu mulai terlihat meninggalkan kuburan yang masih basah itu, meninggalkan Shazia kecil dan sang ayah di sana.
“Ibu, ibu, kenapa kau meninggalkan kami? Kenapa Bu? Apa karena Shazia anak nakal ibu pergi?” tanya Anak itu di sela isak tangisnya.
“Ibu, Shazia sangat menyayangi ibu!”
Sang ayah mendekatinya, “Ayo, Nak. Ayo kita pergi,” ucap sang Ayah sembari menarik lengan putrinya.
"Tidak, Ayah, aku tidak ingin meninggalkan Ibu sendirian, kenapa kita harus meninggalkannya di sini?" Rengek Shazia.
Erhan, menatap sendu putrinya yang masih menangis, betapa hatinya begitu teriris melihat nasib putri kecilnya yang masih berusia 6 tahun itu, ia pun berlutut di hadapan sang Anak sembari memegang kedua lengannya.
“Putriku, tolong mengertilah, Nak. Ibu sudah tidak bisa bersama kita, dia sudah pergi ke tempat yang sangat indah, ibu tidak marah padamu, ibu pergi di mana dia tidak akan merasa sakit lagi,”
“Ayah berjanji padamu, Zia, ayah akan selalu menjagamu dan memberikan apa pun yang kau inginkan, dan kau akan selalu menjadi prioritas Ayah selamanya.”
Tangis Shazia semakin pecah, ia memeluk sang Ayah, Erhan pun menenangkannya dan langsung menggendong putrinya itu.
Esmeralda, aku berjanji padamu, bahwa aku akan membesarkan putri kita dengan baik, aku akan bekerja lebih keras sehingga dia tidak akan merasakan penderitaan yang sama seperti yang kita rasakan. Aku akan selalu berusaha membesarkan putri kita dengan baik Esmeralda. Erhan.
Setelah kematian istri tercintanya, Erhan mulai bekerja lebih keras dari sebelumnya, ia bertekad membuka usaha di bidang kuliner yang selama ini di impikannya bersama Esmeralda, karna itu tanpa kenal lelah Erhan terus bekerja, mengumpulkan banyak uang demi mewujudkan mimpinya itu.
Tetapi karna tekadnya, ia lupa akan Shazia yang juga membutuhkan perhatiannya, selama dirinya pergi bekerja sering kali ia menitipkan putrinya pada tetangga, beruntung tetangga Erhan memaklumi dan memperlakukan Shazia seperti putrinya.
Hanya dalam beberapa tahun, tepat ketika Shazia berusia 10 tahun. Erhan berhasil mewujudkan impiannya, usahanya di bidang kuliner maju pesat, dan ia pun membeli rumah mewah dan luas untuk dirinya dan putrinya, mereka pun pindah dari rumah kecil dan pemukiman yang padat itu.
Akan tetapi itu bukanlah awal dari kebahagiaan bagi Shazia, sang ayah makin disibukkan dengan urusan pekerjaan dan ia lebih sering ditinggalkan sendiri bersama pengasuhnya.
Shazia yang merasa di abaikan, pada akhirnya merindukan kehidupan lamanya, banyak orang yang menyayangi dan membantunya meski hidup sederhana, jauh berbeda dengan kemewahan yang membalutnya saat ini.
Hari dan bulan mulai berganti menjadi tahun, Shazia pun tumbuh besar menjadi gadis cantik, tetapi karna kurangnya perhatian dari sang Ayah, ia lebih sering membantah perkataan Erhan, semakin gadis itu bertambah usia semakin pula ia memberontak.
Ketika Shazia telah dinyatakan lulus dari universitasnya, gadis itu merasa tidak ada hari paling membahagiakan selain hari itu.
“Selamat untukmu, Zia, sayangku, kau berhasil lulus dengan predikat terbaik!” ucap sang sahabat yang langsung memeluknya.
“Kau juga, selamat untukmu, Hazan,” balas Shazia.
“Aku tidak percaya bahwa kita bisa menyelesaikan semua ini dengan baik, Hazan.”
“Ya, Shazia sungguh semuanya seperti mimpi,” balas Hazan yang mengingat betapa malasnya mereka mengerjakan tugas.
__ADS_1
“Kalau begitu untuk merayakannya bagaimana jika kita pergi bersenang-senang?”
“Itu ide yang bagus, mereka juga mengajakku untuk pergi, ayo kita pergi bersama mereka sekarang.” Wanita itu langsung menarik lengan Shazia.
Ya, keduanya adalah sepasang sahabat yang tak terpisahkan sejak duduk di bangku menengah atas. Mereka selalu saling melengkapi satu sama lain, sifat pemberontak dan keras kepala adalah label yang tak dapat di pisahkan dari mereka.
Bagaimana tidak, sejak sekolah mereka selalu membolos bersama, pergi ke kafe atau diskotek yang menurut mereka menyenangkan, dan kini sungguh suatu anugerah bagi mereka telah lulus dari universitas tepat waktu.
Shazia pun langsung merayakan hari kelulusannya saat itu juga, mereka pergi berbelanja, jalan-jalan dan menikmati makanan lezat dengan musik yang mengiringi. Kesenangan Shazia membuatnya lupa akan waktu, sejak pagi hingga tengah malam ia belum juga pulang.
Gadis itu tak mengetahui bahwa sang ayah menunggunya di rumah, Erhan menanti kepulangan putri satu-satunya itu dengan khawatir, jam yang telah menunjukkan pukul 12.00 malam membuat Erhan semakin gelisah.
“Shazia ke mana kau pergi? Tidakkah kau tahu ayah sangat menghawatirkanmu.”
‘Kriett...!’ pintu terbuka.
Menyadari kedatangan putrinya, Erhan segera berdiri dari sofa. Gadis muda yang masuk sambil menenteng tas belanjaan itu hanya menatap malas pada sosok sang Ayah yang menunggunya.
"Dari mana saja kau, Shazia!" tanya sang ayah dengan nada dingin
Shazia tampak acuh, ia bermaksud pergi ke atas tempat di mana kamarnya berada.
Shazia menghentikan langkahnya, dengan malas ia berbalik menghadap sang ayah, menatap wajah Erhan, membuatnya tertawa hampa.
"Menghormati orang sepertimu? Orang yang bahkan tak pantas di sebut ayah, bagaimana aku harus menghormatinya?"
"Shazia! Jangan bersikap kurang ajar pada ayahmu sendiri," teriak sang ayah padanya.
"Kurang ajar? Ya, aku gadis kurang ajar, dan siapa yang membuatku memiliki sifat seperti ini? Itu kau, itu kau ayah!" teriak Shazia.
"Sejak kematian mama, kau hanya mementingkan pekerjaanmu. Tanpa peduli tentang kondisiku, tanpa peduli bahwa aku membutuhkanmu. Apa pun itu tentangku, kau hanya mementingkan pekerjaanmu. Lalu sekarang? Kau ingin bersikap seperti orang tua yang menghawatirkan putrinya, sejak dulu kau saja—“
Spontan sang ayah mendaratkan tamparan di wajah putrinya, amarah benar-benar telah menguasai Erhan.
Shazia terdiam beberapa saat sembari memegangi pipinya. "Ya, tampar saja lagi. Tak peduli apa pun, aku akan selalu membencimu!" teriak Shazia.
Shazia melepas barang belanjaan di sembarang tempat, lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
“Shazia ke mana kau ingin pergi, ini larut malam!”
Shazia tak peduli akan seruan sang ayah, ia pergi dengan taksi, mengelilingi hiruk pikuk kota tanpa tujuan yang pasti, namun itu hanya sesaat sampai ia menemukan hotel yang menarik perhatiannya dan kemudian memilih berhenti di sana.
__ADS_1
Gadis itu memesan salah satu kamar dengan kartu kreditnya, namun Shazia tak serta-merta masuk ke kamar yang di pesannya itu, ia malah memilih pergi ke diskotek yang tersedia di hotel tersebut.
Shazia duduk di salah satu bangku sambil menegak minuman yang disajikan, di antara orang-orang yang terlihat menikmati musik dan berdansa ria hanya ialah yang terlihat murung dan menyendiri.
Bagaimana tidak, masalahnya dengan sang ayah berhasil membuat perasaannya porak-poranda. Ia tak lagi mementingkan beberapa banyak minuman alkohol yang telah diminum.
...****************...
Shazia terbangun, ia menggeliatkah tubuhnya yang dirasa remuk redam, matanya yang masih terasa berat untuk terbuka itu pun menatap langit-langit kamar, untuk sesaat ia masih belum menyadari apa yang terjadi, namun ketika ia menoleh ke samping, gadis itu seketika membeku, betapa terkejutnya ia melihat sesosok pria yang tidur membelakanginya itu.
Shazia pun bangkit dari tidurnya, ia tak kalah terkejut kala melihat tubuhnya tanpa sehelai kain, pakaian yang berserakan di lantai, membuatnya mengingat apa yang terjadi kemarin malam.
Perasaan Shazia semakin tak karuan kala mengingat semua itu, ia segera beranjak dari ranjang, dengan cepat ia memungut pakaian dan mengenakannya kembali. Ia tak peduli dengan pria yang masih terlelap itu, yang terpenting baginya ialah cepat pergi dari kamar hotel tersebut.
Langkahnya yang tergesa membuat Shazia tak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya di depan kamar hotel.
“Ma-af Nyonya, a-aku tak sengaja.”
Melihat penampilan Shazia yang awut-awutan wanita itu tersenyum, “tidak papa, kau juga tak sengaja,” balas wanita itu sambil menatap kamar hotel tempat Shazia baru saja keluar.
Shazia mengangguk dan meninggalkan wanita itu, tetapi wanita itu tetap saja berdiri di sana sambil memandang kepergian Shazia.
“Kasihan sekali nasibmu itu, wanita malang.”
Dengan taksi ia pulang ke rumahnya, sesampainya di tujuan keberanian Shazia ciut untuk membuka ganggang pintu, bukankah pintu ini yang selalu ia buka tanpa beban kenapa sekarang terasa menakutkan.
Pada akhirnya Shazia memberikan diri, ia membuka pintu dengan pelan, ia berharap sang ayah telah pergi bekerja tapi kenyataannya Erhan terlihat sibuk menata makanan di atas meja.
Saat netranya menangkap kehadiran Shazia, Erhan menyambut putrinya itu dengan hangat.
“Shazia kau sudah pulang, Nak. Ayo makanlah bersama, ayah sudah menyiapkan sarapan untuk kita berdua.”
“Shazia atas kejadian kemarin, ayah benar-benar meminta maaf.”
Kata-kata hangat sang Ayah menggetarkan hatinya, betapa selama ini Erhan selalu memberikan yang terbaik untuknya. Lalu sekarang ia telah menghancurkan semuanya dalam sekejap mata.
Shazia tak dapat menahan tangisnya, bulian air mulai keluar membasahi pipinya, ia tak sanggup menatap wajah ayahnya lebih lama. Wanita itu langsung berlari ke kamar.
“Shazia?”
“Shazia apa yang terjadi denganmu, Nak? Kenapa kau menangis,"
__ADS_1