Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 33 - Bibi Aergul


__ADS_3

“Terima kasih untukmu, kuharap kau tak keberatan jika nanti aku kembali berkunjung.”


“Tidak sama sekali, malahan saya akan sangat senang jika Anda kembali ke restoran saya,” balas Shazia yang mengantar kepergian Manorya sampai di ambang pintu.


Manorya tersenyum, “ Baiklah kalau begitu aku permisi, sekali lagi kuucapkan terima kasih untukmu.” Wanita itu pun berjalan memasuki mobil putih yang datang menjemputnya.


Setelah kepergian Manorya, Shazia kembali memasuki restoran di sana ia dihadang oleh Zihan dan Ece.


“Ma, kami sudah selesai mencuci,” ucap Zihan.


“Iya, Bibi, kami sudah selesai mencuci mana upah untuk kami,” timpal Ece.


“Kalian ini baru saja selesai dengan pekerjaan sudah menagih upah, baiklah kalian berdua pergilah dulu ke lantai atas, bibi akan memberikannya di sana.”


Ece dan Zihan pun menuruti perkataan Shazia, kedua anak itu segera pergi berlari ke lantai atas.


“Siapa yang lebih dulu sampai di atas, dialah pemenangnya!” teriak Ece sambil berlari menaiki tangga.


“Hei, itu tidak adil kau berlari lebih dulu,” balas Zihan yang langsung menyusul Ece.


Kala melihat Zihan dan Ece telah pergi ke lantai atas, Shazia pergi ke dapur mengambil beberapa kue dan uang dari kasir.


“Apa yang kau lakukan Shazia?” tanya Aynur yang tiba-tiba berada di belakang Shazia.


“Kau tidak lihat apa yang kulakukan tentu saja mengambil uang.”


“Untuk siapa?”


“Untuk dua anak kurcaci yang tadi sibuk mencuci,” balas Shazia.


“Oh, jadi kau ingin memberikan upah untuk mereka. Oh, iya, aku ingin bertanya hal lain, yang tadi itu perempuan yang menghampiri kita di hari pernikahanmu kan, ada urusan apa dia kemari Shazia?”


“Hmm, aku juga tidak tahu, dia tidak banyak bicara malahan aku yang lebih banyak mengajukan pertanyaan padanya, dia seperti orang yang penuh misteri.”


“Kalau begitu kau barus berhati-hati dengannya, orang yang seperti itu terkadang sangat berbahaya.”


Shazia menangguk, “Ya, sudah, kembalilah ke pekerjaanmu aku ingin pergi ke lantai atas menyusul mereka.”


Shazia pun kemudian menyusul Zihan dan Ece.


“Ini imbalan untukmu Ece,”


“Dan ini untukmu Zihan,” ucap Shazia sembari memberikan kue dan uang pada keduanya.


“Wow, kami mendapatkan uang juga, Bibi?”


“Ya, itu sebagai hasil dari jerih payah kalian.”


“Terima kasih Bibi!”


“Terima kasih, Mama.”

__ADS_1


“Ya, sama-sama untuk kalian berdua. Sekarang kalian mengerti kan bagaimana susahnya mencari uang?”


Ece mengangguk, “Ya, kita harus bekerja keras dulu untuk mendapatkannya.”


“Zihan aku ingin menemui ibuku dulu, ya, aku ingin memberikan uang ini padanya.”


Zihan mengangguk.


“Mama terima kasih, berkatmu aku bisa merasakan rasanya mendapatkan uang dari jerih payah sendiri. Sungguh ini lebih menyenangkan dari pada uang yang diberikan papa secara percuma.”


Shazia tersenyum sembari mengelus rambut putranya, “Kalau begitu simpanlah uangnya dengan baik, jika nanti sudah banyak Zihan bisa membeli barang yang di inginkan.”


Zihan mengangguk, “Ya, Mama, aku akan menabung uangnya,” balas Zihan yang menatap bangga pada uang kertas di tangannya.


“Oh, iya, Zihan, apa Zihan mengenal nyonya Manorya?”


“Em, iya, aku pernah bertemu dengannya sekali saat masih kecil, yang kudengar dialah bibi yang mengantarkan aku pada papa. Dia terlihat baik dan bersahaja, tapi entah mengapa aku merasa bibi itu sangat misterius, senyum dan tawanya yang penuh arti itu membuatku takut berada di dekatnya.”


“Tadi mama bertemu dengannya kan? Bagaimana, apa menurut mama bibi itu baik?”


“Ya, dia orang yang baik menurut mama, tapi seperti yang Zihan katakan dia sedikit misterius,” balas Shazia.


...****************...


Hari telah menjelang malam ketika Shazia dan Zihan sampai di rumah. Di sana Shazia di sambut dengan kedatangan nyonya Aergul, ibu dari Aslan. Wanita itu duduk bersantai bersama ibu mertuanya.


“Ma, aku ke lantai atas, ya,” ucap Zihan.


“Shazia ayo kemari,” panggil Defne.


Shazia pun berjalan mendekati sang ibu mertua.


“Kenalkan Shazia dia Aergul, ibunya Aslan, sekaligus menantu di keluarga Savas sama sepertiku,” Ucap Defne mengenalkan.


“Kalau begitu salam kenal Bibi, aku Shazia Altair, senang bisa bertemu denganmu.” Sembari menyodorkan tangannya.


Tapi jangankan membalas jabatan tangan Shazia, Aergul malah membuang muka, sangat tampak dari raut wajahnya, ia tak begitu menyukai Shazia.


Shazia yang merasa malu dengan perlakuan Aergul, menutupnya dengan senyuman, lalu duduk di samping ibu mertuanya.


“Aku kemari untuk melihat kakak iparku bukan menantunya.”


Mendengar itu Shazia terdiam dengan masih mempertahankan senyum.


“Sungguh kakak, bagaimana kau bisa memilih menantu secara sembarangan seperti ini,” ucap Aergul sembari menatap sinis Shazia dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Apa maksudmu, dia pilihan yang tepat untuk keluarga ini."


"Apanya yang tepat di hari pernikahannya saja di sudah mempermalukan keluarga Savas dengan sifatnya yang tak bermartabat itu."


"Sebenarnya aku tak ingin melihat wajahnya tapi apa boleh buat, dia datang saat aku berkunjung kemari."

__ADS_1


Shazia yang merasa kesal namun masih menahan emosinya itu pun akhirnya angkat bicara, "Em, baiklah jika bibi hanya ingin berbicara dengan ibu mertua, aku akan meninggalkan kalian. Dan apa bibi dan ibu mertua ingin teh, aku akan membuatnya untuk kalian."


Defne mengangguk, "Ya, jika kau tak keberatan, Shazia."


Shazia pun meninggalkan keduanya pergi ke dapur.


"Cih, padahal jelas-jelas ada pembantu, untuk apa dia harus repot-repot, sengat jelas sekali mencari muka di depan orang."


Sabar Shazia orang seperti itu perkataannya jangan dimasukkan ke hati, benar-benar bibi itu sangat berbeda dengan putranya. Shazia.


Tak berapa lama, Shazia kembali dengan membawa nampan berisi teh dan camilan, ia langsung menyajikannya di atas meja.


“Shazia, kau membuatkan kami kue juga?” tanya Defne


“Ya, sebenarnya ini kue yang aku bawa dari restoran, masih banyak di sana jadi aku membawanya pulang, sayang kan jika tak dimakan.”


“Apa! Jadi kau menghidangkan kue sisa untuk kami, apa kau tak pernah diajarkan caranya bersikap oleh ibumu!” teriak Aergul.


Deg, perkataan Aergul yang menghina membuat jantung Shazia terasa sakit.


“Dasar wanita rendahan, kau pikir bisa memperlakukan kami seperti ini!”


“Aergul, te-tenanglah apa yang membuatmu jadi begitu marah,”


“Apa yang membuatku harus tenang? Tampaknya wanita ini tak pernah dididik oleh ibunya dengan benar, oh apa karena ibunya juga wanita rendahan—“


“Cukup Nyonya!”


“Cukup Anda menghina ibuku, cukup! Aku tidak rela Anda berkata seperti itu tentang ibuku.”


“Jika memang Anda tidak ingin memakan kuenya maka tidak usah dimakan, aku tidak memaksa bibi untuk memakan kuenya kan? Salahkah aku membawa kue dari restoran, salahkah aku tak ingin membuang-buang makanan?”


“Ayahku mengajarkanku untuk tidak sedikit pun membuang-buang makanan, Bibi. Jika dari ajarannya ada yang salah katakan di mana letaknya? Jangan menyalahkan ibuku, yang sejak kecil aku telah kehilangannya, Bibi!”


“Berani sekali kau berteriak pada orang tua—“


“Ya, aku memang berani, aku akan melawan siapa saja yang menghinaku, aku tidak akan tinggal diam bibi!”


Shazia mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan karna amarah, lalu mengambil tas di sofa.


“Maaf, maafkan aku ibu mertua,” ucapnya yang kemudian pergi ke lantai atas.


“Lihatlah, kak, lihat menantu yang kau pilih itu, berani sekali dia berteriak seperti itu.”


“Aergul tenanglah, kenapa begitu tak sukanya pada menantuku? Dia anak yang baik, jangan melukai hatinya dengan perkataan yang seperti itu.”


“Oh, jadi sekarang kakak lebih memilih untuk membela menantu tak tahu diri itu?”


“Aergul bukan seperti itu. Dengar, kita berdua juga menantu di keluarga Savas, tidak bisakah kau memahami perasaannya dia baru di keluarga ini Aergul.”


Aergul mendengus kesal.

__ADS_1


__ADS_2