
Taran kemudian melepas jasnya dan memasangkannya pada Shazia, dan tanpa aba-aba pria itu langsung mendekap Shazia dalam pelukannya.
“Sekarang tenanglah, ada aku di sini.”
Shazia yang mendapat perlakuan seperti itu tentu saja terkejut, tapi ia sama sekali tak mengelak dan diam saja di pelukan Taran.
“Kenapa kau malah membelanya Taran? Dialah yang bersalah.”
“Dia itu tak pantas berada di sisimu Taran, sama seperti anak har*ammu itu, mereka berdua tak pantas ada di sisimu.”
“Yang memutuskan segalanya itu adalah aku, Kadriye. Kau tak berhak menilai orang yang menjadi istriku,” balas Taran yang masih mendekap Shazia dalam pelukannya.
“Kenapa? aku lebih dulu ada di hidupmu dari pada wanita itu.”
“Memang ada hubungan apa antara aku dan kau? Yang kutahu hubungan di antara kita hannyalah sebatas pekerjaan.”
Kadriye terdiam, ia menatap Taran yang membelakanginya. Menatap punggung yang mendekap Shazia dalam pelukannya itu membuat Kadriye ingin menangis.
“Betapa mudahnya kau mengisi hati untuk orang lain, Taran.”
“Sedangkan aku yang selalu mengucap kata cinta dari mulutku, sekali pun tak pernah kau gubris.”
“Apa kurangnya aku di matamu?”
“Jika kau benar-benar mencintai seseorang, kau akan merelakannya bahagia dengan orang lain, Kadriye,” Balas Shazia sembari melepas pelukan Taran.
“Cinta yang kau sebutkan untuk suamiku itu hannyalah obsesi. Kau tak peduli tentang kebahagiaannya, kau hanya peduli tentang kebahagiaanmu sendiri.”
“Jika kau benar-benar mencintai tuan Taran, kau seharusnya bisa mencintai putranya juga. Kau ingin mengambil sosok ayah dari seorang anak, itukah yang disebut Cinta?”
“Dengar Kadriye, andai kau sosok penyayang yang tidak hanya mencintai Taran tapi juga menyayangi Zihan, maka aku jamin sekarang bukan aku yang berada di posisi ini, tapi kau.”
“Tapi tidak Kadriye, kau malah mempermalukan keluarga Savas hanya karena suamiku menolakmu, kau menghina putra kadungnya di depan ayahnya sendiri. Jika aku yang ada di posisi Taran, maka aku sudah menamparmu berkali-kali dan menyeretmu dari sini.”
__ADS_1
“Dan satu hal yang harus kau tahu Kadriye, mau seperti apa pun kau, mau kau dijuluki wanita paling cantik di dunia ini, tetap akulah jodohnya.”
“Jadi menjauhlah dari kehidupan keluargaku.”
“Lancang sekali kau Shazia, aku ini artis terkenal, dengan kata-kataku, aku bisa membuatmu menjadi pelaku.”
Shazia tertawa, “Silakan saja, katakan apa pun yang kau inginkan di depan umum, jika kau berani maka aku akan membuat rekaman cctv yang ada di sini membongkar kebusukanmu,” balas Shazia sembari matanya menatap Cctv yang terpasang di sudut.
Seketika Kadriye terdiam, ia tidak sadar akan ada cctv.
“Dan bukan hanya itu, kau berani menggunakan kepopularitasanmu maka aku berani menggunakan kekuasaan suamiku untuk menghancurkan dirimu juga.”
“Jadi pergilah sekarang jangan pernah kau usik keluargaku, dan jangan pernah kau mendekati suamiku lagi.”
Di sisi lain, Ece yang saat itu saling berbicara dengan anak-anak lainnya terlihat didorong hingga jatuh tersungkur ke tanah.
“Pergilah dari sini kami tidak sudi bermain dengan anak miskin sepertimu!”
“Benar, jika kita bermain dengannya pasti penyakit miskinnya juga akan tertular pada kita.”
“Kau masih bertanya? Kau itu kan miskin dan tidak sepadan dengan kami.”
“Dan entah bagaimana caranya anak miskin sepertimu bisa masuk ke tempat ini.”
Salah satu dari anak perempuan yang berjumlah lima orang itu pun mendekati Ece dan menarik jepit rambutnya.
“Kau itu hanya anak pembantu tidak pantas menggunakan jepit rambut mahal seperti ini,” anak perempuan itu langsung membuang jepit rambut Ece.
“Kenapa kalian membuang ikat rambutku?” Ece berteriak sembari ingin membalas perbuatan anak perempuan itu.
Tapi empat anak-anak lainnya segera menarik lengan anak tersebut dan kembali mendorong Ece hingga ia jatuh terduduk.
“Berani sekali kau ingin mengganggunya!”
__ADS_1
“Yang mengganggu lebih dulu itu kan kalian!”
“Hei apa yang kalian lakukan dengannya!” teriak Mustafa yang berlari ke arah Ece.
Mustafa mengulurkan tangannya pada Ece, “Berdirilah Ece.”
Ece segera menerima uluran tangan Musafa dan segera berdiri. Sedangkan lima anak perempuan tersebut menatap Mustafa dengan mata berbinar.
“Mustafa ayo bermain bersama kami dan yang lainnya, tidak penting bermain dengannya,” ucap salah satu anak perempuan.
Tapi Mustafa sama sekali tak menggubris mereka, ia lebih memilih memperhatikan Ece dari atas sampai bawah.
“Tidak ada yang terluka kan Ece?”
Ece mengangguk.
“Ayo kita pergi, biarkan mereka.” Mustafa langsung menarik lengan Ece untuk segera menjauh.
Sedangkan kelima anak perempuan itu menatap tak percaya ke arah keduanya.
“Kenapa Mustafa mau saja berteman dengan anak miskin itu!”
Saat keduanya telah menjauh tiba-tiba Zihan berlari ke arah Ece dan Mustafa dengan wajah kesal.
“Hei Mustafa apa yang kau lakukan pada Ece!” Zihan langsung memegang lengan kanan Ece dan menatap sengit Mustafa.
“Kenapa kalian memperlakukan seperti tahanan begini?” tanya Ece yang melihat tangan kanannya di pegang oleh Zihan dan tangan kirinya oleh Mustafa.
“Jangan marah Zihan, Mustafa lah yang membantuku dari lima anak perempuan yang bermain bersamaku.”
“Apa yang mereka lakukan padamu?”
“Karna tahu aku hanya anak dari ibu yang bekerja di restoran mereka langsung mendorongku.”
__ADS_1
Zihan mendengus kesal, "Itulah sebabnya aku tidak pernah ingin berteman dengan anak-anak seperti itu."
"Mereka tak pernah tulus berteman dan hanya membicarakan harta."