
Setelah menaiki bianglala Shazia dan Zihan kembali berjalan-jalan mengitari taman.
“Bagaimana Zihan apa menyenangkan?”
“Ya, sangat menyenangkan! Mama, lain kali kita jalan-jalan seperti ini lagi, ya,”
“Ya, Sayang, jika akhir pekan nanti mama tak ada pekerjaan, kita pasti akan jalan-jalan lagi.”
“Eh, Shazia!” Panggil Aynur.
Shazia pun menoleh ke arah sumber suara, “Aynur kau baru datang?”
“Bibi, kau lama sekali, sejak sore kami di sini kau baru datang sekarang,” protes Zihan.
“Maafkan, Bibi, ada sedikit pekerjaan yang harus bibi selesaikan di rumah,” balas Aynur.
Shazia lalu melirik pria yang ada di samping Aynur, “Kau kemari bersama Aslan?” tanya Shazia penasaran.
“Oh tentu saja tidak aku bertemu Aslan saat ingin kemari, kebetulan kami berdua satu tujuan,”
“Iya Kakak, aku kemari untuk menemui Taran,”
“Ada apa kau mencariku, Aslan?”
Aslan mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya, “Aku ingin mengembalikan ini padamu, karena jika besok aku bisa saja terlambat memberikannya.”
Taran menyambut flashdisk tersebut, “Terima kasih Aslan.”
“Jadi kau kemari hanya untuk mengembalikan flashdisk itu Aslan?” tanya Aynur.
“Flashdisk itu sangat penting, Aynur, ada bahan untuk rapat besok.”
“Oh begitu.”
“Karena kalian juga ada di sini, bagaimana kalau kita makan malam bersama?” Ajak Shazia.
“Iya benar, paman dan bibi ikutlah bersama kami!”
“Makan malam? Aku ik—“
Aynur langsung menyela perkataan Aslan, “Ti, tidak, Shazia. A-aku dan Aslan ingin pergi ke toko buku, kalian bertiga saja,” balas Aynur cepat sembari melingkarkan tangannya di lengan Aslan.
Aslan terlihat bingung dengan sikap Aynur, “Tapi Aynur aku tidak—“
“Sudah aku tahu kau ingin sekali buku baru kan? Maka dari itu ayo kita pergi,” sahut Aynur sembari menarik lengan Aslan.
“Baiklah Shazia, Zihan, dan tuan Taran, kami pergi dulu, nikmati waktu kalian!” pamit Aynur yang terus memegang erat lengan Aslan dan memaksanya untuk pergi bersamanya.
Sedangkan sepasang suami istri dan satu anak itu masih diam dengan wajah bingung.
“Mama sejak kapan bibi Aynur dan paman Aslan dekat?” tanya Zihan yang tak hentinya memandang sang paman dan bibinya yang pergi menjauh.
“Mama juga tidak tahu Zihan, tiba-tiba saja mereka berdua jadi dekat seperti itu. Kau tahu sesuatu ayahnya Zihan?” tanya Shazia yang melirik ke arah Taran yang berada di sampingnya.
“Aku juga tidak tahu,” balas Taran singkat.
__ADS_1
“Ya, sudahlah kalau begitu. Ayo Zihan kita pergi!” Ajak Shazia.
“Ya, ayo Mama,” sahut Zihan yang memegang kembali tangan Shazia.
Di sisi lain, Aynur dan Aslan yang telah menjauh terlihat berhenti di salah satu kios. Kala itu Aslan langsung melepas tangan Aynur dari lengannya.
“Kenapa kau malah membawaku pergi Aynur?”
“Kau tidak paham situasinya Aslan? Kau sangat tidak peka, ya?”
“Mereka itu butuh waktu bersama, kita jangan mengganggu mereka. Tuan Taran dan Shazia apa kau pikir mereka saling mencintai? Bahkan mereka menikah pun tanpa mengenal lebih dalam satu sama lain.”
Seketika Aslan terdiam, ia tidak bisa mengelak perkataan Aynur yang seratus persen benar. Ia tidak lupa seperti apa Taran sebelum menikah dengan Shazia.
“Aku tidak berpikir sampai sana. Maafkan aku. “
“Kenapa minta maaf kau tidak salah, aku sengat mengerti kalau semu pria itu adalah makhluk yang sangat tidak peka.”
“Paman aku pesan dua Balik ekmek (roti ikan).” Pinta Aynur.
“Oke.” Jawab sang penjual.
“Apa yang kau pesan, Aynur?”
“Balik ekmek (roti ikan) Kau pernah memakannya?” balas Aynur.
Aslan mengingat-ingat, lalu menggeleng.
“Astaga tidak pamannya, tidak keponakannya sama saja, ya. Masa kau yang tinggal di negara ini tidak pernah merasakannya, memangnya di rumah kau selalu makan apa?”
“Ya, ya, yang pada umumnya itu makanan kelas atas kan?”
“Baiklah sekarang kau harus mencobanya bersamaku, ini salah satu makanan enak menurut versiku.”
Aynur lalu mengambil pesanan yang telah siap dan memberikan salah satunya pada Aslan.
“Sebelum di makan tekan-tekan dulu rotinya, lalu masukkan ke mulut,” ucap Aynur menginstruksi.
“Enakkan?”
“Ya, tapi ini tidak sesuai dengan seleraku,” balas Aslan sembari menggigit roti ikannya kembali.
“Ya, itu menurutmu, tapi menurutku ini enak,” sahut Aynur yang kemudian membayar pesanannya.
Wanita itu pun melangkah pergi meninggalkan Aslan, tentu Aslan tak tinggal diam ia segera mengikuti langkah Aynur.
“Kau ingin ke mana?”
“Ya, tentu saja pergi.”
“Justru itu kau ingin pergi ke mana?”
“Sama seperti yang kukatakan pada mereka tadi, aku ingin pergi ke toko buku, memangnya ada apa?”
“Boleh aku ikut bersamamu?”
__ADS_1
Aynur menghentikan langkanya, ia berbalik menatap Aslan dengan wajah penuh tanya.
“Memangnya kau suka membaca buku? Di liat-liat dari wajahmu kau itu lebih suka mempermainkan hati perempuan dari pada buku.”
“Kau itu aneh, ya Aynur, bisa-bisanya kau menilai orang lain seenaknya.”
“Ya, siapa tahu kan apa yang kukatakan benar,” balas Aynur yang kembali melanjutkan langkahnya.
Menyadari Aslan tetap mengikutinya, Aynur kembali menoleh, “kau benar-benar ingin ikut bersamaku?”
Aslan mengangguk.
“Baiklah apa boleh buat, ayo kita pergi.”
Aslan tersenyum ia mempercepat langkahnya hingga setara dengan langkah Aynur.
“Di mana toko buku yang ingin kau datangi? Kita naik mobilku saja jika jauh,”
“Aku tahu kau orang kaya Aslan, tapi kali ini kita tak perlu menaiki mobil, kita akan jalan kaki karena letak toko bukunya tidak jauh dari taman ini.”
Keduanya yang telah masuk ke toko buku terlihat sibuk memilih buku. Baik Aslan maupun Aynur keduanya tampak sibuk sendiri, tak lagi mementingkan satu sama lain.
“Aslan kau sudah menemukan buku yang kau sukai?”
“Ya, sudah.”
“Aku juga sudah, kau benar-benar menyukai buku itu?” tanya Aynur yang melihat buku di tangan Aslan.
“Ya, aku menyukai buku dari menulis ini, banyak sekali buku-bukunya yang menarik untuk dibaca.”
“Wah, aku juga menyukai buku-buku terbitan penulis itu, sungguh dia sangat hebat dalam memainkan kata.”
Setelah keluar dari toko buku, Aynur berniat untuk pulang, ia ingin segera membaca buku yang ia beli.
“Aynur kau pulang dengan apa?”
“Tentu saja jalan kaki, karena tempat tinggalku juga tidak jauh dari sini.”
“Bagaimana jika aku yang mengantarmu?”
“Tidak usah, aku bisa sendiri,” balas Aynur yang masih memandangi buku yang ia beli.
“Oh, iya, Aslan, aku punya sesuatu untukmu.” Shazia segera mengambil sesuatu dari tasnya.
“Ini untukmu Aslan, aku membuat kue ini dari cokelat yang kau berikan,” ucap Aynur sembari menyodorkan plastik berisi kue brownies pada Aslan.
“Benarkah, kalau begitu terima kasih,” balas Aslan yang menerima kue tersebut.
“Niatnya aku ingin memberikan bagian ini pada Zihan dan bagian milikmu besok, tapi melihat situasi mereka aku tidak bisa memberikannya.”
“Kau benar-benar memuat kue ini sendiri?”
“Tentu saja, aku membuatnya karna sayang jika cokelatnya hanya di makan begitu saja.”
“Baiklah, kalau begitu aku pergi, sampai jumpa lagi Aslan,” pamit Aynur yang mulai berjalan menjauh dari Aslan.
__ADS_1