
Setelah pesta Shazia dan Taran kembali ke kamar. Wanita itu segera mengambil handuk dan pergi mandi, berbeda dengan Taran yang telah berganti baju sedari tadi dan langsung bersantai di sofa sembari memainkan laptopnya.
Selesai mandi Shazia langsung duduk di samping Taran, ia berniat untuk membuka kado dari Aynur dan Aslan, juga dari beberapa pelayan di kediaman Savas.
“Wah, Aynur memberikan lokum untukku, dan lihatlah Taran, Aslan memberikanmu jam tangan baru,”
“Wah mereka memberikan benda pajangan, ini akan bagus di letakan ruang rias dan ruang tengah.”
“Bolehkan Taran, aku yang mengurus semua hadiahmu ini?” tanya Shazia.
“Ya, terserah kau saja.”
“Baiklah kalau begitu aku akan meletakkan jam ini di lemarimu,” balas Shazia yang langsung berdiri dan berjalan ke arah lemari Taran.
Shazia meletakan jam tersebut di antara jam-jam lain milik Taran. Saat meneliti lemari yang sangat rapi dan tertata itu mata Shazia tak sengaja melihat album besar di bagian bawah.
Tanpa pikir panjang Shazia mengambil album tersebut dan membawanya ke Taran.
“Taran ini foto album siapa?” tanya Shazia lagi yang kembali duduk di samping Taran.
“Bukalah maka kau akan mengetahuinya,” balas Taran yang tak sedikit pun menoleh dan tetap sibuk dengan laptopnya.
Shazia membuka Album, di dalamnya terdapat foto saat Zihan masih berusia 8 hingga 5 tahun dengan berbagai pose dan aktivitas yang dilakukannya bersama Taran.
Foto yang paling Shazia senangi ialah kala Taran mengantar Zihan bersekolah untuk hari pertamanya, di foto tersebut Zihan memegang erat lengan sang Ayah dan berjalan tanpa rasa takut.
“Betapa manisnya ini, Andai aku bisa melihatnya saat pertama kali masuk sekolah, pasti sangat menyenangkan.”
“Putraku benar-benar sangat lucu.”
“Dia memang malaikat kecil yang manis.”
Tiba-tiba dering telepon Shazia berbunyi, itu dari Aergul. Shazia segera mengangkatnya,
“Ya, bibi ada apa?”
“Apa lagi, tentu saja aku ingin bercerita denganmu.”
“Oh, bibi ingin bercerita, apa ini tentang Aslan lagi?”
__ADS_1
“Bukan ini tentang Ayahnya. Dia benar-benar sangat cuek dan tak peduli dengan sekitarnya...”
Ya, kini setelah setahun menikah, Aergul akhirnya mau menerima Shazia, semua bermula 7 bulan yang lalu, kala itu Aergul yang selalu ingin tahu ke mana perginya putranya, membuntuti Aslan yang makan siang di restoran Shazia.
Saat Aslan pergi dari restoran, Aergul lah yang kemudian masuk ke restoran Shazia, awalnya Aergul selalu menilai jelek apa pun yang ada di restoran Shazia, akan tetapi anehnya Aynur dengan mudah menaklukkan Aergul, dengan cara bicaranya yang sangat pandai ia mampu mengambil hati Aergul.
Sejak itulah Aergul jadi dekat dengan Shazia dan Aynur, ia sering kali mengunjungi restoran dan berbicara dengan mereka. Shazia sendiri pun bingung bagaimana cara Aynur menaklukkan wanita secerewet Aergul.
Ketika sambungan telepon telah berakhir, Shazia yang mengantuk memutuskan untuk tidur. Melihat Taran yang masih sibuk dengan laptop membuat Shazia datang menghampirinya.
Tanpa diduga Shazia langsung mencium pipi Taran, membuat pria itu langsung menatap wajah Shazia dengan tatapan bingung.
“Hadiah dariku untukmu, ha, ha.”
Shazia segera pergi ke tempat tidurnya tanpa memedulikan lagi jawaban atau reaksi Taran.
Keesokan harinya, Shazia memulai aktivitasnya seperti biasa, setelah semuanya beres barulah wanita itu kembali ke kamar untuk berisap-siap pergi ke restoran.
Saat Shazia melihat album d atas meja, ia mengurungkan niatnya untuk mandi.
“Aku belum habis melihat foto di album itu. Aku akan lihat sekarang.”
Ia segera mengambil album dan duduk di sofa, senyumnya kembali mengembang kala melihat foto-foto masa kecil Zihan. Tangannya terus membalik album hingga di foto Zihan yang masih bayi.
“Andai aku ada di masa itu, pasti sangat menyenangkan melihatnya tumbuh.”
Akan tetapi lagi-lagi Shazia kembali merasa pusing. Sejak jatuh dari tangga hingga kini Shazia selalu merasa pusing jika melihat benda atau tempat-tempat tertentu. Tapi anehnya kali ini Shazia merasa pusingnya lebih parah.
“Aw, kenapa kepalaku jadi semakin pusing begini?” keluh Shazia sembari memegangi kepalanya.
Shazia segera berdiri dari sofa, ia berniat untuk mengambil obat pereda sakit kepala di almari. Namun belum sepat Shazia mengambil obat di almari, tubuhnya tiba-tiba ambruk.
Wanita itu tak sanggup lagi untuk berdiri, pusing yang dirasakannya semakin hebat dan bersamaan dengan itu otaknya seolah memutar semua memori masa lalunya, dan pada akhirnya Shazia tak sadarkan diri.
Beruntung tak lama setelahnya, Taran yang kala itu masih belum berangkat ke kantor menemukan istrinya yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
“Shazia!”
“Shazia apa yang terjadi padamu?”
__ADS_1
...****************...
Shazia tersadar dari pingsannya, wanita itu menyandarkan tubuhnya dan menatap ke sekeliling, di mana ada Taran dan Erhan yang menunggunya dengan wajah cemas.
“Shazia putriku kau sudah Sadar, apa yang terjadi padamu nak?” tanya sang Ayah sembari memeluknya.
“Ayah langsung cepat-cepat kemari setelah Taran menelepon Ayah,"
Shazia tak membalas, di dalam pelukan sang Ayah ia tanpa sadar menangis.
“Kenapa kau menangis Shazia? Apa ada bagian di tubuhmu yang sakit, ” tanya Taran.
Shazia lagi-lagi tak membalas.
“Ayah aku ingin bicara berdua padamu, bisakah kau keluar dari kamar ini Taran.”
Tanpa pikir panjang Taran menyetujuinya, ia memberi kesempatan untuk ayah dan anak itu untuk bicara berdua. Saat Taran telah keluar dari kamar, Shazia menatap sendu sang ayah.
“Ayah di mana ... anakku ayah?”
“Ayah beri tahu aku apa yang terjadi padanya setelah aku kecelakaan?”
Erhan tertegun, “Apa kau sudah mengingat semuanya?”
Shazia mengangguk. “Ya, ayah aku sudah mengingat semuanya katakan padaku di mana dia?”
“A, ayah memasukkannya ke panti asuhan.”
“Kau memasukkannya ke panti asuhan, Ayah. Kenapa, hah?” tanya Shazia dengan wajah tak percaya
“Saat kau dinyatakan koma, dan dokter mengatakan tidak ada harapan hidup untukmu, apa yang bisa ayah lakukan? Ayah tidak punya pilihan lain selain membawanya ke panti asuhan.”
“Setidaknya dengan dia berada di panti asuhan, dia mendapatkan keluarga baru yang bisa menyayanginya, dari pada dia bersama seseorang yang telah gagal membesarkan seorang anak,”
Tangis Shazia semakin deras, “Kenapa kau begitu tega Ayah?”
“Maafkan ayah Shazia, saat kau sadar dari koma, ayah berniat untuk mengambilnya kembali dari panti asuhan, tapi sayang saat kau lupa ingatan.”
“Sekarang ayah bertanya padamu, apa kau akan menerima anak itu saat kau lupa ingatan.”
__ADS_1
“Ayah bukan orang bodoh yang tidak tahu sifatmu, kau akan menolak keras sesuatu yang menurutmu kau tak merasa melakukannya.”
Shazia tak dapat berkata-kata, apa yang dikatakan Erhan ada benarnya. Dengan sifatnya yang keras kepala, bisa saja ia menolak kehadiran bayinya karna lupa ingatan.