
“Be benarkah?”
“Tentu saja.”
Mendengar perkataan Manorya, Fulya ingin segera mengambil uang tersebut, tapi wanita itu kembali menatap Manorya.
“Apa yang kau inginkan dariku, kau sudah tahu kan tentang kebohonganku?”
Manorya tersenyum, “Kau wanita yang cerdas, tentu saja aku tahu kau berbohong, maka dari itu pergilah dari kehidupan keluarga Savas.”
“Aku sangat yakin uang ini lebih dari cukup, bahkan melebihi dari bayaran yang kau terima.”
Fulya tertawa kecil, “Terima kasih untuk uang gratis ini, seperti yang kau katakan aku akan pergi dari kehidupan mereka.”
Saat tangan Fulya ingin mengambil uang tersebut, Manorya menahan tangannya.
“Setelah kau mengambil uang ini, kau harus pergi ke restoran Shazia dan mengakui segala perbuatanmu juga siapa yang menyuruhmu.”
“Baiklah, aku akan menyetujuinya.”
“Kalau begitu sopirku akan langsung mengatarmu ke restoran Shazia.
Sesampainya di restoran Shazia, Fulya segera keluar dari mobil dan melihat jam di teleponnya, kala itu waktu telah menunjukkan pukul 01.22 siang. Dengan langkah gontainya itu Fulya pun berjalan memasuki restoran.
Shazia yang tengah berada di kasir sontak menatap orang yang baru masuk ke restorannya, saat tahu jika itu Fulya wajah Shazia berubah kesal, apalagi ketika Fulya datang menghampirinya.
“Nyonya sebelum aku berbicara, aku minta maaf atas apa yang kulakukan padamu.”
“Untuk apa kau minta maaf, Fulya?”
“Aku minta maaf karena selama ini telah membohongi keluarga Nyonya.”
Shazia terkejut dengan apa yang dikatakan Fulya, tapi ia merasa lebih aneh kenapa wanita itu mau mengakui perbuatannya.
Untuk sesaat Shazia terdiam menatap Fulya. “Kenapa kau bisa sejahat itu Fulya.”
“Terserah Nyonya ingin menggagapku bagaimana, tapi itulah permintaan yang aku dapatkan dari profesiku.”
“Aku akui, sangat salah mempermainkan Nyonya, tapi mau bagaimana lagi, di rumah ada lima adik yang harus aku beri makan.”
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi sehubungan ini perkerjaan terakhirku, aku akan memberitahukannya.”
“Orang yang mungkin Nyonya kenali, dan bahkan mungkin punya hubungan dengan suamimu, Nyonya.”
__ADS_1
“Siapa orangnya katakan dengan jelas padaku?”
Fulya tersenyum, “Namanya Kadriye, Nyonya.”
Mendengar itu amarahnya semakin memuncak, “Beraninya wanita itu, ternyata dia tidak menanggap serius perkataanku di pesta.”
“Berikan aku alamatnya, kau punya alamatnya Fulya.”
“Tentu ada, tapi itu tentu saja tak gratis.”
Shazia mendengus kesal, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari kasirnya.
“Sekarang berikan aku alamatnya!”
Fulya kembali tersenyum, ia mengeluarkan sebuah kertas dari tasnya.
“Ini alamatnya Nyonya.”
Setelah menerima kertas alamat, Shazia langsung mengambil kunci motor dan langsung pergi tanpa melepas celemeknya sama sekali. Aynur yang menyaksikan semuanya segera menyusul Shazia, tapi ia tak sempat mengejar ketika Shazia sudah lebih dulu memancar gas.
“Shazia!”
“Shazia kau ingin pergi ke mana, tenangkan dirimu dulu!”
Aynur kembali masuk ke restoran dan datang menghampiri Fulya yang kebetulan masih ada di sana.
“Fulya, kau tahu Shazia pergi ke mana?”
“Sepertinya dia ingin pergi ke rumah Kadriye, dia terlihat marah sekali, ya, aku tidak menyangka.” Balas Fulya dengan wajah tak bersalah.
“Aduh, bagaimana ini?” gerutu Aynur.
“Ya, aku melaporkannya pada tuan Taran saja.”
“Aduh tapi aku tidak punya nomornya.”
“Kenapa kau tidak pergi ke kantornya saja?” tanya Fulya yang masih terlihat tenang.
“Oh, itu ide yang bagus.”
“Esra, Gona, Cemile, Fusun, tolong jaga restoran, ya, aku pergi sebentar.”
“Ya, kakak pergilah biar kami yang menjaga.” Balas Gona yang juga menyaksikan semuanya
Aynur mengangguk, ia segera melepas celemek dan mengambil tasnya. Wanita itu pergi ke kantor Taran dengan taksi.
__ADS_1
Sesampainya di kantor Taran, Aynur segera pergi ke lantai atas ia tak peduli lagi dengan resepsionis yang memanggil dan mengejarnya.
Saat aku mengantarkan Zihan, kantor tuan Taran ada di lantai atas, jika aku menggunakan lift pasti resepsionis itu dengan mudah menangkapku, aku gunakan tangga saja. Aynur.
Dengan secepat kilat Aynur telah sampai ke lantai atas, ia segera memasuki ruangan Taran tanpa mengetuk pintu sama sekali. Sontak perhatian Taran dan Aslan yang sibuk bekerja itu pun menatap ke arahnya.
“tuan Taran, istrimu mengamuk!”
“Mengamuk? Kenapa Shazia mengamuk?” tanya Taran yang masih tak tahu apa pun.
“Nona Anda tidak boleh masuk sembarangan seperti itu!” tegur resepsionis yang baru saja sampai.
“Tidak papa, biarkan dia, kembalilah ke pekerjaanmu,” balas Taran pada sang resepsionis.
“Baiklah, Tuan.”
Setelah kepergian resepsionis Taran meminta Aynur untuk kembali menjelaskan apa yang terjadi. Dengan nafas tersengal, Aynur menceritakan segalanya.
“Dia pergi ke rumah Kadriye?”
“Ya, Tuan tolong kau kejar dia, Shazia dia bisa melakukan hal nekat dengan amarahnya itu, Tuan sendirikan bagaimana dia saat pertama kali bertemu dengan Tuan.” balas Aynur.
“Ya, aku tahu itu.”
“Memangnya apa yang terjadi di pertemuan pertamamu dengan kak Shazia?” tanya Aslan.
Tanpa tak membalas pertanyaan Aslan, dan melengos pergi begitu saja.
“Astaga, dia memang sangat cocok dengan kak Shazia,” gerutu Aslan mendapati pertanyaannya sama sekali tak di gubris.
“Kau tidak tahu Aslan? Zihan tidak menceritakannya padamu?”
Aslan menggeleng.
“Astaga, kau melewati cerita seru ini, ya, tidak papa aku akan menceritakannya padamu.” Aynur menoleh ke kiri dan ke kanan.
Wanita itu kemudian mengajak Aslan untuk duduk di lantai, dengan suara kecil ia mulai menceritakannya.
“Kau tahu, saat pertemuan pertama mereka tuan Taran menuduh Shazia sebagai penculik dan memberikannya uang.”
“Tapi kau tahu apa yang dilakukan Shazia, dia langsung menampar tuan Taran dan melemparkan uang yang diberikan tuan Taran padanya.”
“Benarkah!”
“Tentu saja,”
__ADS_1