Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 10. Duniaku Yang Baru


__ADS_3

Aku terbangun kaget ketika suara Abang Hafiz terdengar dekat sekali di gendang telingaku.


"Halimah bangunlah, sudah subuh" ujar Abang Hafiz membangunkanku.


Aku segera membuka mata dan bangkit menuju kamar mandi dengan setengah berlari menahan rasa gugup yang luar biasa.


"Abang sudah sholat?" tanyaku pelan pada nya sambil mengenakan mukena ku yang berwarna putih.


" Belum.. Ayo kita berjamaah" ujarnya menjawab pertanyaanku dan segera menebar sejadah di bagian depan.


Kamipun shalat subuh berjamaah untuk pertama kalinya.


Ada perasaan yang begitu haru tiba-tiba muncul di benakku ketika kami bersalaman seusai sholat.


Air mataku nyaris jatuh tak tertahan ketika Aku mencium punggung tangannya dan dengan lembut dielusnya ubun-ubunku.


Aku begitu tidak mengerti dengan perasaan yang tidak menentu ini.


" Halimah.... " panggilnya sambil mengangkat daguku.


Aku terdiam menatapnya.


Lama kami saling taap didalam bisu nya kamar.


" Menyesalkah Halimah menikah dengan Abang?" tanya nya padaku.


Aku terdiam tidak tau harus menjawab apa.


" Halimah butuh waktu Bang.. Semua terjadi begitu cepat.. Halimah janji akan berusaha jadi istri yang baik untuk abang.. Tapi Halimah mohon kasih Halimah waktu" jawabku dengan suara serak menahan tangis.


"Tentu.. Abang akan kasih waktu sampai Halimah bisa menerima Abang sepenuhnya.." jawabnya pula sambil menepuk- nepuk punggung tanganku yang diraihnya.

__ADS_1


"Makasih Bang.." jawabku lagi


Dia membalasnya dengan senyuman yang begitu manis.


Hatiku mulai meleleh.


Selesai shalat Aku segera menuju dapur untuk membantu ibu mempersiapkan sarapan pagi.


Dirumah masih ada beberapa keluarga jauh yang belum pulang kembali kekampung mereka.


Termasuk Bukde Mita saudara Ibu satu-satu nya.


Bukde Mita adalah seorang janda yang memiliki seorang anak lelaki yang seusia dengaku.


Mereka tinggal di daerah pinggiran kota yang cukup jauh dari kampung kami.


" Wahh.. Manten baru, bangun nya kok subuh sekali? dulu, swaktu Bukde sepeti kamu, Bukde bangunnya kesiangan bahkan sampai ketinggalan sholat subuhnya" ujarnya sambil tertawa mengolokku.


"Gimana tadi malam? nyenyak tidurnya? udah gk kedinginan lagi kan? udah ada yang hangatin? atau malah gk bisa tidur karena di gangguin ya? ada tangan yang nakal?" ujarnya lagi dengan ceceran pertanyaan.


" Bukde ngomong apa, Halimah tidak mengerti" jawabku singkat menahan malu,  lalu pergi meninggalkan Bukde dan kembali ke dalam kamar.


Dikamar tidak kutemui Abang Hafiz yang tadi sedang berbaring santai ketika ku tinggalkan keluar kamar..


Kamar kosong dan bahkan tempat tidur sudah tertata dengan rapi.


"Kemana Dia?"tanyaku dalam hati. Lalu segera pergi mandi.


Setelah mandi, Aku kembali kedapur dan telah kutemukan Abang Hafiz sedang duduk menikmati sarapan pagi bersama keluargaku.


Mereka tampak begitu akrab seperti sudah saling kenal sejak lama.

__ADS_1


"Hayuk kemari sarapan" ajak Ayah padaku yang berdiri terpaku.


Aku mengangguk pelan dan mendekat.


Semua saling menggeser tempat duduknya untuk memberikanku tempat duduk di samping Abang HAfiz.


Dengan canggung Aku mulai ikut sarapan bersama.


Aku mengambil segelas Air putih sebelum memulai sarapanku.


" Bagaimana tadi malam tidur kalian? nyenyak?" tanya Bukde tanpa basa-basi.


Abang Hafiz tersedak kaget.


Segera diminumnya sisa air putih digelas yang kuminum barusan.


Aku takjub melhatnya.


" Masyaallah.... Manten baru memang selalu bikin iri.. Romantis sekali..  satu gelas di pakai berdua.." ujar Bukde lagi mengolok Abang HAfiz.


"Harus begitu.. Kalau sudah jadi suami istri harus saling melengkapi dan saling berbagi agar pahala yang di dapat semakin besar" jawab Ayah pula pada kami.


Aku dan Abang Hafiz hanya bisa saling berbalas senyum malu-malu.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2