Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 31


__ADS_3

"Masyaallah Umi.. Halimah kenyang sekali Umi.. Masakan Umi memang paling the best.." ujarku memuji Ibu mertuaku didepan meja makan.


Aku begitu bahagia bisa kembali menikmati semua masakan Umi yang begitu nikmat dilidah.


Umi memang jago memasak, dulu Almarhum Abang Hafiz juga selalu memuji masakan Umi tercintanya.


"Makanya Abi tidak bisa kurus Halimah... Masakan Umi terlalu enak untuk tidak Abi nikmati.. mana mungkin Abi bisa mengontrol selera makan kalau masakan Umi seenak ini.." puji Ayah mertuaku pula pada masakan istrinya.


Aku tertawa renyah mendengar ucapan Abi.


"Itu hanya alasan Abi saja Halimah.. Padahal Umi sudah sering kali mengingatkan Abi untuk menjaga makannya.. Ingat pesan dokter.. Nanti kolestrol nya tinggi lagi loh.." kata Umi pula mencibir.


"Sesekali bolehlah ya Bi... menikmati hidup.." jawabku memberi dukungan pada Abi.


"Nah.. bener tu.." ucap Abi pula seloroh.


Kami tertawa bersama.


Umi hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.


"Ibu dan Ayah sehat Nak?" tanya Abi merubah topik pembicaraan.


"Alhamdulillah sehat Bi.. Mereka titip salam pada Abi dan Umi.." jawabku.


"Waalaikumsalam.."Jawab Umi dan Abi hampir bersamaan.


"Kita kemakam nanti sore ba'da ashar aja ya Nak, Sekarang Halimah sholat trus istirahat aja dulu.." ujar Umi pula padaku.

__ADS_1


"Baik Umi... Halimah bantu Umi bereskan makanan ini dulu ya.. Setelah Itu baru Halimah sholat" jawabku sopan.


Umi mengangguk setuju.


Abi beranjak dari kursi makan nya meninggalkanku dan Umi yang masih membersihkan sisa-sisa makan siang kami.


"Assalamualaikum.." kataku pelan ketika memasuki kamar Abang Hafiz.


Kamar yang pernah menjadi kamar pengantinku ketika Aku pertama kali sampai dirumah ini.


Air mataku kembali menetes mengingat semua kenangan-kenangan yang begitu indah di kamar ini.


Waktu itu Aku dan Abang Hafiz masih malu-malu.


Maklumlah pengantin baru dengan pernikahan tanpa pacaran.


Mataku kulai berkaca-kaca.


Foto pernikahanku yang begitu sederhana.


Wajahku terlihat jelas menunduk malu, sementara Abang Hafiz tampak mencoba tersenyum dengan wajahnya yang begitu kaku.


"Abang... Halimah rindu.." kataku mencium fotonya.


Aku menangis tersedu pelan.


Hatiku kembali teriris.

__ADS_1


Sakit.


Tapi kali ini Aku menangis bukan katena meratapi nasib, semata hanya karena kerinduanku pada almarhum suamiku.


"Abang pasti sudah bahagia di syurga kan? Mungkin Abang telah lupa pada Halimah.. Abang sudah asik menikmati syurga bersama para bidadari-bidadari yang cantik nya tidak terbandingkan.. Halimah cemburu Bang.. Halimah iri.." kataku berbicara sendiri sambil menatap foto Abang Hafiz.


Aku tersenyum dalam tangisku.


"Astagfirullah...." ucapku ketika tersadar dari lamunanku.


Aku pun beranjak segera untuk mengerjakan sholat dhuzur sebelum berbaring malas diatas ranjang yang cukup empuk untuk mengantarku pada tidur siang yang cukup panjang dengan harapan dapat bertemu abang Hafiz di dalam mimpi.


"Halimah Rindu Bang... Sangat rindu.." ucapku lirih sebelum benar- benar tertidur.


Tok Tok Tok


"Assalamualailkum Halimah... " ucap Ibu msrtua membangunkan tidurku.


"Waalaikumsalam Umi.." jawabku segera bangkit dari tidur.


"Masih tidur? Sudah sholat Ashar?" tanya Umi padaku.


"Maaf Umi.. Halimah ketiduran" jawabku malu.


Umi tersenyum dan mengangguk.


"Yasudah, segera sholat ya.. Abis itu kita pergi ziarah ke makam Hafiz.. Umi dan Abi tunggu Halimah diluar ya.." ucapnya sambil mengelus pipiku lembut.

__ADS_1


Aku pun mengangguk tersenyum.


__ADS_2