
Selesai menikmati Buah Durian, Aku dan Abang Hafiz berjalan- jalan santai menyusuri pasar yang ada dipusat kota.
Pasar yang terletak tidak jauh dari tempat kami membeli buah Durian tadi.
"Abang.. Halimah mau mampir ke apotik sebentar ya.." ucapku pada Abang Hafiz ketika kami melewati sebuah Apotik kecil.
"Mau beli apa?" tanya Abang Hafiz pula.
"Mau beli multivitamin dan minyak telon" jawab ku singkat.
"Oke.." ujarnya menyetujuiku.
Aku berjalan setengah berlari lebih cepat dari nya menuju apotik tersebut. Karena Aku tidak ingin Abang Hafiz tau kalau Aku akan membeli sebuah testpeck alat cek kehamilan.
Aku malu jika nanti ternyata hasil nya negatif, karena sebenarnya tanggal waktu datang bulan ku belumlah tiba, namun Aku penasaran dengan pertanyaan Abang Hafiz kemarin tentang kehamilanku.
Apalagi melihat tingkah Abang Hafiz yang seperti orang mengidam saja.
Selesai membeli semua yang Aku inginkan, Aku segera kembali mendekati Abang Hafiz yang sedang berdiri di toko jam tangan yang berada tepat di sebelah apotik.
"Kita beli jam couple ini mau gak?" tanya nya padaku.
"Bagus sekali Bang... Harga nya pasti mahal" jawabku pula.
"Harga nya berapa Pak?" tanya Abang Hafiz pada bapak pemilik toko.
"1,6juta Mas.. Mas nya pengantin baru ya? cocok sekali ini jam couple nya.. Saya kasih diskon deh, bayar 1,3juta aja.. gimana?" ujar Bapak penjual dengan ramahnya.
"Mahal Bang.. gak usah lah.." ujarku berbisik pada sang suami.
Dia tersenyum menatapku dalam.
" Sesekali kita beli barang mahal.. Anggap saja ini hadiah pernikahan kita..OK?" ucap Abang Hafiz membujukku.
"Baiklah jika memang Abang ingin membelinya.." jawabku pelan dan membalas senyumannya dengan senyuman termanis yang Aku miliki.
Sang bapak penjual kemudian membungkus jam pesanan Abang Hafiz.
__ADS_1
Kamipun kemudian berniat untuk pulang kembali ke pesantren.
Setelah masuk kedalam mobil Abang Hafiz memintaku membuk Jam tangan yang kami beli tadi.
Aku menuruti perintahnya.
"Bagus sekali ya.." ujarnya bahagia memamerkan jam tangan yang menempel di pergelangan tangan kirinya.
Aku mengangguk membenarkan ucapannya.
"Cantik sekali Bang... Makasih ya.. Halimah bahagia sekali.." ujarku pula padanya penuh bahagia.
Dia meraih tubuhku kedalam pelukan nya.
mencium keningku berulang kali.
"I love you" ujarnya setengah berbisik.
"I love tou too Abang.." jawabku sembari menadahkan wajahku menatap kearah matanya yang berbinar bahagia.
Aku menggeleng kuat.
"Yuk kita pulang..." ujarku pula berbalik mengajakknya.
Perlahan di jalankan nya mobil kearah jalan raya menuju jalan tol yang akan membawa kami pulang kearah pesantren.
"Abang kenapa?? Kepalanya sakit ya?" tanyaku ketika melihatkan memijit kepalanya dengan sebelah tangannya.
"Agak pusing... mungkin karena terlalu banyak makan durian tadi.." jawabnya membuatku risau.
"Kita cari rest area duluaja gimana? singgah sebentar biar Abang bisa istirahat dulu sampai kepala nya berhenti sakit" ucapku lagi memberi saran.
Dia menggeleng dan tersenyum kearahku.
"Gakpa sayang.. Tenang aja ya.. sakit nya cuma sedikit aja kok" jawabnya pula dengan mengelus bagian pipi kananku.
"Yakin?" tanyaku lagi memastikan.
__ADS_1
"Yup.." jawabnya singkat sambil mengangguk dan tetap fokus kearah depan.
"Baiklah.." ucapku pula membalasnya.
perjalanan kembali hening.
Tidak ada percakapan yang terjadi diantara kami berdua.
Bahkan suara musikpun tidak menyala.
Abang Hafiz terlihat begitu fokus menyetir sembari terus memijit bagian kepalanya uang berdenyut.
Aku semakin risau melihatnya.
"Abang menyetirnya pelan-pelan aja ya.. "ujarku lagi mengingatkannya.
Dia hanya mengangguk tanpa membalasku.
Tak jauh setelah keluar dari tol, tiba-tiba mobil keluar jalur.
"Abang...!!!" teriakku.
Abang Hafiz kaget lalu membating stir mobilnya kedalam badan jalan dan menabrak mobil sedan hitam yang melaju kencang dihadapan kami.
Aku berteriak sekuatnya memanggil suamiku.
"Abaaaaaannggg!!!!" teriakku.
Cuma itu yang Aku ingat.
Setelahnya Aku tidak sadarkan diri.
Badanku terasa sangat sakit.
Semua terlihat gelap.
Aku tidak sadarkan diri.
__ADS_1