
"Kak Halimah.." ujar Wati ketika Aku tersadar dari pingsanku.
"Halimah... Naakk..." ujar Umi pula memelukku dengan sangat khawatir.
Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Umi.
"Halimah... istigfar ya nak... Semua musibah ini adalah atas kehendak ALLAH nak.. kita tidak mampu untuk melawan takdirnya..." ucap Umi disela tangisannya.
Aku tidak menjawab sedikitpun.
Aku masih terus saja larut dalam kepedihanku yang begitu mendalam.
Samar-samar kudengan Pak Kades, Abi dan beberapa tokoh masyarakat sedang berbincang untuk segera mengubur para korban yang telah ditemukan dan telah di identifikasi sesuai dengan prosedur yang ada.
Dipimpin oleh Ayah mertuaku, Almarhum Ayah, Ibu dan para korban kemudian di sholatkan bersama para warga yang masih selamat dan para simpatisan-simpatisan yang berdatangan untuk membantu.
Pemakaman pun akhirnya selesai tepat sebelum azan Ashar berkumandang.
Dan setelah sholat Ashar, kamipun kembali kepondok dengan perasaan bercampur aduk, remuk dan redam.
Tiada satupun yang bersuara selama perjalanan.
Semua larut dalam kesedihan dan rasa lelah yang teramat sangat.
Setwlah mandi, Aku duduk bersandar di tepi ranjang ditemani wati yang masih setia disisiku.
Tubuhku terasa remuk, hati sakit, mataku perih, otakku kacau, dan perasaanku begitu hancur.
Air mataku rasanya telah habis semua tertumpah seharian ini.
__ADS_1
Tapi hatiku tetap saja terasa sangat sakit hingga rasanya untuk bernafaspun berat sekali.
"Halimah... minumlah sedikit teh hangat ini ya nak.." ujar Umi menyodorkan segelas teh hangat buatannya.
Tanpa menjawab kuteguk sedikit demi sedikit teh yang Umi berikan hingga habis tidak bersisa.
"Wati, malam ini tolong temankan Halimah dulu ya nak... Sebentar lagi azan magrib, kita sholat berjamaah dirumah saja ya.." ujar Umi pada wati dan padaku.
Wati mengangguk pelan, sementara Aku hanya diam tidak beegeming.
Umi menjadi imam sholat kami bertiga, karena Abi sholat magrib berjamaah di mesjid.
Selesai sholat, Umi memimpin doa untuk mendoakan kedua almarhum dan almarhumah orangtuaku.
Perih sekali rasanya mengaminkan setiap doa yang Umi lontarkan.
"Ya ALLAH... Terlalu tiba-tiba.. Aku tidak siap rasanya" pekik hatiku sendiri.
Dan Aku kembali menangis sejadi-jadinya dalam pelukan mereka.
Masih pukul 21.02 wib ketika Aku memutuskan untuk merebahkan tubuhnya yang terasa semakin lemah.
Sepiring nasi dengan lauk pauk yang disajikan Umi tak mampu tertelan olehku.
Bahkan air putihpun terasa sangat pahit.
Akupun tertidur diantara tangisan yang masih bersisa di kantong mataku.
Tepat pukul 3.00 wib, Aku terjaga.
__ADS_1
Kulihat Wati tidur dengan pulas disisi kiriku.
Perlahan Aku bangkit menuju kamar mandi.
Aku mengerjakan sholat tahajud ditemani lampu kuning 5 watt yang masih menyala.
Aku kembali menangis.
Membayangkan kembali wajah kedua orangtuaku yang tadi siang kulihat untuk terakhir kalinya.
Wajah yang pucat namun tampak tersenyum.
Wajah yang semasa hidup mereka berjuang demi diriku.
Wajah yang kini sudah tidak mungkin lagi dapat kulihat senyumnya.
"Ayah.. Ibu... Ampunkan dosa Halimah.. Maafkan Halimah yang belum bisa membuat Ayah dan Ibu bangga..." ucapku pelan dengan tangisan tertahan.
Aku tidak ingin tangisanku membangunkan Wati yang masih terlelap.
"Ayah.. Ibu... Masih tidak percaya rasanya... Semua terjadi terlalu cepat.. terlalu tiba-tiba... Halimah tidak siap Buk... Halkmah tidak siap Ayah..." kataku lagi.
"Ayah... Ibu... Dengan siapa lagi Halkmah bergantung kini? dengan siapa lagi Halimah bercerita? berkeluh kesah? mengadu? bermanja? mengapa kalian pergi tanpa pamit??" kataku masih berbicara sendiri.
"Halimah tidak siap Ayah... Halimah tidak siaap... Ibuuuukkk!!!" jeritku pelan dalam hati.
"Ya ALLAH... Atgfirullah..." ucapku dengan cepat untuk menguasai diri.
"Astagfirullah... Astagfirullah.. Astagfirullah.." Aku terus beristigfar dalam tangisan yg terus mengalir pula.
__ADS_1
"Ampunkan Aku ya ALLAH... Tabahkan Aku.. Ikhlaskan Aku... Lapangkan kubur kedua orangtuaku.. Ampunkan segala dosa-dosa mereka.. Jadikan mereka ahli syurga firdausmu tanpa hisab... Dan tempatkan mereka bersama dengan orang-orang yang sholeh... Orang-orang yang engkau sayangi...Aamiin ya robbal alamiin.." doaku penuh kepasrahan.