
Entah bagaimana dan jam berapa akhirnya Aku tertidur cukup pulas.
Azan subuh di mesjid kemudian membuatku terjaga.
"Ya ALLAH... Ternyata sudah subuh" kataku sangat pelan sambil mengusap wajah dan mataku.
Aku terperanjat kaget dan hampir berteriak ketika tiba-tiba tangan kekar Abang Zaky medarat tepat diatas perutku yang masih ditutupi selimut.
"Astagfirullah..." ucapku dalam hati lalu dengan pelan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Selesai sholat, Aku berdiri tepat disebelah Abang Zaky yabg masih tertidur pulas.
"Abang... "Kataku gugup mencoba membangunkannya.
"Abang... Bangun.. Sudah subuh.." kataku lagi sedikit menggoncang tubuhnya perlahan.
"Abaaanggg..." lagi kuucap dengan nada lebih keras.
Abang Zaky mulai terbangun dari tidurnya.
Dia mengernyitkan dahinya mencoba membuka mata perlahan lalu melihat kearahku.
"Sudah subuh Bang.. Bangunlah sholat.." kataku lagi menyadarkan nya.
"Hmm.." jawabnya memngangguk.
Lalu akupun meninggalkannya sendirian dikamar.
__ADS_1
Didapur kulihan Umi sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi.
"Assaalmualaikum Umi... Maaf Halimah terlambat bangun.." sapaku sembari segera membantu Umi.
"Waalaikimsalam nak.. Tidak apa sayang.. Namanya juga manten baru.. Hehe" ledek Umi terseyum kepadaku.
Akupun jadi tersipu malu.
Pagi kemudian mengantar kami duduk dimeja makan menikmati Nasi goreng kampung buatan Umi.
"Apa Halimah bisa membuat nasi goreng seperti ini?" tanya Abang Zaky memandang kerahku.
"Nasi goreng nya enak sekali... Umi pintar sekali memasakknya.." kata Abang Zaky lagi memuji masakan Umi.
"Umi memang paling jago masak nasi goreng kampung.. Ini adalah menu sarapan pagi kami setiap hari, dan tidak pernah sekalipun Abi merasa bosan.." ujar Abi pula ikut memuji masakan Umi.
Sementara Aku sedang bersiap-siap untuk pindah rumah, kerumahnya keluarga Abang Zaky.
Perasaanku saat ini benar-benar tidak menentu.
Antara sedih karena harus meninggalkan Umi dan Abi, juga rasa takut yang luarbiasa karena akan memulai hiduo yang baru bersama keluarga yang baru.
"Ya ALLAH.. Astagfirullah.." ucapku terus dalam hati sambil mengemas pakaianku kedalam koper.
Selesai berkemas, Aku duduk termenung di tepi ranjang memandang kerah sudut nakas yang berhiaskan frame foto pernikahan pertamaku dengan almarhum Abang Hafiz suamiku terdahulu.
"Abang... Halimah rindu..." kataku sembari meraih frame kedalam dekapanku.
__ADS_1
"Maafkan Halimah Bang karena tidak mampu setia sampai akhir hayat Halimah... Halimah kini telah menjadi istri seseorang Bang.. Zaky namanya.. Kami menikah bukan atas dasar cinta.. Bukan pula atas dasar paksaan... Tapi ini sebuah pengorbanan.." kataku berbicara pada foto pernikahanku dan Abang Hafiz.
" Doakan Halimah ya Bang... Semoga Halimah mampu menjadi istri dan Ibu yang baik keluarga kecil Halimah.. Semoga Halimah mampu menjadi menantu yang baik bagi mertua Halimah.. Doakan Halimah ya Bang.. Doakan semoga kelurga baru Halimah mau menerima Halimah dengan baik... Seperti Keluarga Abang... Umi dan Abi..." kataku lagi kembali memeluk frame foto dengan genangan air mata yang mulai membuncah.
"Halimah...." sapa Umi yang tanpa kusadari ternyata telah berdiri tepat di depan pintu kamarku.
"Umi..." jawabku segera menyeka air mata.
Umi mendekat lalu memelukku erat.
Aku balas memeluknya.
Dan tidak ada lagi air mata yang mampu kusembunyikan.
Aku menangis terisak dalam pelukan Umi.
Kurasakan tubuh Umi juga bergetar, menahan rasa sedih yang juga iya rasakan.
"Umi... maafkan Halimah ya... Maafkan atas segala kesalahan Halimah baik yang disengaja maupun tidak disengaja ya Umi.. Maafkan Halimah jika terkadang sering membuat Umi kesal.. Suka jahil.. Suka seenaknya... Sering membantah... Sering membuat Umi marah... Maafkan Halimah ya Umi... Halimah sayang Umi.. Sayang sekali.." kataku masih memeluk Umi.
"Terimakasih karena selalu menyayangi Halimah dengan tulus.. Selalu menjadi tempat sandaran bagi Halimah... Selalu mendukung keputusan Halimah.. Selalu memenubi semua keinginan Halimah.. Umi... Halimah sayang Umi..." ujarku lagi semakin terisak.
"Halimah... Umi juga minta maaf ya nak... Terkadang Umi sering bersikap tegas padamu.. Terimakasih karena selalu sedia menolong Umi.. Sayang sama Umi.. Dan selalu menuruti perintah Umi dan Abi.. Perxayalah nak... Umi dan Abi sangat sayang pada Halimah nak... Sampai kapanpun Halimah sudah Umj dan Abi anggap sebagai anak kandung Umi, Abi... Dan akan selalu begitu untuk selamanya.." jawab Umi melonggarkan pelukannya lalu mencium keningku lama penuh dengan kasih sayang.
Air mata nya yang hangat mendarat tepat di keningku.
Begitu tulus kasih sayang Umj untukku.
__ADS_1
"Ya ALLAH... Sehahtkan selalu Umi dan Abi.. Kutitip penjagaanku padamu ya ALLAH.. Karena mulai besok Aku sudah tidak tinggal lagi disini.. Jaga mereka ya ALLAH... Aku sangat menyayangi mereka.. amat sangat sayang.." soaku dalam hati penuh rasa pilu.