Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 13. Keluarga Baruku


__ADS_3

"Assalamualaikum Pak Man" Sapa Abang Hafiz pada seorang satpam yang berjaga tepat di depan gerbang pesantren.


'PONDOK PESANTREN AL IKHLAS'


Terbaca dengan jelas olehku tulisan nama pondok yang kini akan menjadi rumah baruku bersama Abang Hafiz.


Aku merasa gugup sekali.


"Bismillah" ucapku mencoba menenangkan hati.


Mobil berjalan pelan memasuki kawasan pesntren yang cukup luas.


Aku tertegun melihat begitu banyaknya aktifitas yang beragam dikerjakan para santriawan dan santriwati di sore hari ini.


Ada yang sedang asik bermain futsal, latihan pramuka, ada yang asik mengobrol di bawah pohon sambil memegang kitab, dan banyak lagi.


"Beginilah kegiatan para santri sore hari" ujar Abang Hafiz padaku.


"Seru ya Bang.." jawabku pula dengan sangat antusias.


Abang Hafiz mengangguk membenarkan ucapanku.


"Karena itulah Abang memilih pulang mengajar di pesantren ini dari pada tinggal di kota" ujarnya lagi.


Aku mengangguk tanda mengerti.


Kami saling berbalas senyum.


"Kita sampai" ujarnya lagi sambil memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang cukup besar dari rumah-rumah yang laindi sekitar nya.


"Ayo turun" ajaknya padaku.


Aku menuruti perintahnya untuk turun dari mobil.


"Assalamualaikum Umi..Abi.." ucap nya sambil melepaskan sepatu nya.


"waalaikumsalam" terdengar jawaban seorang wanita dari dalam rumah.

__ADS_1


"Umi.." ujar Abang hafiz lagi menyalami Umi Hafsah Ibu kandung nya.


Akupun demikian, menyalami Ibu Mertuaku lalu dibalasnya dengan sebuah pelukan hangat.


"Selamat datang di pesantren sayang.." ucapnya membelai lembut pipiku.


Aku mengangguk tersenyum bahagia karena disambut begitu hangat oleh Ibu Mertua.


"Ayo masuk.." ajak Umi menggandeng tanganku menuju ruang tamu.


"Abi mana Umi?" tanya Abang hafiz lagi pada Umi nya.


"Abi lagi mandi" jawab Umi singkat.


"Ayah dan Ibu Halimah sehat?" tanya Umi padaku.


"Alhamdulillah Umi.." jawabku pelan.


"Assalamualaikum pengantin baru.." terdengar Kyai Rifa'i menyapa kami dengan lelucon.


"untuk malam ini kalian menginap disini dulu ya Fiz.. Pulang kerumah kalian besok aja.. Lagi pula udah sore.." ujar Umi lagi pada Abang Hafiz.


"Umi mu benar Fiz.. Malam ini kalian menginap disini saja dulu, Besok baru kerumah kalian. Rumah itukan sudah satu minggu ditinggal pasti kotor dan berdebu, besok minta bantuan beberapa anak santri saja untuk membersihkan nya" ucap Ayah mertuaku pula menyambut ucapan istrinya.


"Baiklah Umi, Abi.. Hafiz dan Halimah malam ini akan menginap disini.. "jawab Abang Hafiz kemudian.


"Yaudah kalau gitu Hafiz dan Halimah bersih-bersih badan dulu ya Umi.. Abi.." ujar Abang Hafiz lagi pamit untuk kekamar.


Umi dan Abi mengangguk memberi izin.


Aku duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan beberapa foto yang terpajang di atas nakas tepat di sisis kanan ranjang.


Sepertinya dari kecil Abang Hafiz memang dididik oleh Umi dan Abi nya menjadi anak santri yang soleh, terbukti dari foto masa kecilnya yang mengenakan pakaian gamis putih senada dengan kopiahnya sambil memegang Al-Quran di dampingi oleh Umi dan Abi nya.


"Itu foto ketika Abang khatam Al-Qur'an.. Waktu itu Abang baru kelas 4 SD" Ujar Abang Hafiz mengagetkan lamunanku.


Aku kaget dan merasa malu karena kedapatan sedang mengamati wajah kecil Abang Hafiz yang memang sudah tampan sejak kecil

__ADS_1


Aku segera memalingkan wajahku dan bergegas mengambil handuk untuk mandi.


Abang Hafiz tersenyum melihat ku salah tingkah.


Setelah shalat magrib, Aku kedapur membantu Ibu mertuaku menyiapkan makan malam.


"Ini adalah makanan kesukaan Hafiz" ujarnya sembari menunjuk kearah gulai ayam yang terlihat sangat nikmat.


"Ternyata selera kami sama" bisikku dalam hati.


"Halimah bisa masak?" tanya Umi lagi padaku.


"Sedikit Umi.." jawabku malu-malu.


"Halimah jago kok masaknya Umi..." terdengar Abang HafizĀ  menimpali pertanyaan Umi nya.


"Besok-besok Umi mesti cobain masakan Halimah.. Atau kalau perlu besok pagi biar Halimah aja yang buat sarapan Umi.. Nasi goreng kampung buatan nya enak sekali.." ujar Abang Hafiz lagi memuji masakanku.


"Boleh.. Boleh.." jawab Umi tersenyum kearahku.


Aku yang malu karena dipuji segera menundukkan wajah.


Abang Hafiz yang kini berdiri tepat disampingku, dengan kilat mencium pipi kiriku di depan Umi nya.


Aku kaget terperanjat dengan perlakuannya.


Wajahku semakin memerah menahan malu.


Tapi sejujurnya hatiku jadi berbunga-bunga dibuatnya.


Umi sendiri hanya tersenyum menyaksikan nya.


Kami makan malam dengan suasana yang sangat hangat.


Aku merasa begitu bahagia dan bersyukur karena disambut dengan begitu hangat oleh keluarga Abang Hafiz.


"Bismillah.. Semoga Aku bisa dengan cepat beradaptasi dengan keluarga baruku ini ya ALLAH.. Aamiin" bsikku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2