Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 45


__ADS_3

Ucapan Rahman yang datang tiba-tiba untuk meminangku memang cukup mengagetkan.


Tapi sejujurnya untuk menjawab pinangan Rahman itu kurasa Aku tidaklah memerlukan waktu untuk berfikir.


Tentu saja Aku akan menolaknya.


Bukan karena dendamku pada keluarga nya, tapi memang karena perasaan ini sudah tidak bisa lagi untuk menerima Rahman.


Keputusan ini memang sudah bulat.


Akupun telah membicarakannya pada Umi dan Abi.


Aku meminta Abi agar bersedia menghubungi orangtua Rahman guna memberikan jawabanku atas pinangannya.


Aku tidak ingin mengulur waktu lama.


Karena Aku tidak ingin Rahman terlalu jauh berharap dan kemudian terlalu keceea pula atas sikapku.

__ADS_1


Selain meminta Abi untuk menghubingi orangtuanya, Akupun mengirimi Rahman sebuah pesan yang kuharap Rahman tidak terlalu keceea padaku.


"Assalamualaikum Rahman... Semoga Rahman dan Ibu saat ini dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kurang satu apapun.. Rahman, sebelumnya Aku mohon maaf karena harus menolak pinanganmu terhadapku. Aku sangat berterimakasih atas tujuanmu dan keinginan muliamu untuk menjadikanku pasangan hidup bagimu.. Terimakasih karena sudah sudi ingin bertanggung jawab atas hidupku yang kini telah menjadi seorang yatim piyatu. Tapi Rahman.. Aku minta maaf.. Aku tidak bisa menerima pinanganmu.. Bukan karena Aku membencimu.. Tapi hati ini yang memang tidak bisa dipaksakan.. Maafkan Aku Man.. Aku doakan semoga kelak Kamu akan mendapatkan pasangan yang terbaik untuk mu yang bisa menemanimu sampai akhir hayat. Titip salam maaf pada Ibu mu juga... Semoga ALLAH mengampuni segala dosa kita.. Dan semoga ALLAH senantiasa melindungi kita semua dimanapun kita berada. Sekali lagi maafkan Aku.. Wassalam" tulisku dalam pesan yang cukup panjang untuk Rahman.


"Semoga Rahman mengerti atas keputusan ini... Aamiin" kataku lagi di dalam hati setelah mengirim pesan padanya.


Hari-hari kulalui kini benar-benar penuh dengan kegiatan positif.


Aku kini bahkan mulai berkuliah.


Aku mengambil S1 jurusan PGTK sesuai dengan pekerjaanku saat ini.


Kuliah membuat hidupku menjadi tambah berwarna.


Aku bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik yang begitu mendukungku.


Umi, Abi, Guru² TK, anak² asrama, murid² yang luar biasa, teman² kuliah, dosen² yang baik hati dan bahkan Eyang nya Chia juga sudah kuanggap seperti Oma ku sendiri.. Beliau begitu baik padaku. Tidak jarang memberikanku hadiah maulun oleh-oleh ketika iya menjemput Chia selesai les private padaku.

__ADS_1


Tidak ada lagi nikmat ALLAH yang mampu Aku dustakan selain rasa syukur atas segala limpahan berkah yang iya berikan padaku seorang perempuan janda yatim piyatu ini.


"Halimah... Ini undangan pernikahan si mantan gebetan..." ucap Ustazah Wulan mengolok dan menyodorkanku selembar undangan pernikahan.


Aku terseyum geli mendengarnya.


Perlahan kubuka undangan sederhana berwarna merah tua yang menuliskan nama Ustad Ramli dan Amira Ramadhani sang calon istri.


"Alhamdulillah.. Akhirnya Ustad Ramli menemukan jodohnya... " ujarku ikut bahagia.


"Hmm... Siapa suruh menolak lamarannya.. Coba aja tidak di tolak, pasti yang tertulis disitu bukan Amira Ramadhani.. Tapi Halimah Nurfia.." ledek Ustazah Wulan lagi dengan gelak tawanya.


"Kak Wulan..." kataku ikut tertawa bersama Ustazah Nita juga.


"Datang gak?" tanya Ustazah Nita pula padaku.


"Insyaallah.. Nanti Halimah nebeng Umi dan Abi.." jawabku.

__ADS_1


"Kita ketemu ditempat pesta ya..." kataku lagi pada mereka yang tentunya akan datang bersama pasangan mereka masing-masing.


"Insyaallah.." jawab mereka pula hampir bersamaan.


__ADS_2